Theo Atmadi OP (PEN@ Katolik/pcp)

Theophillus Adiwiyarta Atmadi OP lahir di Semarang 29 Juli 1953. Umat Paroki Maria Kusuma Karmel Meruya, Jakarta Barat, itu sejak Retret Nasional Dominikan Awam Pertama, tahun 2013, dipilih sebagai Koordinator Nasional Persaudaraan Dominikan Awam (PDA) dan dilanjutkan pada periode berikut hingga 2019.

Peserta Retret Nasional Dominikan Awam Ketiga di Pusat Pastoral Sanjaya Muntilan (PPSM), 6-8 September 2019, yang dihadiri 140 anggota  PDA di antaranya 90 anggota yang memiliki hak pilih, memilih dia sebagai Presiden (pertama) PDA Indonesia. Meski merasa “terpaksa,” ayah dari dua anak dan suami dari Ratnawati Lidwina Wibowo OP itu menerima tugas itu dan menerima Paul C Pati dari PEN@ Katolik untuk wawancara di penghujung retret itu.

PEN@ KATOLIK: Anda baru saja dipercayakan menduduki jabatan Presiden Persaudaraan Dominikan Awam Indonesia yang pertama. Apa tanggapan Anda?

THEOPHILLUS ADIWIYARTA ATMADI OP: Dulu saya diangkat sebagai Koordinator Dominikan Awam se-Indonesia. Menurut pengetahuan saya, sebetulnya jabatan itu hanya boleh untuk dua periode. Tetapi ternyata, teman-teman memilih saya dan saya protes. Mendengar protes saya, Moderator Persaudaraan Dominikan Awam Indonesia Pastor Andreas Kurniawan OP mengatakan bahwa dulu belum chapter, artinya belum diresmikan secara kanonik. Setelah ada peresmian itu, kita mulai periode baru dan ketuanya bisa disebut Presiden Persaudaraan Dominikan Awam Seluruh Indonesia.

Tapi akhirnya Anda menerima tugas itu!

‘Terpaksa!’ Tapi dengan bantuan Tuhan serta para imam dan seluruh Keluarga Dominikan, mudah-mudahan saya bisa memberikan sesuatu kepada teman-teman, meski saya tahu masih banyak yang kurang, masih pekerjaan harus dilakukan, karena kita baru saja mulai sekitar sembilan tahun lalu.

Apa yang masih kurang?

Saya melihat bahwa kita masih kurang dalam hal prosedur, petunjuk dan panduan untuk bisa berjalan bersama. Semua itu perlu dilengkapi agar kita semua bisa bersinergi dan bekerja sama lebih baik. Dan jangan lupa, awam juga termasuk dalam Ordo Dominikan, termasuk dalam Keluarga Dominikan yang terdiri dari para imam, suster serta suster kontemplatif dan awam.

Apakah retret nasional ini membantu Anda menyelesaikan masalah yang masih ada?

Pandangan dan masukan yang diberikan para imam dalam retret ini sangat indah dan bisa mencerahkan semua peserta. Kedua pembicara, Pastor Edmund Nantes OP dan Pastor Filemon de la Cruz OP, dengan sederhana dan jelas bisa menggambarkan arti spiritualitas Dominikan dan bagaimana berdoa Rosario yang menjadi wasiat atau kekayaan Ordo Dominikan. Dengan retret ini, saya merasa bisa menjalankan tanggung jawab yang baru ini dengan dukungan doa dan dengan bantuan serta petunjuk dari Tuhan sendiri.

Anda punya target untuk tahun-tahun ke depan?

Belum! Saya akan berkumpul dulu dengan para presiden chapter yang sudah ada untuk merumuskan apa yang akan kita mulai dari apa yang ada, dan barulah setelah itu kita mencoba membentuk Pengurus Nasional dan mulai melangkah.

Apakah jumlah anggota Dominikan Awam bertambah?

Ya, berkembang cukup pesat, terutama karena Dominikan Awam memberikan langkah untuk lebih menuju kesucian dengan contoh dari para santo dan santa Dominikan. Banyak orang yang kita temui lalu mengenal para kudus itu dan tertarik menjadi anggota. Saya percaya awam untuk Dominikan ini akan masih berkembang.

Ketika terpilih sebagai koordinator enam tahun lalu jumlah anggota persaudaraan sekitar 100 orang. Kini, saat terpilih sebagai presiden, jumlah anggota 230 orang, 66 di antaranya sudah profes (kaul) kekal. Yang lain masih postulan, novis dan profes 1, 2 dan 3.

Apa yang ingin Anda laksanakan dalam waktu dekat ini?

Saya ingin konsentrasi pada formasi karena saya lihat hal itu sebagai tantangan untuk awam. Para religius jelas live in, jadi kesempatan mengolah diri jauh lebih besar, sedangkan awam hanya bisa bertemu satu atau dua kali dalam sebulan.

Mengapa formasi mendapat penekanan?

Ya, karena itu sesuai kesepakatan pertemuan para presiden chapter dan koordinator regio bulan April lalu. Saat itu kami membahas tentang formasi PDA dan kami menyepakati untuk penyeragaman formasi dan pengembangan formasi yang masih menghadapi banyak persoalan, misalnya, absensi, kedalaman topik dan keterbatasan waktu. Maka sepertinya formasi PDA pantas menjadi prioritas utama, demi menjamin kesiapan anggota.

Sebetulnya formasi menjadi tanggungjawab pribadi masing-masing, dibantu formatornya. Karena frekuensi pertemuan yang minim, maka formator mesti aktif mengingatkan dan membantu setiap formandinya. Rekomendasi dari para formator sangatlah penting dalam memutuskan penerimaan seseorang anggota ke jenjang berikutnya.

Berdasarkan rekomendasi formatorlah, dewan chapter akan membahas dan menentukan apakah calon atau formandi bisa lanjut atau mengulang. Kalau masih ada keraguan, maka bantuan Pastor Moderator atau Suster Pendamping juga bisa ikut menentukan.

Bagaimana kesiapan para formator PDA saat ini?

Ini juga masalah. Ada persoalan juga bahwa para formator PDA yang ada sekarang masih baru dan belum berpengalaman. Maka, kalau kita ingin menstandarisasi formasio PDA, tentu diperlukan juga “training for formators.”

Bagaimana masa depan Persaudaraan Dominikan Awam?

Biarlah kami berjalan menurut kehendak Tuhan. Saya percaya dengan dukungan Ordo, apalagi semakin banyak imam OP Indonesia dengan talenta bermacam-macam dan semakin banyak anggota Dominikan Awam, dengan bermacam-macam latar belakang, semua akan berjalan sesuai arah yang sudah digariskan.

Bagaimana retret nasional ketiga ini?

Ini retret yang sangat istimewa untuk kami. Bahkan, ini bukan sekedar retret, melainkan seolah-seolah merupakan kesatuan Keluarga Dominikan, karena kita ditemani empat imam OP dan delapan suster OP. Para susterlah yang menyelenggarakan retret ini dan kita awam betul-betul menikmati retret ini sebagai peserta, tanpa perlu menyiapkan apa-apa karena semua sudah disiapkan oleh para suster. Memang kita yang melakukan persiapan awal, tetapi di saat retret berjalan, semuanya disiapkan dan dilaksanakan oleh para suster dengan cara yang sungguh istimewa.

Agar semakin banyak orang masuk Dominikan Awam, apa yang akan Anda lakukan?

Kami hanya mengajak umat untuk “come and see” (datang dan lihatlah). Kalau cocok, mari bergabung. Kami hanya sekedar mengajak berdoa bersama dan merasul bersama. Tidak ada yang istimewa. Hanya karena rahmat Tuhan orang akan mengenal dan akan datang sendiri.***

Artikel Terkait:

Theo Atmadi OP terpilih sebagai presiden pertama Persaudaraan Dominikan Awam Indonesia

Dominikan Awam berproses mencapai kedewasaan iman dalam retret nasional ketiga

Theo Atmadi
Theo Atmadi OP (PEN@ Katolik/pcp)

Tinggalkan Pesan