Berbahagialah yang miskin

PEKAN BIASA XXIII (H)
Santa Regina

Bacaan I: 1Kor. 7:25-31

Mazmur: 45:11-12.14-17;R:11a

Bacaan Injil: Luk. 6:20-26

Pada waktu itu Yesus memandang murid-murid-Nya dan berkata: ”Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah. Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini lapar, karena kamu akan dipuaskan. Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini menangis, karena kamu akan tertawa. Berbahagialah kamu, jika karena Anak Manusia orang membenci kamu, dan jika mereka mengucilkan kamu, dan mencela kamu serta menolak namamu sebagai sesuatu yang jahat. Bersukacitalah pada waktu itu dan bergembiralah, sebab sesungguhnya, upahmu besar di surga; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan para nabi. Tetapi celakalah kamu, hai kamu yang kaya, karena dalam kekayaanmu kamu telah memperoleh penghiburanmu. Celakalah kamu, yang sekarang ini kenyang, karena kamu akan lapar. Celakalah kamu, yang sekarang ini tertawa, karena kamu akan berdukacita dan menangis. Celakalah kamu, jika semua orang memuji kamu; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan nabi-nabi palsu.”

Renungan

Seorang musikus dan penyair, Bob Dylan, pernah berujar, ”Kesuksesan bukanlah kunci dari kebahagiaan. Sebaliknya kebahagiaan adalah kunci dari kesuksesan. Bila kau menyukai apa yang kaulakukan dan merasa bahagia melakukannya, maka kau pasti sukses.” Karena itu, usahakanlah terlebih dahulu kebahagiaan itu. Sebenarnya, segala sesuatu yang diupayakan manusia tidak lain adalah demi kebahagiaannya. Tetapi, bagaimana mendapatkannya?

Yesus dalam Injil menyampaikan sabda-sabda dan jaminan kebahagiaan bagi mereka yang miskin, lapar, menangis, dibenci, dikucilkan dan ditolak karena Dia, Anak Manusia. Jika karena Dia, para pengikut-Nya harus berhadapan dan mengalami hal-hal di atas, bersukacitalah, karena mereka akan memperoleh upah yang besar di Surga. Menurut Paulus, kebahagiaan itu diperoleh dengan mengarahkan dan memusatkan pikiran kepada hal-hal di Surga. Keduanya mengajarkan hal yang sama: barangsiapa menomorsatukan Allah, percaya dan berpegang pada-Nya, mereka akan memperoleh kebahagiaan sejati. Sebaliknya, mereka yang menyibukkan dirinya dan bergantung pada hal-hal duniawi, mereka akan celaka.

Tentu kita juga ingin bahagia, baik di dunia ini maupun di akhirat nanti, bukan? Beranikah kita menomorsatukan Allah dalam hidup kita dan percaya akan janji kebahagiaan-Nya?

Ya, Tuhan, di tengah berbagai kekhawatiran yang menghimpit hidupku, kuatkan dan kobarkanlah keyakinanku untuk menjadikan hal berbahagia di dalam Engkau sebagai kerinduanku yang terutama. Amin.

Tinggalkan Pesan