Foto bersama pembicara, moderator dan peserta seminar "Mungkinkah Papua Tanah Damai?"
Foto bersama pembicara, moderator dan peserta seminar “Mungkinkah Papua Tanah Damai?”

Pelayan Gereja harus mampu mendengar suara jeritan orang-orang kecil yang menderita serta mampu masuk ke dalam situasi penderitaan mereka. Sebab, kehadiran sesama yang menderita merupakan wajah dan citra Allah. Seorang pelayan Gereja berani menerima resiko apapun yang akan menimpanya. Guru besar dan dosen STFT Fajar Timur Pastor Nico Syukur Diester OFM mengatakan hal itu dalam seminar sehari bertema “Mungkinkah Papua Tanah Damai?” yang ditinjau dari perspektif teologi di Seminari Tinggi Interdiosesan “Jerusalem Baru” Abepura, Jayapura, 6 November 2019. Seminar yang diikuti sekitar 150 orang itu dibuka oleh Ketua Sekolah STFT Fajar Timur Pastor Yanuarius Theofilus Matopai You Pr. Seminar dalam rangka Dies Natalis ke-52 Sekolah Tinggi Filsafat Teologi (STFT) Fajar Timur Abepura dan dilaksanakan oleh mahasiswa pasca sarjana program studi Pastoral-Teologi STFT Fajar Timur itu, mendengar masukan dari Pastor Diester OFM yang melihat wacana Papua tanah damai dari situasi ketidakadilan yang terjadi di atas tanah Papua dari sudut pandang Ajaran Sosial Gereja. Pembicara lain, dosen STFT Fajar Timur Frans Guna Langkeru melihat dari sudut pandang teologi politik dan teologi sosial dengan menegaskan “Situasi sosial dan politik yang harmonis dapat menjadikan Papua tanah yang damai,” dan Anggota DPRD Papua John NR Gobai melihatnya dari sudut pandang Teologi-Antropologi dengan menegaskan, “Papua dapat menjadi tanah yang damai apabila diadakan dialog bergaya kampung.”(PEN@ Katolik/Robby Amadeuz Hodo)

Berita Terkait:

Civitas Academica STFT Fajar Timur rayakan dies natalis dengan rekreasi di pantai

HUT ke-52 STFT Fajar Timur: Dipanggil untuk mewartakan damai

Tinggalkan Pesan