50272052_10218368873875045_8913372228121264128_n

(Renungan berdasarkan Bacaan Injil Minggu kedua dalam Masa Biasa, 20 Januari 2019: Yohanes 2: 1-12)

Maria yang pernah menjadi seorang pengantin dan mengerti detail pernikahan Yahudi dapat segera merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Anggur habis! Dalam konteks Yahudi, anggur adalah unsur penting dalam setiap acara yang menggembirakan, karena anggur telah dijadikan oleh Allah untuk “membuat hati manusia gembira” (Mzm 104: 15). Kekurangan anggur dapat menyebabkan konsekuensi buruk. Itu adalah sumber rasa malu, dan bahkan pertikaian antar keluarga.

Semua orang tahu bahwa mempelai laki-laki bertanggung jawab untuk menyediakan anggur, tetapi Maria melakukan sesuatu yang tidak terduga. Alih-alih memberi tahu sang pengantin pria, dia mendekati Yesus dan menunjukkan kepada-Nya betapa beratnya keadaan yang dihadapi keluarga di Kana. Namun, alih-alih mendapatkan respons yang positif dari Yesus, alur ceritanya malah semakin tak terduga. Dalam sebuah pernyataan yang mengejutkan, Yesus berkata kepada ibunya, “Perempuan, apakah ini bagimu dan bagiku?” (Yoh 2: 4 – terjemahan sendiri). Pernyataan ini adalah ungkapan Semitik yang menunjukkan bahwa masalah yang dihadapi bukan urusan Yesus. Dalam arti tertentu, Yesus benar karena ini adalah tugas mempelai laki-laki untuk menyelesaikan masalah yang ada, tetapi dalam arti yang lebih mendalam, Maria juga benar karena Yesus adalah Mempelai Pria yang sejati.

Yesus mengerti bahwa Dia adalah Mempelai Laki-laki, tetapi waktunya bukan di Kana, tetapi di Kayu Salib. Maka, Ia berkata, “Waktuku belum tiba.” (Yoh 2: 4) Namun, Maria sebagai seorang ibu mengenal Putranya dengan sangat baik. Dia memiliki iman kepada Yesus, bahwa Yesus bukan hanya Mempelai Pria di Kayu Salib yang memberikan hidup-Nya bagi Mempelai Perempuan-Nya, Gereja, tetapi Yesus juga Mempelai Laki-laki dalam setiap pernikahan, keluarga, komunitas yang mencerminkan Gereja ini. Jadi, ketika Yesus mengubah air menjadi anggur, itu tidak hanya terjadi dalam level sejarah, tetapi juga menjadi sebuah kenyataan simbolis. Ya, Yesus membantu pasangan di Kana menghindari musibah, tetapi lebih dari itu, Dia menyediakan apa yang secara mendasar kurang dalam setiap pernikahan: “anggur terbaik”, sukacita sejati kehidupan pernikahan.

Salah satu tugas saya sebagai diakon adalah untuk memeriksa apakah calon pasangan yang akan menikah secara kanonik dapat menikah Gereja. Untuk memenuhi ini, saya perlu mewawancarai pasangan tersebut dan mengajukan beberapa pertanyaan terkait. Namun, saya biasanya melangkah lebih jauh, dan saya mengingatkan mereka mengapa Gereja tidak mengakui pernikahan sipil. Jawabannya jelas namun sangat mendasar: Yesus, Mempelai Pria yang sejati, tidak ada di sana, atau tepatnya, kita melakukan upaya yang disengaja untuk mengecualikan-Nya dalam pernikahan kita. Persatuan antara pria dan wanita bukan hanya fenomena manusia, sosial dan budaya, tetapi kenyataan ilahi. Ketika seorang pria dan wanita mengikatkan diri dalam perkawinan, Tuhan sendirilah yang berkeinginan untuk menjadikan mereka satu. Karena itu, pernikahan pada dasarnya dan rahmat Tuhan bekerja dalam hubungan manusia. Dan jika Tuhan menyatukan mereka bersama, Dia juga akan menopang dan membawa kesempurnaan pada pernikahan tersebut. Inilah sebabnya mengapa pernikahan dinaikkan ke tingkat sakramen Gereja.

Namun, saya terus mengingatkan para pasangan bahwa pernikahan di Gereja tidak hanya berarti merayakan sakramen pernikahan tetapi untuk setia berada di dalam Gereja, Sang Mempelai Kristus, sepanjang hidup mereka: untuk menghadiri Ekaristi sebagai keluarga, untuk berpartisipasi aktif dalam Gereja, untuk berdoa bersama secara teratur. Karena anggur tidak mungkin terjadi tanpa kendi air, rahmat Allah tidak akan berhasil dalam pernikahan kita kecuali jika kita membuka diri terhadap rahmat Allah. Seperti Maria yang menunjukkan pada Yesus apa yang kurang dalam pernikahan di Kana, maka Gereja meminta Yesus untuk memenuhi setiap pernikahan dengan anggur terbaik.

Diakon Valentinus Bayuhadi Ruseno OP

Tinggalkan Pesan