Wilfred

Wilfrid Babun

Orang mengenalnya SVD atau Serikat Sabda Allah. Sabda, itulah sebagai epicentrum pewartaannya. Kapitel general SVD yang terakhir memberi satu penegasan: our name is our mission. Satu semboyan yang elok. Tahun 2020 ini menjadi spesial, karena Serikat Sabda Allah merayakan yubileum 100 tahun di Manggarai.

Secara historis, Misi di Manggarai, Keuskupan Ruteng, mulai tahun 1920, tepatnya 23 September. Saat itu, Pater Glanemann SVD menetap di Ruteng. Stasi pertama Ruteng dibentuk tahun 1920, menyusul enam tahun kemudian stasi Rekas (1926) dan kemudian stasi Lengko Ajang (1929). Rasanya para misionaris pionir ini sudah punya instink hebat. Manggarai yang luas, pada satu waktu mekar. Faktanya memang begitu. Stasi Ruteng itu ada di Manggarai Raya (kabupaten induk); stasi Rekas di Kabupaten Manggarai Barat (UU No: 8/2003) dan Stasi lengko Ajang, menjadi bagian wilayah Kabupaten Manggarai Timur (UU No: 36/2007).

Sejarah mengatakan dengan telak bahwa, para misionaris SVD-lah yang menebarkan Sabda itu di tanah Nusa Lale. In principio errat verbum (pada mulanya adalah Sabda). Bagaimana Sabda itu “membumi?” Arnoldus Jansenn sang Pendiri mengatakan dengan sangat figuratif, “Hari-hari yang melelahkan dan menyegarkan, silih berganti” (Josef Alt SVD: Arnoldus Janssen, Hidup dan Karyanya, hlm. 256.) Relatif singkat. Tetapi, saya kira sarat makna. Lelah, karena topografi pastoral yang menantang. Lelah, karena kondisi sosial-budaya yang sederhana. Dinamika sosio-geografis ini justru menjadi pemantik untuk tetap setia. Para misionaris itu pun tetap bergairah, jalan kaki dari kampung ke kampung. Naik gunung, turun lembah dengan kuda. Brevir atau buku doa di genggaman tangan, walau tunggang kuda.

Membumi-Manggaraikan Sabda Allah memang merupakan komitmen para misionaris itu. Ben Galus dalam tulisannya “100 Tahun SVD di Tanah Manggarai Momentum Moventur Super Altare(s)” menyebut beberapa nama: Willem Back SVD (1914), Bernard Glanemann SVD (1920), Frans de Lange SVD (1920), Frans Dorn SVD (1922), Jilis Verheijen SVD (1936), Wilhem Van Bekkum SVD (1937). Tentu ada banyak nama besar lainnya yang selayaknya kita apresiasi. Menyebut nama mereka semua, pantaslah sejenak kita mengheningkan cipta! Para misionaris ini telah menjadi sejarah dan pelaku sejarah kehidupan dan peradaban Manggarai. Mereka telah berupaya menjadikan Manggarai dalam berbagai dimensinya sebagai altar korban dan altar kehidupan.

Ada proses translasi dan interpretasi serta inkulturasi Sabda secara aktual dan kontekstual di wajah nyata Manggarai. Fokusnya adalah Sabda. Lokusnya adalah totalitas Manggarai. Dan kita sangat percaya, sejarah itu tidak akan pernah membisu! Saya teringat elegi heroik dari Asrul Sani:

Ia yang hendak mencipta
menciptalah atas bumi ini
Ia kan tewas, tewaslah karena kehidupan
Kita yang mau mencipta dan akan tewas
akan berlaku untuk ini dengan cinta
Dan akan jatuh seperti permata mahkota
berderai sebutir demi sebutir.

100 tahun adalah episode perjalanan pelayanan penuh cinta (serve with truely love) para misionaris Serikat Sabda. Ada deraian keringat dan airmata. Ya, sebutir demi sebutir! Ke-Manggarai-an kita saat ini merupakan satu simbol efektivitas pelayanan kemanusiaan dan peradaban yang digagas para misionaris Serikat Sabda Allah. Benarlah tema syukur kali ini: Passion for the World, Passion to the Humanity. Mereka telah menjadi sarana rahmat yang berdaya guna. Tentu ada kohesivitas yang luar biasa dengan “Sabda yang menjelma menjadi manusia”. Sabda  yang abstrak, telah menjadi sangat akrab, mewajah dalam setiap kata dan perbuatan nyata para misionaris. Ada transformasi sosio kultur-religius yang tidak main-main. Haruslah diakui bahwa SVD telah menyumbangkan kontribusinya lebih dari cukup!

Manggarai adalah laboratorium dan sekaligus etalase inkarnasi Sabda. Satu contoh sinergisitas imperatif dialog dan pewartaan sebagai satu dimensi integral, dialektis dan komplementer dari tugas evangelisasi Gereja di Keuskupan Ruteng. Para misionaris telah sanggup memahami dan mendengarkan bersama masyarakat Manggarai tentang Yang Ilahi dalam kebudayaan lokal secara cemerlang.

Van Bekkum memperkenal inkulturasi Manggarai di forum internasional cq. Konsili Vatikan II. Verheijen dengan formulasi teologi lokal: Manggarai dan Wujud Tertinggi (Het Hoogste Wezen bij de Manggaraiers). Dapat kita katakan “semina verbi” itu terawat indah di tanah Manggarai. Saya kira, bila mengenal Manggarai kini, mestinya juga mencermati Serikat Sabda Allah dulu. 100 tahun Serikat Sabda Allah berusaha menabur dan merawat Sabda itu di tanah Songka Sae dengan sebaik-baiknya: Tempori bene serviendum est! Satu rentang waktu panjang untuk refleksi dan juga konsolidasi. Societas Verbi Divini: ad multos annos!

 

Tinggalkan Pesan