Renungan16-Mar-2016-A

PEKAN PRAPASKAH V (U)

Santo Vinsensius Ferreri, Santa Yuliana dari Kornillon

Bacaan I: Dan. 3:14–20.24–25.28

Mazmur: Dan. 3:52.53.54.55.56; R:52b

Bacaan Injil: Yoh. 8:31–42

Sekali peristiwa Yesus berkata kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepada-Nya: “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.” Jawab mereka: “Kami adalah keturunan Abraham dan tidak pernah menjadi hamba siapa pun. Bagaimana Engkau dapat berkata: Kamu akan merdeka?” Kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa. Dan hamba tidak tetap tinggal dalam rumah, tetapi anak tetap tinggal dalam rumah. Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamu pun benar-benar merdeka.” “Aku tahu, bahwa kamu adalah keturunan Abraham, tetapi kamu berusaha untuk membunuh Aku karena firman-Ku tidak beroleh tempat di dalam kamu. Apa yang Kulihat pada Bapa, itulah yang Kukatakan, dan demikian juga kamu perbuat tentang apa yang kamu dengar dari bapamu.” Jawab mereka kepada-Nya: “Bapa kami ialah Abraham.” Kata Yesus kepada mereka: “Jikalau sekiranya kamu anak-anak Abraham, tentulah kamu mengerjakan pekerjaan yang dikerjakan oleh Abraham. Tetapi yang kamu kerjakan ialah berusaha membunuh Aku; Aku, seorang yang mengatakan kebenaran kepadamu, yaitu kebenaran yang Kudengar dari Allah; pekerjaan yang demikian tidak dikerjakan oleh Abraham. Kamu mengerjakan pekerjaan bapamu sendiri.” Jawab mereka: “Kami tidak dilahirkan dari zina. Bapa kami satu, yaitu Allah.” Kata Yesus kepada mereka: “Jikalau Allah adalah Bapamu, kamu akan mengasihi Aku, sebab Aku keluar dan datang dari Allah. Dan Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, melainkan Dialah yang mengutus Aku.”

Renungan

Iman Kristiani tidak melarang kita bersahabat dengan siapa saja, termasuk dengan mereka yang kaya dan berkuasa. Namun, kita harus ingat bahwa mereka ini selain bisa memanjakan, juga punya kuasa untuk mengancam dan melaksanakan ancamannya. Inilah yang dialami oleh Sadrakh, Mesakh, dan Abednego para sahabat raja Nebukadnezar yang sangat berkuasa. Ketika raja menghendaki mereka menyembah patung yang dibuat raja dan mereka berani menolaknya, raja dengan emosi melaksanakan ancamannya. Tetapi kesetiaan mereka pada Tuhan menyelamatkan mereka, dan membuat raja bertobat serta percaya kepada Tuhan.

Kita perlu memeriksa hidup kita, apakah kita lebih mengutamakan bos yang sudah begitu baik menjamin hidup kita daripada Tuhan sendiri? Kerohanian kita nyata jika kita teguh mengutamakan Tuhan dan kebenarannya: ”Kita harus lebih taat kepada Tuhan daripada manusia”(Kis. 5:29). Ini benar-benar tidak mudah, karena dalam hidup sehari-hari kita lebih merasakan ketergantungan nyata kita kepada pekerjaan dan mereka yang memberi kita pekerjaan tersebut, entah itu bos kita atau pelanggan besar kita, atau sahabat yang selalu siap memberi kita berbagai fasilitas.

Kita membutuhkan lebih dari sekadar keberanian untuk lebih taat kepada Tuhan, dan itulah jaminan Tuhan Yesus: “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, maka kamu benar-benar murid-Ku, dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.”

Ya Tuhan, aku ingin mengikuti firman-Mu dan setia menghayatinya dalam hidupku, karena aku tahu hal itu akan memerdekakan aku dan sesamaku. Amin.

 

 

Tinggalkan Pesan