Para guru dan dosen di lembaga non Katolik/PEN@ Katolik/km
Para guru dan dosen di lembaga non Katolik/PEN@ Katolik/km

Uskup Agung Jakarta Mgr Ignatius Suharyo mengajak semua guru dan dosen Katolik untuk melakukan tiga hal penting dalam melayani dunia  pendidikan, yakni pertama, mencari kehendak Allah lewat permenungan atau doa; kedua, mencari kehendak Allah dengan cara mengetahui dan mendalami semua disiplin ilmu, dan ketiga melakukan aksi, menanggapi, dan menerapkannya dalam terang iman.

Mgr Suharyo berbicara dalam homili Misa di aula SMP Santa Maria Jalan Juanda Jakarta, 13 Januari 2019. Konselebran dalam Misa itu adalah Ketua MPK KAJ Pastor Yohanes Heru Hendarto SJ dan Pendamping Mahasiswa UI Pastor Ignatius Swasono SJ.

Misa yang diikuti 700 guru dan dosen Katolik dari sembilan dekenat se-KAJ yang bekerja di lembaga bukan Katolik itu bertema “Amalkan Pancasila: Yesus Kristus Hikmat bagi Kita dengan Kita Berhikmat Bangsa Bermartabat.”

Mgr Suharyo menggambarkan bagaimana Yesus selalu mencari kehendak Allah, saat dibaptis, saat  menghadapi sakratul maut, dan saat memilih para rasul-Nya. “Saat Ia dibaptis, tampak merpati sebagai lambang kasih dan sebagai tanggapan, ‘Engkaulah Anak yang Kukasihi, kepadamu Aku berkenan’ yang merupakan kehendak Allah itu.

Kisah pembaptisan Tuhan itu, menurut uskup, sesungguhnya sangat mirip dengan tugas para guru Katolik. “Setelah berdoa (atau mencari kehendak Allah) mengaitkannya dengan ilmu yang didalami lalu menanggapinya sebagai tanggapan panggilan sebagai guru Katolik,” kata Mgr Suharyo.

Selain Misa, para guru dan dosen Katolik juga berdialog dengan Uskup Agung Suharyo. Dalam dialog itu para guru dan dosen memberi banyak pertanyaan berkaitan dengan tugas guru Katolik di lembaga pendidikan non Katolik, bahkan sampai hal politik.

“Bolehkah awam Katolik berpolitik?” Menjawab pertanyaan ari Cornelia Johan itu, Mgr Suharyo mengatakan awam Katolik dipanggil untuk menata dunia ini semakin baik, lewat peran dalam bidang politik. Menurut Suharyo, ada banyak wadah untuk berkiprah misalnya ISKA, FKMI, PMKRI dan Pemuda Katolik, “Namun politik yang dianjurkan Gereja Katolik adalah politik yang memperjuangkan kesejahteraan umum yang menempatkan nilai-nilai Kristiani.”

Dosen Universitas Pelita Harapan Karawaci, A Prasetyo Adi mengatakan kegiatan itu adalah bentuk sapaan Sang Gembala kepada para guru Katolik yang bertugas di lembaga non Katolik. Jawaban uskup atas semua pertanyaan yang diajukan sesungguhnya sebagai bentuk penegasan kembali atas tugas mereka yang telah dijalankan selama ini, yang dilihat sebagai panggilan atau perutusan.

Prasetyo mengakui, semua kesulitan yang dihadapi guru dan dosen sangat berat namun uskup berharap agar para guru dan dosen menghadapi permasalahan dengan selalu berdoa, menganalisa, lalu berani menentukan.

“Tantangan dalam perutusan sebagai guru di lembaga bukan Katolik memang sangat berat, tapi satu hal lagi yang bisa ditambahkan, selain mencari kehendak Tuhan, carilah teman sejawat agar bersama mengurai kesulitan dalam pekerjaan,” lanjut Presetyo. (PEN@ Katolik/Konradus R Mangu)

 

 

Tinggalkan Pesan