Empat calon imam diosesan Bandung dan satu calon imam Ordo Pewarta mengungkapkan kepasrahan dan ketidakpantasan dengan tiarap di depan altar Gereja Santo Paulus Bandung, 25 Juli 2019
Empat calon imam diosesan Bandung dan satu calon imam Ordo Pewarta mengungkapkan kepasrahan dan ketidakpantasan dengan tiarap di depan altar Gereja Santo Paulus Bandung, 25 Juli 2019 (PEN@ Katolik/pcp)

“Oh Tuhan, pakailah hidupku selagi aku masih kuat. Bila saatnya nanti, ku tak berdaya lagi, hidup ini sudah jadi berkat.” Lagu berjudul “Hidup ini adalah kesempatan” yang populer, juga di antara para imam itu, kiranya melawan kecenderungan aji mumpung, upaya memanfaatkan kesempatan demi kepentingan sendiri, terutama selagi mendapat hak istimewa (privilese), saat memangku jabatan dan mengalami peningkatan status hidup.

Uskup Bandung Mgr Antonius Subianto Bunjamin OSC mengatakan itu dalam homili ritus tahbisan imam setelah mendengar pernyataan “saya hadir” oleh empat diakon diosesan Bandung, Aloysius Wahyu Endro Suseno, Thomas Andre Putranto Nursantosa, Yohanes Hario Kristo Wibowo, dan Yohanes Paulus Subroto, serta diakon Ordo Praedicatorum (Ordo Pewarta, OP) atau Ordo Dominikan, Valentinus Bayuhadi Ruseno OP.

Dalam tahbisan di Gereja Santo Paulus Mohammad Toha Bandung, 25 Juli 2019, Mgr Subianto didampingi Rektor Seminari Tinggi Fermentum Bandung Pastor RF Bhanu Viktorhadi Pr dan Perwakilan Provinsial OP Provinsi Filipina Pastor Edmund Nantes OP. Kepala Paroki Santo Paulus Bandung Pastor Paulus Wirasmohadi Soerjo Pr dan mantan Uskup Ruteng Mgr Hubertus Leteng juga mendampingi.

Gedung, halaman, dan aula gereja penuh dalam Misa yang diiringi Paduan Suara Paroki Paulus itu. Selain keluarga imam baru, undangan dan frater, nampak para suster Kongregasi Suster-Suster Santo Dominikus di Indonesia, para anggota Dominikan Awam dari berbagai keuskupan di Indonesia dan Filipina, para frater dan bruder OP dari Surabaya, para imam OP di Indonesia dan 21 imam OP yang datang dari Filipina, sehingga jumlah imam yang hadir lebih dari 160 orang.

Dengan ditahbiskan sebagai imam, kata Mgr Subianto, seseorang memiliki bobot dan status meningkat atau mendapat privilese. “Dalam keadaan itu orang bisa jatuh pada aji mumpung. Para diakon yang akan ditahbiskan menyadari godaan itu. Maka, sebagai imam mereka berkomitmen melawan aji mumpung dengan mengambil tema retret dan tahbisan, ‘Gembalakanlah kawanan domba dengan pengabdian diri’ (1 Petrus 5:2),” kata uskup.

Menurut Sekretaris Jenderal KWI itu, kadang terdengar keluhan umat karena berhadapan dengan imam yang aji mumpung, imam otoriter yang memaksakan kehendak sendiri dengan arogan. Namun, lanjutnya, tendensi aji mumpung bukan hanya soal menuntut hal-hal material seperti keamanan, kenyamanan, kelengkapan dan kemewahan, tetapi juga meminta privilese spiritual.

“Paus Fransiskus menegur para gembala aji mumpung dengan mengatakan ‘awas bahaya klerikalisme,’ yaitu kecenderungan menikmati privilese yang diperoleh karena rahmat dan martabat imamat, tetapi mengabaikan fungsi dan dedikasinya,” kata uskup.

Dalam pembicaraan pribadi dengan Mgr Subianto, setiap calon menyatakan kemauan untuk menggembalakan umat dengan lemah lembut, murah hati dan belas kasih, bukan otoriter dan semena-mena. “Persoalan terjadi saat imam mau hidup seturut kehendak sendiri, tidak sesuai wewenang, malah aji mumpung,” kata uskup yang percaya, hanya dengan terbuka kepada Roh Allah dan dekat dengan Yesus seorang imam bisa sungguh menggembalakan umat Allah dengan pengabdian diri.

Setelah menyatakan kemauan untuk menerima tugas pelayanan sebagai imam, empat diakon diosesan berjanji menghormati dan menaati Mgr Subianto dan penggantinya, dan Diakon Bayu OP berjanji menghormati dan menaati uskupnya serta para pemimpinnya. Kemudian mereka mengungkapkan kepasrahan dan ketidakpantasan dengan merebahkan diri depan altar seraya mendengar doa seluruh umat lewat perantaraan semua orang kudus dengan menyanyikan Litani Para Kudus.

Para diakon lalu ditahbiskan imam dengan penumpangan tangan Uskup Bandung dan semua imam yang hadir, didoakan dan dikenakan stola serta kasula dengan bantuan orangtua, dan diurapi tangan mereka dengan minyak Krisma.

Mewakili keluarga imam-imam baru (niomis), Agus Santosa, ayah dari Pastor Andre Nursantosa Pr, merasa hanya tinggal 50 persen memiliki imam-imam baru itu, “karena kini mereka milik Gereja.” Maka dia berharap anak-anak mereka “bisa betul melayani umat di mana pun mereka ditugaskan.”

Pastor Bhanu mengakui, orangtua harus memperoleh penghargaan sangat besar karena menjadi tanah subur tempat tumbuh benih panggilan para calon imam yang sekarang menjadi imam. “Mereka datang dari aneka macam daerah, dari seminari menengah dan seminari jalanan. Ada yang hanya mampir, ketagihan dan minta tinggal di seminari selama sembilan tahun lalu ditahbiskan. Tapi, bukan karena seminari tetapi karena keluarga yang pertama menjadi tanah yang baik, tanah subur bagi benih panggilan,” kata imam itu.

Pastor Bhanu meminta umat mencari pengganti bagi para mantan seminaris atau frater dari Seminari Tinggi Fermentum dan seminari OP, yang kehilangan frater yang menjadi imam itu. “Tugas umat adalah mencari gantinya, lima atau lebih untuk dimasukkan ke seminari atau biara,” kata imam itu seraya berharap tahbisan hari itu menggerakkan hati kaum muda untuk menjadi imam dan hati orangtua untuk mengikhlaskan anak-anaknya menjadi imam dan biarawan-biarawati.

Pastor Nantes OP asal Filipina, yang kini Rektor Seminari Tinggi Antarkeuskupan Antonino Ventimiglia Pontianak, pertama datang di Bandung tahun 2004 sebagai provincial OP Flipina untuk melihat kemungkinan tempat berkarya para imam OP di Indonesia.

“Tapi Tuhan menuntun langkah kami ke Keuskupan Agung Pontianak dan Keuskupan Surabaya, di mana sekarang kami berkarya dan Tuhan menghendaki Pastor Bayu sebagai pastor Dominikan pertama di Keuskupan Bandung dan kelima dari Indonesia” Dominikan Provinsi Filipina, kata Pastor Nantes seraya mengingatkan Pastor Bayu untuk mewartakan Injil bukan hanya di satu keuskupan tetapi di mana pun di dunia.

Dalam sambutannya Pastor Wirasmohadi mengingatkan para niomis di kala susah dan banyak beban bahwa “ada banyak umat dan imam yang mendukung kalian” dan berharap tahbisan meriah itu menuntun para imam baru “menjadi semakin kudus, bukan hanya tampaknya, tapi dalam seluruh kehidupan.”

Mewakili para imam baru, Pastor Yohanes Subroto Pr mengakui mereka “orang biasa, berdosa, rapuh, dan penuh kelemahan, yang sadar bahwa imamat suci adalah anugerah dan kasih Allah semata, yang kami capai berkat doa orang-orang terkasih yang beri kami cinta, perhatian, dukungan dan doa restu.”

Pastor Aloysius Wahyu Endro Suseno Pr, yang ditempatkan di Paroki Buah Batu Bandung, Pastor Thomas Andre Putranto Nursantosa Pr di Paroki Martinus Balai Berkuak (Keuskupan Ketapang), Pastor  Yohanes Hario Kristo Wibowo Pr di Paroki Pamanukan, dan Yohanes Paulus Subroto Pr di Paroki Mohamad Toha Bandung, serta Pastor Valentinus Bayuhadi Ruseno OP di Rumah Santo Thomas Aquinas Surabaya, lalu menyanyikan lagu terima kasih dan memberikan berkat pertama mereka.

Sebelum pulang, Pastor Markus Gunadi OFM mengatakan kepada PEN@ Katolik bahwa dia baru saja menyaksikan kebersamaan dan kesatuan luar biasa dalam Gereja saat menyatu para imam dengan suster dan bruder dari beberapa tarekat serta umat awam. “Sebuah pengalaman iman.”

Pakde dari Pastor Bayu OP itu mengingatkan agar Pastor Bayu mengikuti semangat pendiri. “Kalau itu diikuti, akan menjadi kekuatan dalam mengikuti Kristus dan menjadi saksi-Nya seturut teladan Santo Dominikus,” kata Pastor Gunadi yang percaya kalau para imam OP “tetap tekun menanggapi kebutuhan iman umat, mereka bisa berkembang di Indonesia, dalam arti bisa menghadirkan Kristus, dan bisa diikuti oleh banyak orang.”

Misa tahbisan dan ramah tamah sudah usai. Semua kembali menjalankan tugas masing-masing, sementara para niomis sedang merayakan Misa Perdana, sambil mengingat  kisah, yang diceritakan Mgr Subianto.

“Alkisah, seorang frater, yang sedang Tahun Orientasi Pastoral, bertemu seorang bapak dan melihat handphone bagus bapak itu. Dia berkata, ‘Pak, handphone bagus’. ‘O, iya Frater, baru.’ Tidak ada efek apa-apa. Sebulan kemudian frater yang sudah jadi imam itu melihat lagi bapak itu yang sudah mengganti handphone. ‘Pak, handphone bagus’. Lalu bapak itu menjawab, ‘Iya Romo. Baru. Romo mau?’ Ada efek. Hanya beda sebulan kata-kata yang sama efeknya berbeda. Ada bobot, ada status yang lain. Maka, hati-hati bicara, hati-hati omong. Karena ada bobot tertentu yang didapat dari rahmat tahbisan dan privilese.”(PEN@ Katolik/paul c pati)

Artikel Terkait:

Sakramen Tahbisan

Karunia Pentahbisan

Empat calon imam diosesan Bandung dan satu calon imam Ordo Pewarta mengungkapkan kepasrahan dan ketidakpantasan dengan tiarap di depan altar Gereja Santo Paulus Bandung, 25 Juli 2019 (PEN@ Katolik/pcp)
Empat calon imam diosesan Bandung dan satu calon imam Ordo Pewarta mengungkapkan kepasrahan dan ketidakpantasan dengan tiarap di depan altar Gereja Santo Paulus Bandung, 25 Juli 2019 (PEN@ Katolik/pcp)
Penumpangan tangan uskup dan para imam, termasuk wakil provinsial OP, Pastor Edmund Nantes OP kepada Diakon Valentinus Bayuhadi OP (PEN@ Katolik/pcp
Penumpangan tangan uskup dan para imam, termasuk wakil provinsial OP, Pastor Edmund Nantes OP kepada Diakon Valentinus Bayuhadi OP (PEN@ Katolik/pcp
Para calon imam menerima stola imam dan kasula (PEN@ Katolik/pcp)
Para imam baru menerima stola imam dan kasula (PEN@ Katolik/pcp)
Orang tua dari Diakon Bayu membanyu Bayu mengenakan stola dan kasula (PEN@ Katolik/pcp)
Orang tua dari Diakon Bayu membanyu Bayu mengenakan stola dan kasula (PEN@ Katolik/pcp)
Pastor Valentinus Bayuhadi Ruseno OP mencuci tangannya yang diurapi minyak Krisma (PEN@ Katolik/pcp)
Pastor Valentinus Bayuhadi Ruseno OP mencuci tangannya yang diurapi minyak Krisma (PEN@ Katolik/pcp)
Pastor Aloysius Wahyu Endro Suseno Pr menerima piala berisi anggur dari Mgr Subianto dan membawanya ke altar (PEN@ Katolik/pcp)
Pastor Aloysius Wahyu Endro Suseno Pr menerima piala berisi anggur dari Mgr Subianto dan membawanya ke altar (PEN@ Katolik/pcp)
Pastor Thomas Andre Putranto Nursantosa Pr menerima piala berisi anggur dari Mgr Subianto dan membawanya ke altar (PEN@ Katolik/pcp)
Pastor Thomas Andre Putranto Nursantosa Pr menerima piala berisi anggur dari Mgr Subianto dan membawanya ke altar (PEN@ Katolik/pcp)
Pastor Yohanes Hario Kristo Wibowo Pr menerima piala berisi anggur dari Mgr Subianto dan membawanya ke altar (PEN@ Katolik/pcp)
Pastor Yohanes Hario Kristo Wibowo Pr menerima piala berisi anggur dari Mgr Subianto dan membawanya ke altar (PEN@ Katolik/pcp)
Pastor Yohanes Paulus Subroto Pr menerima piala berisi anggur dari Mgr Subianto dan membawanya ke altar (PEN@ Katolik/pcp)
Pastor Yohanes Paulus Subroto Pr menerima piala berisi anggur dari Mgr Subianto dan membawanya ke altar (PEN@ Katolik/pcp)
Pastor Valentinus Bayuhadi Ruseno OP menerima piala berisi anggur dari Mgr Subianto dan membawanya ke altar (PEN@ Katolik/pcp)
Pastor Valentinus Bayuhadi Ruseno OP menerima piala berisi anggur dari Mgr Subianto dan membawanya ke altar (PEN@ Katolik/pcp)
Salam Damai Mgr Subianto kepada para imam baru (PEN@ Katolik/pcp)
Salam Damai Mgr Subianto kepada para imam baru (PEN@ Katolik/pcp)
Lima imam baru naik ke altar untuk mempersiapkan altar untuk Liturgi Ekaristi (PEN@ Katolik/pcp)
Lima imam baru naik ke altar untuk mempersiapkan altar untuk Liturgi Ekaristi (PEN@ Katolik/pcp)
Mgr Subianto bersama lima imam baru mengangkat piala (PEN@ Katolik/pcp)
Mgr Subianto bersama lima imam baru mengangkat piala (PEN@ Katolik/pcp)
Suasana Misa Tahbisan dengan kehadiran imam terbanyak, menurut Mgr Subianto Bunjamin OSC, lebih dari 160 imam (PEN@ Katolik/pcp)
Suasana Misa Tahbisan dengan kehadiran imam terbanyak, menurut Mgr Subianto Bunjamin OSC, lebih dari 160 imam (PEN@ Katolik/pcp)
Lima imam baru berterima kasih dalam lagu (PEN@ Katolik/pcp)
Lima imam baru berterima kasih dalam lagu (PEN@ Katolik/pcp)

Tinggalkan Pesan