Slap-556508

PEKAN BIASA XI
Peringatan Wajib Santo Antonius dari Padua (P)

Bacaan I: 1Raj. 21:1-16

Mazmur: 5:2-3. 5-6. 7; R:2b

Bacaan Injil: Mat. 5:38-42

Dalam khotbah di bukit, Yesus berkata: ”Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu. Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. Dan siapa pun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil. Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu.”

Renungan

Tentu kita masih ingat peristiwa hukuman mati terhadap pelaku kejahatan Narkoba di Indonesia pada April 2015 silam. Peristiwa tersebut memicu pro dan kontra perihal relevansi hukuman mati bagi penurunan tingkat kriminal, khususnya kejahatan narkoba yang kian merebak di bumi Indonesia ini. Para pejuang kemanusiaan, melalui berbagai kesempatan, menolak hukuman mati karena mengingkari hak dan martabat hidup manusia. Sementara yang mendukung hukuman mati menganggap bahwa hukuman tersebut sebagai ”pahala” atas kejahatan mereka yang telah merusak generasi muda Indonesia. Hukuman mati dinilai pantas untuk ”ditukar” dengan ribuan orang Indonesia yang mati dan sengsara akibat pemakaian barang haram tersebut. Jika demikian, di sini berlaku hukum gigi-ganti gigi, mata ganti mata. Kejahatan dibalas dengan kejahatan. Kalau demikian, siapa yang lebih baik?Bukankah hal itu hanya melahirkan mata rantai kejahatan yang tak kunjung putus?

Maka perkataan Yesus dalam bacaan Injil amatlah relevan. Yesus membangun Spiritualitas Non Violence. Melawan tanpa kekerasan. Yesus mengatakan, jika seorang menampar pipi kananmu, berilah juga pipi kirimu. Menampar dalam Kitab suci, seturut kebiasaan orang di Israel, adalah memukul pipi kanan orang lain dengan telapak tangan kanan bagian luar. Tamparan ini tidak menimbulkan rasa sakit, tetapi sebuah bentuk penghinaan. Yang sakit bukan pada wajah secara fisik, tetapi ”sakitnya tuh di sini” [merujuk pada hati] karena dipermalukan. Dengan memberikan kesempatan untuk menampar lagi pipi kiri, adalah bentuk ”sinis”, bahwa apa yang dilakukan itu tidak baik. Maka, kita membalasnya bukan dengan kekerasan atau tamparan, tetapi menyerang dan memukul kesadaran dan hati nuraninya. Dan sebenarnya itulah yang lebih sakit. Sebab kesadaran dan nurani adalah ruang batin yang mengendalikan seluruh sikap dan perilaku manusia.

Ya Tuhan, rahmatilah aku dengan kuasa Roh Kudus agar aku selalu mengutamakan kelemahlembutan dalam menghadapi setiap persoalan dan ketidakadilan yang terjadi. Amin.

Gambar ilustrasi ini diambil dari http://www.therecklessoptimist.com/

 

 

Tinggalkan Pesan