Anak-anak Panti Asuhan Santa Angela Delitua  mempersembahkan lagu pada pagelaran drama  ''Anak yang Hilang" (Foto K R Mangu)
Anak-anak Panti Asuhan Santa Angela Delitua mempersembahkan lagu pada pagelaran drama ”Anak yang Hilang” (Foto K R Mangu)

Karena tak suka dengan suasana rumah dan kurang mendapat perhatian ayah, Markus tinggalkan rumah lalu mulai akrab dengan pemerasan, perampokan, minum, mabuk, dan bergaul dengan penjahat. Namun, ketika menyaksikan seorang gadis dirampok oleh penjambret lain, Markus merasa kasihan dan datang menyelamatkan tas milik gadis bernama Cindy itu. Lebih dari itu, Markus mengantar Cindy pulang dan hubungan mereka berlanjut.

Kisah “Anak yang Hilang” itu terjadi di Jakarta Selatan, tepatnya di Gedung Usmar Ismail, Jalan Rasuna Said, Sabtu 6 Januari 2018. Kisah itu dipentaskan oleh sebanyak 30 anak Panti Asuhan Santa Angela Delitua, Sumatera Utara, yang bersekolah di SD, SMP, SMA dan SMK milik Kongregasi Fransiskanes Santa Elisabeth (FSE) di Delitua.

Tujuan penampilan drama, yang merupakan kolaborasi antara teater KataK, teater Efford (Jakarta) dan Teater Santa Angela, menurut pemimpin panti Suster Bernadette Saragih FSE, adalah untuk mengembangkan bakat atau talenta, kemandirian, dan kepribadian anak, khususnya dalam bidang seni suara dan teater.

Selain memberi pengalaman luar biasa sebagai bekal bagi anak-anak panti ini melanjutkan hidup mereka setelah lepas dari naungan panti kelak, pementasan itu juga untuk mengetuk pintu hati dalam membantu mendukung anak-anak panti itu menyongsong masa depannya yang mandiri, berkualitas, dan mampu membantu sesama yang juga membutuhkan bantuan sebagaimana mereka sekarang ini.

Kisah “Anak yang Hilang” seperti dijelaskan sutradara Venantius Vladimir Ivan. diadopsi dari kisah Injil dan diaktualkan sesuai dengan pengalaman hidup sehari-hari sehingga memiliki pesan yang baik.

Cindy, yang telah ditinggal meninggal oleh ayahnya, senang mendapatkan perhatian dari Markus, karena ibunya sendiri tidak memberikan perhatian kepada Cindy dan kurang dekat dengan Cindy. Ibunya bahkan sudah lama akrab dengan obat terlarang, dan sering membawa laki-laki berbeda ke rumah.

Akhirnya ibunya meninggal dunia akibat kanker, di saat Cindy tidak berada di rumah. Markus dan sejumlah teman ibunya sudah berada di rumah, ketika Cindy datang. Cindy pun menangis sejadi-jadinya. Ia sangat menyesal tidak berdamai dengan ibunya.

Kehidupan Markus semakin berubah setelah berkenalan dengan Cindy. Suatu ketika ia teringat akan ayahnya yang telah tua renta. Setelah ibu Cindy meninggal, Markus membawa Cindy ke tanah kelahirannya untuk menikahi Cindy. Ayahnya dengan suka cita menanti kehadiran anaknya yang telah “hilang” itu.

‘’Cerita ini memiliki pesan moral yang sangat penting yakni pertobatan dan krisis kasih sayang dalam kehidupan keluarga. Cerita ini dibuat dengan modifikasi sehingga pesan yang disampaikan kepada penonton menjadi bahan untuk direfleksikan,” kata Vinantius Vladimir usai pementasan drama selama kurang lebih tiga jam itu.

Alvina Dumingan, pemeran Cindy, sangat senang memerankan gadis yang akhirnya menikah dengan Markus. Dikatakan, pementasan kali ini sangat menantang karena mereka berusaha menguasai dialog dalam pentas juga kemampuan vokal untuk menyanyi. (Konradus R Mangu)

Suster Bernadette Saragih FSE (foto K R Mangu)
Suster Bernadette Saragih FSE (foto K R Mangu)

Tinggalkan Pesan