Paus Fransiskus dalam Regina Coeli (Vatican Media)
Paus Fransiskus dalam Regina Coeli (Vatican Media)

Paus Fransiskus pada hari Minggu 18 April muncul kembali di jendela ruang kerjanya di Istana Apostolik yang menghadap ke Lapangan Santo Petrus untuk menyalami umat beriman dan mendaraskan doa Regina Coeli. Ini pertama kalinya sejak 14 Maret, Paus melakukan kontak langsung dengan orang-orang di lapangan itu sesuai keputusan pemerintah Italia untuk mengekang penyebaran pandemi virus corona.

Setelah menyuarakan perdamaian di Ukraina Timur dan mengenang sekelompok biarawan cicstercian Italia yang dibeatifikasi hari Sabtu, Paus mengungkapkan kegembiraannya bisa kembali ke lapangan itu di hadapan umat.

Syukur kepada Allah kita bisa lagi bertemu di lapangan pada hari Minggu dan perayaan-perayaan yang sudah ditetapkan,” kata Paus. “Saya harus memberitahukan bahwa saya kangen dengan lapangan ini ketika saya harus mendoakan Angelus di dalam perpustakaan … Saya senang! Syukur kepada Allah atas kehadiran kalian!”

Dalam renungan saat itu, Paus menceritakan tentang Injil Lukas 24 tentang bagaimana Yesus yang Bangkit menampilkan diri di tengah-tengah kelompok murid di senakel (ruang atas), Yerusalem, dan menyapa mereka, “Damai sejahtera bagi kamu!”

Para murid, kata Paus, ketakutan dan percaya “bahwa mereka melihat hantu.” Kemudian Yesus menunjukkan kepada mereka luka-luka tubuh-Nya dan berkata, Pandanglah tangan-Ku dan kaki-Ku, Aku sendirilah ini. Rabalah Aku dan pandanglah, dan untuk meyakinkan mereka, Dia meminta makanan dan memakannya di depan mata mereka yang tercengang.

Paus jelaskan tiga kata kerja yang sangat nyata jadi ciri perikop Injil ini, yakni memandang, menyentuh dan makan. Semua kata kerja ini mencerminkan kehidupan individu dan komunitas kita dan menggambarkan tindakan-tindakan yang “dapat memberikan sukacita pada sebuah perjumpaan yang benar bersama Yesus yang hidup.”

Yesus, lanjut Paus, berkata “Pandanglah tangan dan kakiku” dan ini memberitahukan kepada kita bahwa “memandang tidak hanya melihat, itu lebih. Memandang melibatkan juga niat, kemauan.” Maka, kata Paus, “itu salah satu kata kerja cinta. Seorang ibu dan ayah memandang anak mereka; para kekasih saling memandang; dokter yang baik memandang pasien dengan hati-hati…. Memandang adalah langkah awal melawan ketidakpedulian, melawan godaan untuk memalingkan wajah di depan kesulitan dan penderitaan orang lain.”

Menyentuh juga merupakan kata kerja cinta, karena nyatanya jelas Paus, cinta meminta kedekatan, kontak, menjalani hidup secara bersama. Paus berkata “dengan mengajak para murid untuk menyentuh-Nya, memverifikasi bahwa dia bukan hantu, Yesus menunjukkan kepada mereka dan kepada kita bahwa hubungan dengan Dia dan dengan saudara dan saudari kita tidak dapat tetap ‘berjauhan,’ pada tingkatan sebuah tatapan.”

Orang Samaria yang Baik Hati, lanjut Paus, “tidak membatasi dirinya dengan menandang orang yang dia temukan setengah mati di sepanjang jalan: dia membungkuk, merawat lukanya, memasukkannya ke atas tunggangannya dan membawanya ke penginapan.” Hal sama dengan Yesus, lanjut Bapa Suci. “Mencintainya berarti memasuki persekutuan yang penting dan nyata bersama Dia.”

Kata kerja ketiga, makan, kata Paus, “dengan jelas mengungkapkan kemanusiaan kita dalam ketidakmampuan paling alami, yaitu, kebutuhan kita untuk memberi makan diri kita sendiri agar dapat hidup.”

Paus merenungkan tentang saat makan bersama, dengan keluarga atau teman. Itu “juga jadi ungkapan cinta, ungkapan persekutuan, ungkapan perayaan,” kata Paus seraya mengatakan “Betapa sering Injil menyajikan kepada kita Yesus yang mengalami dimensi keramahtamahan ini! Bahkan sebagai Yang Bangkit, bersama murid-murid-Nya. Sampai-sampai Perjamuan Ekaristi jadi tanda lambang umat Kristiani.”

Paus akhiri katekese dengan menjelaskan, bagian Injil ini mengatakan kepada kita bahwa Yesus bukanlah “hantu,” tetapi Pribadi yang hidup: “Menjadi Kristen bukanlah pertama-tama doktrin atau cita-cita moral, tetapi hubungan yang hidup dengan-Nya, dengan Tuhan Yang Bangkit. Kita memandang-Nya, menyentuh-Nya, diberi makan oleh Dia, diubah oleh Kasih-Nya, kita memandang, menyentuh dan memberi makan sesama sebagai saudara dan saudari.”(PEN@ Katolik/paul c pati/Linda Bordoni/Vatican News)


Warning: A non-numeric value encountered in /home/martinus/public_html/pena/wp-content/themes/Newspaper/includes/wp_booster/td_block.php on line 352

Tinggalkan Pesan