Yesus

PEKAN BIASA XXXII (H)

Santo Stanislaus Kostka; Santo Didakus; Santa Fransiska Xaveria Cabrini; Santo Aloisius Versiglia dan Santo Callistus Caravario; Beato Engenius Bossilkov

Bacaan I: Keb. 1:1-7

Mazmur: 139:1-10; R: 24b

Bacaan Injil: Luk. 17:1-6

Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: ”Tidak mungkin tidak akan ada penyesatan, tetapi celakalah orang yang mengadakannya. Adalah lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya, lalu ia dilemparkan ke dalam laut, dari pada menyesatkan salah satu dari orang-orang yang lemah ini. Jagalah dirimu! Jikalau saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia, dan jikalau ia menyesal, ampunilah dia. Bahkan jikalau ia berbuat dosa terhadap engkau tujuh kali sehari dan tujuh kali ia kembali kepadamu dan berkata: Aku menyesal, engkau harus mengampuni dia.” Lalu kata rasul-rasul itu kepada Tuhan: ”Tambahkanlah iman kami!” Jawab Tuhan: ”Kalau sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada pohon ara ini: Terbantunlah engkau dan tertanamlah di dalam laut, dan ia akan taat kepadamu.”

Renungan

Pepatah Inggris mengatakan, ”To err is human”—Melakukan kesalahan itu manusiawi. Yang menjadi pertanyaan, bagaimana kita bersikap bila terjadi kesalahan? Atau, lebih tepatnya, bagaimana bila orang lain melakukan kesalahan kepada kita? Kurang lebih pertanyaan itu yang disampaikan Yesus kepada murid-murid-Nya.

Kenyataan bahwa manusia itu dekat dengan kesalahan tidak secara otomatis membuat pengampunan juga menjadi hal yang dekat dengan hidup manusia. Yesus mengingatkan para murid-Nya akan nilai penting pengampunan. Berusaha untuk menghindari dosa itu penting, tetapi mengampuni yang bersalah mengantar manusia pada kemanusiaan sejati.

Salah satu aspek penting dari pengampunan yang disampaikan Yesus adalah memberi kesempatan. Pengampunan bukan hanya memberikan maaf, tetapi juga kesediaan menerima kembali dan memberi kesempatan untuk memperbaiki diri. Tentu saja ini adalah hal yang sulit. Bukan hanya untuk kita, karena bagi para murid Yesus pun demikian. Permintaan mereka sangat tepat, ”tambahkan iman kami!”. Pengampunan hanya bisa diberikan bila manusia membuka diri untuk dipenuhi oleh kebijaksanaan Allah. Keterbukaan itulah yang kita sebut iman.

Ya Allah, tambahkanlah imanku supaya hatiku senantiasa terbuka untuk mengampuni sesamaku. Amin.

Renungan Ziarah Batin 2017

 

Tinggalkan Pesan