PP-JesusTeachingDisciples_JS_0061

PEKAN BIASA XIV (H)

Santa Veronika dari Binasko; Yohana Scopelli;
Sangto Adrian Fortescue; Santo Gregorius Grassi

Bacaan I: Yes. 6:1-8

Mazmur: 93:1ab.1c-2.5; R:1a

Bacaan Injil: Mat. 10:24-33

Pada waktu itu Yesus bersabda kepada kedua belas murid-Nya: ”Seorang murid tidak lebih daripada gurunya, atau seorang hamba daripada tuannya. Cukuplah bagi seorang murid jika ia menjadi sama seperti gurunya dan bagi seorang hamba jika ia menjadi sama seperti tuannya. Jika tuan rumah disebut Beelzebul, apalagi seisi rumahnya. Jadi janganlah kamu takut terhadap mereka, karena tidak ada sesuatu pun yang tertutup yang tidak akan dibuka dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui. Apa yang Kukatakan kepadamu dalam gelap, katakanlah itu dalam terang; dan apa yang dibisikkan ke telingamu, beritakanlah itu dari atas atap rumah. Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka. Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekor pun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu. Dan kamu, rambut kepalamu pun terhitung semuanya. Sebab itu janganlah kamu takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit. Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di sorga. Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di surga.”

Renungan

Dalam Doa Syukur Agung, bersama para malaikat kita berdoa, ”Kudus, kudus, kuduslah Tuhan….” Kata-kata ini diambil dari Yesaya 6:3. Tiga kali kata ”kudus” diucapkan. Ini menyatakan bahwa Tuhan itu sungguh-sungguh kudus. Kita manusia tidaklah kudus, tetapi ”berbibir najis”. Karena itu, sebelum menjadi nabi, Yesaya dioles bibirnya dahulu dengan api oleh malaikat Serafim. Artinya, dibersihkan dari yang jahat. Baru sesudah itu Yesaya diutus menjadi nabi, sehingga ia hanya mewartakan apa yang ingin disampaikan Tuhan dan apa yang dikehendaki Tuhan saja.

Kita semua dipanggil dan diutus menjadi nabi masa kini. Untuk itu, kita harus membersihkan diri dahulu.

Bibir dan hati yang najis harus ditahirkan. Sesudah itu barulah kita tidak takut lagi akan tantangan atau halangan ”yang dapat membunuh badan, tetapi tidak dapat membunuh jiwa”. Kita akan kuat dalam iman. Para martir telah memberikan kesaksian itu. Uskup Agung Oscar Romero menjadi saksi iman dan keadilan di negaranya, sampai dia ditembak mati ketika sedang Misa. St. Yohanes Paulus II tidak takut akan ancaman pembunuhan ketika beliau melawan komunisme di Eropa. Paus Fransiskus juga tak takut mati ditembak karena mewartakan kerahiman Tuhan. Ketika berkunjung ke negara lain, Paus malah menolak memakai mobil anti peluru. Memang, jika Tuhan di pihak kita, siapakah yang kita takuti?

Ya Tuhan, semoga aku berani menjadi saksi-Mu, berani mengatakan yang benar, baik, dan adil. Amin.

 

Tinggalkan Pesan