pastor-alex

Pastor Alexius Dwi  Widiatama CM meminta para guru Katolik yang bertugas di sekolah swasta, negeri, non-Katolik untuk menjadi teladan bagi peserta didik dengan menunjukkan perilaku hidup yang baik di tengah-tengah masyarakat.

Pastor Rekan Paroki Salib Suci Cilincing, Jakarta Utara itu berbicara dalam acara “Rekoleksi Kerahiman Allah dalam Pengabdian Guru” di aula sekolah Tarakanita, Gading Serpong, 2 Oktober 2016. Kegiatan yang diikuti sebanyak 300-an guru Katolik yang bertugas di Kota Tangerang dan Kabupaten Tangerang itu bertujuan, seperti dijelaskan oleh Ketua Panitia Lusia Cyintia, untuk mengisi kegiatan “Tahun Kerahiman Allah’ yang sedang direnungkan sepanjang tahun 2016.

Menurut Pastor Alex, menjadi guru merupakan suatu panggilan hidup, yakni panggilan Tuhan, “maka guru memiliki tanggungjawab membawa anak-anak menjadi dewasa secara rohani atau spiritual.” Orang tua memberikan kepercayaan kepada para guru untuk mendidik anak-anak mereka menjadi anak-anak “terang”. Yang dimaksud anak “terang”, jelas imam itu, adalah hidup meneladani Yesus sebagai model cinta, berbelas kasih dan berbela rasa.

Ditegaskan, yang memanggil seseorang jadi guru adalah Tuhan sendiri. “Untuk itu sosok seorang guru Katolik diharapkan selalu meneladani sosok Guru Agung, Yesus. Dan, karena guru adalah panggilan Tuhan, maka setiap guru Katolik membutuhkan jawaban yang terus-menerus, seta membutuhkan pengorbanan waktu, materi, tenaga, kesenangan “dan berani menderita apabila mendapatkan suatu yang tidak diharapkan.”

Anastasia Wiwi, guru dari Paroki Santo Barnabas, adalah tamatan SPG yang sudah mengabdi selama 36 tahun, termasuk di sekolah negeri. Dia mengaku ketika mengajar di sekolah negeri, dia tidak segan-segan menerapkan hal positif yang ia dapatkan di sekolah Katolik demi kebaikan bersama. Sebagai guru di sekolah yang memiliki peserta didik berkebutuhan khusus, lanjutnya, dia melayani mereka dengan penuh cinta kasih.

Stefanus Briyan yang mengajar di sekolah St John BSD Tangerang adalah tamatan pendidikan di sekolah Caritas Boro, Purworejo. Setelah tamat dari sekolah itu ia sempat mengurus dan mendampingi anak-anak SLB di sekolah itu kemudian terus ke perguruan tinggi. “Saya senang melakukan pekerjaan menjadi guru,” katanya.

Pemerhati pendidikan, Petrus Sudihardjono, mengatakan bahwa guru-guru Katolik harus banyak belajar untuk meningkatkan mutu pendidikan sekolah-sekolah Katolik. “Banyak sekolah di luar Katolik yang berkualitas, maka semua guru Katolik harus menimba pengalaman untuk bersaing dengan sekolah-sekolah non-Katolik yang juga memiliki kualitas yang tidak mengecewakan,” kata dosen di sejumlah universitas di Tangerang itu.(Konradus R Mangu)

 

Keterangan foto: Pastor Alexius Dwi  Widiatama CM sedang memberikan rekoleksi  untuk para guru Katolik

 

 

 

 

Tinggalkan Pesan