Paus memberikan penghargaan kepada Pastor Paul Béré SJ dari Burkina Faso (Vatican Media)
Paus memberikan penghargaan kepada Pastor Paul Béré SJ dari Burkina Faso (Vatican Media)

Meskipun pemenang Ratzinger Prize 2019 datang dari berbagai benua dan latar belakang budaya, mereka mengajarkan bahwa teologi harus “berada dan tetap dalam dialog aktif dengan budaya,” dan selalu mencari jalan menuju Allah dan perjumpaan dengan Kristus.

Paus Fransiskus membuat pernyataan itu saat menganugerahkan Ratzinger Prize 2019 dalam upacara di Vatikan, 9 November 2019. Penghargaan Ratzinger yang diberikan oleh Yayasan Joseph Ratzinger-Benedict XVI Vatikan itu dimulai tahun 2011 untuk mengakui para sarjana yang karyanya menunjukkan sumbangan berarti bagi teologi dalam semangat Kardinal Joseph Ratzinger dari Jerman, yang menjadi Paus Benediktus XVI dan kemudian Paus Emeritus sejak Februari 2013.

Charles Margrave Taylor, filsuf Katolik dari Kanada dan profesor emeritus di Universitas McGill, mendapat kehormatan karena analisis mendalam tentang fenomena sekularisasi. Pastor Paul Béré SJ dari Burkina Faso, cendekiawan Kitab Suci yang terkenal, menjadi orang Afrika pertama yang memenangkan Hadiah Ratzinger. Secara khusus imam itu dikenal karena karyanya tentang tokoh alkitabiah Joshua, yang, menurut imam berusia 53 tahun itu, adalah sumber inspirasi bagi Gereja di Afrika, khususnya tentang transmisi nilai dari satu generasi ke generasi lainnya.

Dalam penganugerahan hadiah itu, Paus menunjukkan bahwa adalah “kewajiban bagi teologi untuk tetap berdialog dengan budaya-budaya,” meskipun budaya-budaya berubah dari waktu ke waktu dan berbeda perkembangannya di berbagai bagian dunia. Suasana itu, menurut Paus, juga diperlukan untuk vitalitas iman Kristen, untuk misi evangelisasi Gereja.

Dari perspektif ini, kata Paus, Taylor dan Pastor Beré telah memberikan sumbangan penting. Paus mengakui sumbangan Taylor terhadap pemahaman fenomena sekularisasi di zaman kita, yang kata Paus, merupakan tantangan besar bagi Gereja Katolik, bagi semua orang Kristen dan bagi semua orang yang percaya akan Tuhan.

“Beberapa sarjana saat ini,” kata Paus, “telah menimbulkan masalah sekularisasi karena luasnya visi seperti Profesor Taylor.” Dengan cermat dia menganalisis perkembangan budaya Barat, pergerakan pikiran dan hati manusia terhadap waktu, dalam suka dan duka.

Taylor, kata Paus, mengajak kita berintuisi dan mencari cara-cara baru untuk “hidup dan mengekspresikan dimensi transenden dari jiwa manusia, dimensi spiritual di mana Roh terus bekerja tanpa terasa.” Hal ini, lanjut Paus, “membuat kita bisa menghadapi sekularisasi Barat dengan cara yang tidak dangkal atau dengan keputusasaan yang cenderung fatalistik,” kata Paus.

Ketika menghormati Pastor Béré, Paus mengatakan ingin menyampaikan penghargaan dan dorongan kepada semua yang berkomitmen pada inkulturasi iman di Afrika melalui “studi original dan mendalam” mereka.

Paus ingat bahwa abad-abad pertama telah menghasilkan tokoh-tokoh besar Tertullianus, Cyprianus, Agustinus di Afrika utara, tetapi penyebaran Islam dan kolonialisme berikutnya menghalangi inkulturasi Afrika yang benar terhadap pesan Kristiani hingga paruh kedua abad terakhir. Namun, Paus menunjukkan, teologi kontemporer Afrika masih muda namun dinamis dan penuh janji.

“Pastor Béré,” kata Paus, “memberikan contoh akan hal ini dengan karyanya tentang penafsiran teks Perjanjian Lama dalam konteks budaya lisan, sehingga membuahkan pengalaman budaya Afrika.” Pastor itu juga berkomitmen membuat Sinode-Sinode yang dia ikuti, diketahui, dipahami, dan diterima dalam konteks Afrika. (PEN@ Katolik/pcp berdasarkan laporan Robin Gomes/Vatican News)

Pastor Paul Béré SJ (kiri) dan Charles Margrave Taylor (kanan) bersama Paus Fransiskus (Vatican Media)
Pastor Paul Béré SJ (kiri) dan Charles Margrave Taylor (kanan) bersama Paus Fransiskus (Vatican Media)

Tinggalkan Pesan