Paus Francis berdoa bersama para pemimpin Kristen lainnya di makam Santo Paulus, di awal Doa Malam untuk memulai Pekan Doa untuk Persatuan Umat Kristiani (Vatican Media)
Paus Francis berdoa bersama para pemimpin Kristen lainnya di makam Santo Paulus, di awal Doa Malam untuk memulai Pekan Doa untuk Persatuan Umat Kristiani (Vatican Media)

Paus Fransiskus bersama para pemimpin Kristen lainnya membuka Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani yang dilaksanakan setiap tahun dengan Perayaan dan Doa Bersama malam hari di Basilika Santo Paulus di Luar Tembok, 18 Januari 2019.

Perayaan bersama yang membuka pekan doa itu adalah simbol persatuan dan pengakuan yang kuat bahwa denominasi-denominasi Kristiani berada di jalan menuju persatuan dan semakin dekat dalam doktrin, demikian laporan Linda Bordoni dari Vatican News.

Tema Pekan Doa tahun ini, yang secara tradisional dirayakan sejak 18 hingga 25 Januari adalah “Semata-mata keadilan, itulah yang harus kau kejar” (bdk Ul 16:18-20).

Sebelumnya dalam Audiensi Umum 16 Januari, Paus mengatakan, “Sekali lagi, tahun ini kita dipanggil untuk berdoa agar semua umat Kristiani dapat kembali lagi menjadi satu keluarga, sesuai kehendak Tuhan ‘supaya mereka semua menjadi satu’.”

Menurut Paus “ekumene bukan opsional” tapi itu bertujuan “mengembangkan kesaksian bersama dan konsisten yang meningkatkan dukungan dan keadilan sejati bagi orang-orang terlemah melalui tanggapan konkret, tepat dan efektif.”

Perayaan di basilika Santo Paulus di Luar Tembok itu dihadiri banyak kelompok berbasis agama yang menjadikan ekumene sebagai bagian penting dari misi mereka. Di antaranya, Institut Ekumenis Bossey dengan 28 mahasiswa dari berbagai spektrum Kristiani dan dari seluruh dunia.

Daniel Reffner, kandidat United Methodist untuk pelayanan tertahbis dari Amerika Serikat, berbicara dengan Linda Bordoni tentang pengalamannya mempelajari ekumene di Bossey dan tentang bagaimana ekumene mengubah perspektifnya. “Kita hidup bersama di Swiss, tepat di utara Jenewa. Kami belajar bersama selama lima bulan terakhir, tentang sejarah gerakan ekumene dan tentang bagaimana melanjutkannya di tengah perbedaan budaya dan latar belakang agama.”

Dia berharap pembinaan itu membina dirinya menjadi seseorang yang mampu menempatkan diri dalam percakapan kontroversial atau tempat-tempat kontroversial dan “menjadi orang yang dapat menyatukan orang bukan terus menghidupkan dinamika polarisasi yang sering kita lihat.”

Daniel percaya Pekan Doa ini penting karena “itulah simbol dari hati ekumene,” menyatukan orang-orang tanpa memandang latar belakang mereka yang berbeda. “Meskipun kita tidak sepakat dalam segala hal, yang sungguh penting bagi saksi Kristiani untuk menunjukkan tanda-tanda persatuan.”

Secara pribadi, dia merasa penting karena dia adalah bagian dari “yang mencari persatuan itu bersama 28 orang lain yang bersama mengikuti program ini, dari latar belakang berbeda dan yang percaya pada hal-hal yang berbeda tentang beberapa doktrin Kristiani; namun, kami percaya bahwa penting bagi kami menjalin hubungan, baik untuk satu sama lain maupun untuk cinta kita kepada Tuhan.”

Menurut Daniel, kebingungan pribadi dan spiritual di Bossey dan program itu “mengingatkan dan menegaskan kembali kepada saya tentang panggilan saya, menegaskan kembali identitas saya sebagai seorang Kristiani, dan memungkinkan saya berdialog dari perspektif berbeda, dan lebih autentik.”

Tentang kesaksian pribadi dan peningkatan Persatuan Umat Kristiani yang dilakukan Paus Fransiskus, dia mengatakan bahwa kehadiran para mahasiswa Bossey di Roma selama seminggu disponsori dan didukung oleh Dewan Vatikan untuk Peningkatan Umat Kristiani. “Itulah tanda bahwa Vatikan mendukung pekerjaan kami dan kami rasakan dukungan itu.”

“Harapan saya untuk waktu dekat adalah terus mencermati benih-benih wahyu yang saya rasakan bermunculan dari proses ini,” kata Daniel yang percaya bahwa “Allah menerangi langkah saya, agar di saat saya kembali ke Amerika Serikat, langkah itu berlanjut dengan pembelajaran dan pertumbuhan yang dimulai di sini.”(PEN@ Katolik/paul c pati berdasarkan Vatican News)

Tinggalkan Pesan