paus-2
Dengan ditemani Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus, KH Yahya Cholil Staquf memperlihatkan kepada Paus Fransiskus hasil Musyawarah Nasional Alim Ulama di Banjar, yang sejalan dengan Piagam Abu Dhabi yang ditandatangani Paus Fransiskus. (Foto Dokumentasi Mgr Agus)

“Prakarsa teman-teman yang dipimpin oleh KH Yahya Cholil Staquf untuk berkunjung ke Roma dan Vatikan adalah hal yang baik dan patut didukung. Di balik semua ini, terbaca kehendak baik dan kerinduan untuk merajut tali persaudaraan secara global. Hal ini sepadan dengan ajakan Paus Fransiskus dan Imam al-Tayeb dalam Dokumen Abu Dhabi untuk memajukan budaya pertemuan dan budaya dialog menuju budaya perdamaian.”

Pimpinan Desk Islam Asia pada Dewan Kepausan untuk Dialog Antarumat Beragama Pastor Markus Solo SVD mengatakan itu kepada PEN@ Katolik 27 September 2019, menanggapi kunjungan Katib Aam Syuriah PBNU yang akrab dipanggil Gus Yahya itu bersama pimpinan GP Ansor ke beberapa kantor di Vatikan dan pertemuan dengan Paus Fransiskus dalam Audiensi Umum di Lapangan Santo Petrus 25 September 2019.

Menurut Pastor Markus, pertemuan-pertemuan di Roma dan Vatikan, juga dengan Sekretaris Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama (PCID) Mgr Indunil Kodithuwakku di Vatikan, sehari sebelum bertemu Paus Fransiskus “bukan pertemuan basa-basi, tetapi membahas permasalahan bersama serta mencoba mencari solusi.”

Dalam kunjungan di Vatikan dan Roma serta pertemuan dengan Paus, Gus Yahya, yang juga Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) didampingi Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus dan Sekretaris Jenderal DPP REI Paulus Totok Lusida serta tiga imam Dominikan (OP) dari Indonesia, Pastor Johanes Robini Marianto OP, Pastor Andreas Kurniwan OP, dan Pastor Mingdry Hanafi Tjipto OP. Selain bertemu Paus, rombongan itu berkunjung ke PISAI (Institut Kepausan untuk Studi Bahasa Arab Klasik dan Islamologi), Mesjid Raya Roma, dan KBRI untuk Vatikan guna bertemu para rohaniwan Katolik Indonesia.

Dalam pertemuan dengan Paus Fransiskus, Gus Yahya menyerahkan dokumen hasil Musyawarah Nasional Alim Ulama di Banjar, Jawa Barat, 27 Februari sampai 1 Maret 2019, yang sejalan dengan Piagam Abu Dhabi yang ditandatangani 4 Februari 2019 oleh Paus Fransiskus dan Imam Besar Al Azhar Ahmed al-Tayeb.

Keputusan Munas Banjar dan Piagam Abu Dhabi itu, menurut Gus Yahya, membawa spirit humanitarian Islam yang sama dengan humanisme Kristen. Oleh karena itu, diharapkan ada kerjasama erat antara NU dan Vatikan dalam mengupayakan perdamaian dunia.

Gus Yahya menyampaikan kepada Paus rencana pertemuan para pemimpin agama seluruh dunia di Indonesia dan mengundang Paus menjadi bagian dari pertemuan itu. Paus sangat mengapresiasi dan mendoakan bangsa Indonesia dan meminta “agar mengirim surat ke Vatikan untuk kepentingan pertemuan para pemimpin agama sedunia itu.”

Menurut Gus Yahya, yang datang bersama Sekjen Abdul Rochman, tiga wakil Sekjen yakni Hasanuddin Ali, Wibowo Prasetyo, dan Rifqi Al Mubarok), serta Ketua PW GP Ansor Riau Purwaji, “Pertemuan dengan Paus Fransiskus memberi makna mendalam, baik bagi saya pribadi maupun bagi warga NU. Bertemu dengan Paus berarti bertemu dengan seluruh umat Katolik di dunia.”

Pastor Markus mengatakan, Desk Islam di Asia PCID mengapresiasi upaya NU untuk memajukan dan menghidupi Islam Nusantara yang menunjang kerukunan di dalam kemajemukan. “Budaya Indonesia tidak ditinggalkan oleh karena agama, tetapi berupaya agar keindonesian kita kuat oleh karena agama,” kata imam itu.

Dalam tukar pikiran dengan NU di kantornya, Pastor Markus berpledoi, “untuk menjadikan bangsa kita lebih rukun dan damai di masa depan, kita semua harus bekerja keras di lini pendidikan, baik pendidikan keluarga maupun formal di sekolah-sekolah, dan hal ini hendaknya didukung oleh perubahan kurikulum national dan swasta yang berorientasi pada keterbukaan anak-anak untuk menerima perbedaan-perbedaan dalam masyarakat sebagai bagian integral dari apa yang kita sebut sebuah Indonesia.”

Pastor Markus juga mengapresiasi langkah berani NU untuk menghapus ucapan kafir kepada orang tak seiman “karena memang ini berkonotasi negatif dan diskriminatif serta tidak proaktif terhadap kerukunan antarumat beragama.”

Sebagai misionaris yang sudah 12 tahun berkarya di Vatikan, Pastor Markus mengatakan, teman-teman NU berfoto bersama Paus saat audiensi di Lapangan Santo Petrus itu di luar protokol. “Meski demikian, Paus berani ‘melanggar’ protokol untuk merangkul mereka sebagai saudara. Saya jarang melihat yang begini. Yang di luar protokol, paling bisa jabat jangan dengan orang yang masih dibatasi pagar. Tetapi teman-teman NU dipanggil ke halaman luas. Sesuatu yang istimewa,” kata Pastor Markus.

I pray for you. You pray for me. We are brothers.” Itu pesan Paus saat itu. “Ini konsekuen dengan keyakinan dan upaya Paus untuk menjadikan semua umat beragama sebagai saudara seperti yang dituangkan dalam dokumen Human Fraterrnity (Persaudaraan Insani),” tegas Pastor Markus.(PEN@ Katolik/paul c pati)

NU 13
Paus Fransiskus “melanggar protokol” dalam audiensi umum untuk merangkul KH Yahya Cholil Staquf dan rombongan dari Indonesia sebagai saudara.
paus-8
Gus Yahya menyerahkan hasil Musyawarah Nasional Alim Ulama kepada Sekretaris Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama (PCID) Mgr Indunil Kodithuwakku di Vatikan
NU 4
Rombongan NU dari Indonesia berganbar bersama Sekretaris Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama Mgr Indunil Kodithuwakku (kedua dari kanan) dan Kepala Desk Asia Pastor markus Solo SVD (paling kiri), serta Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus (keempat dari kanan)
NU 9
Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus, KH Yahya Cholil Staquf , dan Imam Mesjid Roma di depan Mesjid Raya Roma
NU 8
Tiga imam Dominikan dari Indonesia bersama Pastor Markus Solo SVD dengan Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus, KH Yahya Cholil Staquf , dan Imam Mesjid Roma di depan Mesjid Raya Roma
NU 12
Di Mesjid Raya Roma
NU 1
Gus Yahya berbicara d KBRI untuk Vatikan didampingi Mgr Agustinus Agus (kanan) dan Antonius Agus Sriyono, Dubes RI untuk Vatikan (kiri) dalam pertemuan dengan pengurus IRRIKA di Roma
paus-3
Pertemuan bersama dengan pengurus para imam serta biarawan-biarawati Indonesia yang tergabung dalam IRRIKA di Roma
NU 5
Rombongan dari Indonesia didampingi Pastor Markus Solo SVD (berdiri keempat dari kanan) bergambar dengan latar belakang Basilika Santo Petrus
KH Yahya Cholil Staquf  dan  Pimpinan Desk Islam Asia dari Dewan Kepausan untuk Dialog Antar umat Beragama Pastor Markus Solo SVD
KH Yahya Cholil Staquf dan Pimpinan Desk Islam Asia dari Dewan Kepausan untuk Dialog Antar umat Beragama Pastor Markus Solo SVD

Tinggalkan Pesan