PDS (1)

Hati kita dikuasai oleh cinta kasih, kerahiman. Memandang perbedaan bukan sebagai ancaman tetapi sebagai kekayaan. Oleh karena itu, ibu-bapak dan saudari-saudara, malam ini kita semua menjadi duta-duta rekonsiliasi. Kita semua menjadi orang-orang yang mau menjawab doa Yesus untuk saling berdamai satu terhadap yang lain, agar dunia percaya bahwa Yesus Kristus Tuhan adalah Sang Juru Selamat Putera Bapa dan sesembahan kita.

Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang (Komisi HAK KAS) Pastor Aloys Budi Purnomo Pr menyampaikan hal itu dalam khotbah ibadah ekumene Pekan Doa Sedunia untuk Kesatuan Umat Kristiani di Gereja Kristen Indonesia (GKI) Gereformeerd, Semarang.  “Kita sudah dikasihi Yesus, mari kita saling mengasihi kita buang segala prasangka, kita bersaksi bahwa kita murid-murid Kristus kini dan sepanjang masa,” kata imam itu.

Karena peduli kepada umat Krisriani yang kurang mampu, Pendeta GKI Gereformeerd Rahmat Paska Rajagukguk mengatakan bahwa kolekte hari itu dipersembahkan pada sebuah sekolah yang melayani anak-anak miskin. “Ini bukan hanya soal prihatin, tapi lebih dari itu. Ini menjadi tanggung jawab kita. Ini menjadi kepedulian kita. Kalau kita merasa aman dan nyaman di istana kita masing-masing, bagaimana tempat-tempat pelayanan Tuhan di sana yang membutuhkan?” katanya.

Ibadah Ekumene juga diadakan di Kedu (18 Januari 2017), Ungaran (23 Januari 2017), Semarang (20 dan 24 Januari 2017), dan Yogyakarta (8 Januari 2017). Ibadah di GKI Gereformeerd itu dilaksanakan tanggal 20 Januari 2017.

Ibadah yang diadakan di Gereja Santo Antonius Muntilan dihadiri empat imam Katolik dan sembilan pendeta. Selain berdoa untuk kesatuan umat Kristiani, Delegatus Vikaris Episkopalis Kedu Pastor FX Krisno Handoyo Pr mengajak umat Kristiani untuk berdoa bagi Indonesia.

“Meskipun begitu baik juga kita selipkan, berdoa untuk kesatuan bangsa negara kita, lebih-lebih di saat-saat menghadapi berbagai macam gejolak, tantangan-tantangan berkaitan dengan radikalisme dan intoleransi,” ajak imam itu.

Ibadah ekumene di Ungaran yang diselenggarakan di Gereja Kristus Raja Ungaran dihadiri empat imam Katolik dan 31 pendeta Kristen. Sedangkan ibadah ekumene di Gereja Santo Paulus Sendangguwo Semarang dihadiri enam imam Katolik dan 12 pendeta Kristen. Semua ibadah ekumene tersebut dihadiri umat dari berbagai denominasi dengan antusias.

Hasil kolekte ibadah ekumene dipakai untuk aksi sosial seperti membantu pengadaan kaki palsu, pelayanan gereja-gereja, dan membantu pendidikan anak-anak miskin.

Di Ungaran dan Semarang, selain menyelenggarakan ibadah ekumene, para pendeta dan pastor Katolik juga melakukan anjangsana ke Masjid Agung Jawa Tengah untuk menjalin tali silaturahmi dengan tokoh-tokoh Islam. Aksi ekologi tanam pohon bekerja sama dengan sekolah-sekolah Katolik di Ungaran dan kaum muda lintas iman pun dilakukan sebagai penanda Hari Minggu HAK di Ungaran. (Lukas Awi  Tristanto)

 PDS

Tinggalkan Pesan