Pelayanan Penjara
Vatican Media

Paus Fransiskus mendesak adanya perubahan pandangan dan pendekatan dalam memperlakukan tahanan yang, “harus diberikan kesempatan yang sama untuk reformasi, pengembangan, dan reintegrasi.”

Paus berbicara kepada peserta konferensi internasional bertema “Pengembangan Manusia Integral dan Pendampingan Pastoral Penjara Katolik yang dilaksanakan oleh Dikasteri Vatikan untuk Peningkatan Pengembangan Manusia Integral, 7-8 November 2019.

Kepada sekitar 50 peserta konferensi itu, seperti dilaporkan oleh Robin Gomes dari Vatican News, Paus mengatakan, “Banyak kali masyarakat, dengan keputusan legalistik dan tidak manusiawi serta dibenarkan oleh dugaan mencari kebaikan dan keamanan, berupaya memisahkan dan menahan mereka yang bertindak melawan norma sosial, solusi utama untuk persoalan-persoalan hidup komunitas.”

Paus menyesalkan, sejumlah besar sumber daya publik dialokasikan untuk menekan orang yang bersalah daripada benar-benar mengupayakan pengembangan integral manusia, yang memperkecil situasi pendorong perlakuan tindakan ilegal.

Paus mengatakan, “Lebih mudah dan nyaman menekan daripada mendidik, menyangkal ketidakadilan yang ada di masyarakat daripada memberikan kesempatan yang sama untuk pengembangan semua warga negara.” Ini, kata Paus, adalah “cara terdidik untuk membuang orang.”

Paus mengamati, tempat-tempat penahanan sering gagal meningkatkan reintegrasi ke masyarakat karena mereka tidak punya sumber daya memadai dan juga karena kepadatan berlebihan yang mengubah penjara jadi tempat nyata yang disebutnya, “depersonalisasi”. Sebaliknya, reintegrasi sosial yang sesungguhnya, kata Paus, dimulai dengan menjamin peluang untuk pengembangan, pendidikan, pekerjaan layak, akses pada layanan kesehatan, serta pengadaan ruang publik untuk peranserta masyarakat.

Paus mendesak masyarakat saat ini untuk mengalahkan stigmatisasi seseorang yang telah melakukan kesalahan karena, “bukannya memberi bantuan dan sumber daya memadai untuk menjalani kehidupan bermartabat, kita terbiasa membuang orang itu bukannya berupaya agar dia, pria atau wanita, kembali kepada cinta Allah dalam hidupnya.”

Seringkali, kata Paus, seseorang yang keluar dari penjara menghadapi dunia asing yang tidak mengakuinya sebagai orang yang bisa dipercaya dan menyangkal kemungkinannya untuk bekerja demi penghidupan yang bermartabat.

Kalau menghalangi orang-orang ini mendapatkan kembali martabat sepenuhnya, Paus memperingatkan, mereka akan sekali lagi terpapar bahaya kurangnya kesempatan pengembangan, di tengah-tengah kekerasan dan ketidakamanan.

Bapa Suci mengatakan, para tahanan ini, yang telah menjalani hukuman atas kejahatan yang dilakukan, tidak boleh dikenai hukuman sosial baru dengan penolakan dan ketidakpedulian. Keengganan semacam itu, Paus memperingatkan, memaparkan mereka untuk jatuh kembali pada kesalahan yang sama.

Mengesampingkan teks bahasa Spanyolnya yang disiapkan, Paus memberikan kepada para peserta dua gambaran untuk dibawa pulang ke negara dan wilayah mereka. Pertama, kata Paus, kita tidak boleh minta tahanan membayar utang kalau kita tidak memberikan jendela kepada mereka dan tak bisa mengubah hidupnya kalau dia tidak melihat cakrawala. Paus meminta peserta untuk memastikan bahwa penjara mereka selalu memiliki jendela dan cakrawala. “Bahkan hukuman seumur hidup, yang bagi saya masih bisa diperdebatkan, harus memiliki cakrawala,” tegas Paus.

Gambaran kedua diambil dari pengalaman Paus sendiri di Penjara Devoto di kota asalnya, Buenos Aires. Di sana, Paus biasa melihat barisan panjang ibu-ibu dari para tahanan yang jadi sasaran pemeriksaan keamanan, yang seringkali memalukan. Demi anak-anak mereka, para wanita ini tidak malu dilihat semua orang. Paus mendesak agar Gereja belajar tentang keibuan dari para wanita ini, demi saudara-saudari yang ditahan ini. (PEN@ Katolik/pcp berdasarkan Vatican News)

Vatican Media
Vatican Media

Tinggalkan Pesan