Pemandangan Kota Tua Yerusalem

Sebuah forum antaragama berlangsung di Yerusalem 19 Juli 2017 untuk mengeksplorasi pentingnya kota suci itu bagi orang Yahudi, Kristen dan Muslim. Forum dengan judul ‘Yerusalem dan agama monoteistik; Simbol, sikap, kehidupan nyata” diselenggarakan oleh Pontifical Notre Dame Centre bersama Universitas Roma Eropa.

Salah satu pembicara utama forum itu adalah Rabi David Rosen, presiden kehormatan Dewan Internasional Umat Kristen dan Umat Yahudi yang terkenal karena suaranya untuk peningkatan hubungan antaragama.

Dalam pembicaraan dengan Philippa Hitchen dari Radio Vatikan, Rabi Rosen yakin bahwa pesan inti konferensi itu adalah bahwa “Yerusalem tidak akan pernah menjadi pelukan eksklusif seseorang, dan kita hanya akan benar-benar berhasil mengupayakan ketenangan Yerusalem, seperti dikatakan pemazmur, kalau kita dapat mengakui, dan menghormati, bahkan menerima keterikatan orang lain pada kota itu.”

Dalam konteks perebutan kekuasaan antara nasionalisme Palestina dan Israel, Rosen mengatakan, kota itu “bukan hanya menjadi tempat konflik, tapi alat konflik, di mana pihak-pihak mengeksploitasi potensi spiritualnya untuk keuntungan sendiri.” Ini “mentalitas kalah-menang” yang hanya bisa diatasi “kalau kita dapat melampauinya dan mengakui keterkaitan orang lain sebagai berkat dan bukan kutukan.”

Berbicara tentang peran pemimpin agama dalam usaha mengakhiri konflik di Tanah Suci, Rabi Rosen mencatat, salah satu “berkat” akibat kunjungan Paus Yohanes Paulus II ke Israel tahun 2000 adalah pembentukan Dewan Lembaga-Lembaga Agama Tanah Suci (www.crihl.org).

Dewan itu memiliki tiga tujuan utama, pertama “membuka jalan komunikasi antara pemimpin agama.” kedua, “mengutuk hasutan” dan serangan-serangan ke tempat-tempat keagamaan mana pun, dan ketiga “memberikan dukungan religius untuk prakarsa politik guna mengakhiri konflik, sehingga dua negara dan tiga agama bisa berkembang di tanah itu.”

Berkenaan dengan dua tujuan pertama, Rabi Rosen yakin sudah ada “beberapa prestasi moderat.” Tujuan ketiga, katanya, nampaknya akan “gagal total, tapi bukan karena para pemimpin agama tidak mau diikutsertakan. Sebaliknya, mereka ingin diikutsertakan namun para pemimpin politik tidak tertarik melakukannya.”

Para pemimpin agama di wilayah itu, menurutnya, diangkat oleh otoritas-otoritas politik maka berpikir bahwa mereka akan menantang pemimpin-pemimpin mereka atau akan menyebabkan terobosan dalam realitas politik adalah ‘khayalan.”

Namun, dia mengingat kata-kata Uskup Lutheran dari Yerusalem baru-baru ini kepada utusan Presiden AS Trump untuk Timur Tengah, Jason Greenblatt: “Kita tidak akan mampu mewujudkan perdamaian, namun perdamaian tidak akan berhasil dan bertahan tanpa kita.” Peran para pemimpin agama, lanjutnya, dapat menjadi “sangat penting dalam memberikan kontribusi pada proses perdamaian yang berhasil.”

Bagian kegagalan inisiatif perdamaian di masa lalu, menurut Rabi Rosen, menjadi “kegagalan untuk mengambil dimensi religius secara serius.” Mengingat ketegangan-ketegangan baru-baru ini di Bait Allah, dia menyimpulkan, konferensi ini tepat waktu karena menyoroti “betapa Yerusalem mudah terbakar, betapa Yerusalem dieksploitasi laksana sepak bola politik […] dan betapa menghayal menganggap kita bisa menyelesaikan konflik ini tanpa dimensi religius.(paul c pati berdasarkan Radio Vatikan).

 

Tinggalkan Pesan