Garda Nasional berjaga-jaga di sebuah pos pemeriksaan di Negara Bagian Chiapas, Meksiko, 16 Juni 2019. Seorang  katekis ditembak mati  15 Juni di kapel Immaculate Conception di Acacoyagua, sekitar 75 mil dari perbatasan dengan Guatemala. (Kredit: Isabel Mateos / Reuters via CNS.)
Garda Nasional berjaga-jaga di sebuah pos pemeriksaan di Negara Bagian Chiapas, Meksiko, 16 Juni 2019. Seorang katekis ditembak mati 15 Juni di kapel Immaculate Conception di Acacoyagua, sekitar 75 mil dari perbatasan dengan Guatemala. (Kredit: Isabel Mateos / Reuters via CNS.)

Seorang katekis tertembak mati dalam sebuah kapel di Acacoyagua, Negara Bagian Chiapas, Meksiko. Dalam video yang dikirim ke Fides, Uskup Tapachula, Mgr Jaime Calderón Calderón mengatakan, “Kami korban kekerasan dalam negara ini. Kemarin (Sabtu, 15 Juni) di akhir kursus pelatihan katekis di Kapel Immaculate Conception dari Paroki San Marcos Evangelista, dua pemuda masuk dan mulai menembak.”

Salah satu peluru, lanjut Mgr Calderon, melukai Margeli Lang Antonio dan dia segera meninggal. “Kami dekat dengan keluarganya. Sebagai keluarga keuskupan, kami tidak terbiasa dengan fakta kekerasan yang menunjukkan degradasi sosial dan moral umat manusia ini.” Uskup lalu meminta pihak berwenang untuk sesegera mungkin menemukan siapa yang bertanggung jawab.

Dalam konferensi pers, 16 Juni, uskup itu menekankan bahwa “pembusukan sosial terjadi karena kurangnya kesehatan masyarakat. Ketika tidak ada pekerjaan, ketika ada ketidakadilan, ketika ada impunitas, ketika ada ambisi berlebihan akan uang, ketika kehidupan manusia ada harganya, yang menjadi pusat perhatian adalah uang, maka semuanya memiliki harga dan yang memerintah adalah yang punya uang.”

Fides menerima pernyataan Konferensi Waligereja Meksiko (CEM) tentang pertemuan Ketua CEM dengan Presiden Andrés Manuel López Obrador guna “memulai dialog persaudaraan dengan keinginan untuk bekerja sama membangun masyarakat yang semakin adil.” Para uskup, kata pernyataan itu, menyentuh dua tema mendasar: hal darurat mengenai migrasi dan pembangunan perdamaian.

Mengenai yang pertama, “Gereja terus menawarkan sumber dayanya: 95 keuskupan, 10 ribu paroki, lebih dari 130 rumah penginapan dan ribuan pekerja pastoral di seluruh wilayah Meksiko yang terlibat dalam misi kemanusiaan dan pembelaan hak asasi manusia.”

Karena itu, Ketua CEM menekankan “perlunya kerja sama lebih besar untuk menjamin keselamatan para migran.”

Tentang masalah kedua, para uskup berniat memberikan sumbangannya pada rekonstruksi tatanan sosial dan penguatan aturan hukum, melalui Rencana Pembangunan Perdamaian, “yang meliputi Listening Centre (fasilitas untuk meningkatkan kemampuan mendengarkan, berkomunikasi dan belajar) pusat pembelaan hak asasi manusia, pendampingan para korban dan lokakarya pendidikan perdamaian.”

Teks itu menegaskan, penderitaan dari begitu banyak keluarga Meksiko karena kekerasan dan ketidakamanan mendesak kerja sama persaudaraan kita.

Pernyataan CEM itu diakhiri dengan mengingat bahwa topik-topik lain juga dibahas pada pertemuan itu, dan menekankan bahwa Gereja bermaksud memenuhi misinya dengan berpartisipasi dalam mengupayakan kebaikan bersama. (PEN@ Katolik/pcp berdasarkan Agenzia Fides)

Tinggalkan Pesan