Katedral Manado (PEN@ Katolik/pcp)
Bagian dalam Katedral Manado saat ini (PEN@ Katolik/pcp)

“Setelah menempuh perjalanan lebih dari tiga bulan, akhirnya kami tiba di Minahasa. Tanggal 2 September 1920 jam 05.00 pagi saya terbangun oleh suara kesibukan di kapal. Saya melihat dari jendela kamar kapal dan melihat daratan dan pelabuhan dan saya berfikir bahwa ini pasti sudah di Manado. Saya menemui Mgr Vesters dan Pastor Klemann dan tidak dapat saya lukiskan betapa besar kegembiraan kami, karena kami telah tiba di tempat tujuan dengan selamat.”

Pastor Antonius Hermanus Gerardus Bröcker MSC, Mgr Johannes Gerardus Vesters MSC, dan Pastor Jacobus Martinus Klemann MSC adalah trio MSC yang tiba pertama di Manado,

Pastor Bröcker MSC membuat laporan itu di Majalah Annalen Belanda kira-kira sebulan sesudah mereka berada di Tomohon, Sulawesi Utara, seperti ditulis oleh Pastor Jan van Paassen dalam “Sejarah Karya MSC di Manado” halaman 89-90.

Setelah tiba di Manado, tulis Pastor Bröcker, “Kami mencari-cari apakah ada orang yang akan menjemput, tetapi kami tidak melihat jubah hitam atau muka yang kami kenal. Tetapi tiba-tiba kami mendengar orang menyapa, ‘Selamat datang di Minahasa.” Dia adalah penilik sekolah yang datang dengan rombongan siswa dari Sekolah Guru (Kweekschool) dari Woloan.

Kemudian semua berjalan lancar, lanjut Pastor Bröcker, “karena mereka sudah menyewa sebuah perahu untuk barang-barang bawaan kami dan kami juga tidak perlu mengurus bea cukai, karena semua barang dan urusan itu ditangani oleh para penjemput itu.”

Menurut imam MSC itu, para penjemput sangat senang membantu para imam itu dan bangga menerima para pastor baru. “Kami kemudian naik bendi ke pastoran Manado dan di sana sudah menunggu Pastor Anton van Velsen SJ dan Pastor Serink SJ. Mereka tidak bisa menjemput kami, karena mereka pagi itu merayakan Ekaristi.”

Sesudah perkenalan dengan kedua imam Yesuit itu, lanjut Pastor Bröcker, tiga imam MSC itu bersiap mempersembahkan Misa pertama di hari pertama mereka tiba di Manado. “Dan bisa dimaklumi bahwa ada perasaan syukur yang luar biasa di dalam hati kami kepada Allah yang melindungi perjalanan kami sehingga kami sudah tiba dengan segala baik di tanah Sulawesi ini. Kami mohon kepada Allah untuk membantu kami melanjutkan karya-karya besar yang sudah ditanamkan oleh para pastor Yesuit itu,” tegas imam itu seperti dikutip dalam buku “Sejarah Karya MSC di Manado” itu.

Setelah Misa, mereka makan pagi dan saling berbagi cerita. “Para pastor Yesuit sudah begitu lama menunggu kedatangan kami dan tidak tahu sudah sampai di mana. Namun akhirnya kami bertiga sudah tiba di Manado dengan selamat dan sehat. Kemudian dibicarakan pelbagai macam hal yang akan dilakukan dan segera diputuskan bahwa saya dan Pastor Klemann hari itu juga langsung menuju ke Tomohon untuk belajar bahasa Tombulu di bawah bimbingan Pastor Jansen SJ. Sedangkan Mgr G Vesters dan Pastor Anton van Velsen masih tinggal di Manado,” kata imam itu seperti dikutip oleh Jan van Paassen dalam buku “Karya MSC di Keuskupan Manado” halaman 91.

Demikianlah kisah sejarah hari pertama tiga MSC di Manado pagi itu. Bisa dimaklumi, Misa perdana dirayakan dengan penuh haru dan rasa syukur mendalam bahkan dengan air mata bahagia mengingat permulaan baru yang penuh harapan di tanah misi yang luas ini.

Mereka sudah bisa membayangkan besarnya Indonesia dalam perjalanan dari Batavia ke Manado dan tentu saja dari Makassar sampai Manado yang menjadi wilayah pelayanan MSC, yakni seluruh Pulau Sulawesi bahkan pulau-pulau kecil yang berdekatan, seperti  Kepulauan Sangihe-Talaud di utara, Kepulauan Banggai di tengah, dan Kepulaun Buton serta Muna di Sulawesi Tenggara. (PEN@ Katolik/Pastor Albertus Sujoko MSC)

Tinggalkan Pesan