Apakah engkau orang Galilea

PEKAN PRAPASKAH IV (U)
Santo Gregorius l/Agung, Paus; Maximilianus;
Santo Theofanus; Beata Yustina dari Arezzo;

Bacaan I: Yer. 11:18-20

Mazmur: 7:2-3.9bc-10.11-12; R:2a

Bacaan Injil: Yoh. 7:40-53

Sekali peristiwa Yesus mengajar di Yerusalem. Beberapa orang di antara orang banyak, yang mendengarkan perkataan-perkataan Yesus, berkata: ”Dia ini benar-benar nabi yang akan datang.” Yang lain berkata: ”Ia ini Mesias.” Tetapi yang lain lagi berkata: ”Bukan, Mesias tidak datang dari Galilea! Karena Kitab Suci mengatakan, bahwa Mesias berasal dari keturunan Daud dan dari kampung Betlehem, tempat Daud dahulu tinggal.” Maka timbullah pertentangan di antara orang banyak karena Dia. Beberapa orang di antara mereka mau menangkap Dia, tetapi tidak ada seorang pun yang berani menyentuh-Nya. Maka penjaga-penjaga itu pergi kepada imam-imam kepala dan orang-orang Farisi, yang berkata kepada mereka: ”Mengapa kamu tidak membawa-Nya?” Jawab penjaga-penjaga itu: ”Belum pernah seorang manusia berkata seperti orang itu!” Jawab orang-orang Farisi itu kepada mereka: ”Adakah kamu juga disesatkan? Adakah seorang di antara pemimpin-pemimpin yang percaya kepada-Nya, atau seorang di antara orang-orang Farisi? Tetapi orang banyak ini yang tidak mengenal hukum Taurat, terkutuklah mereka!” Nikodemus, seorang dari mereka, yang dahulu telah datang kepada-Nya, berkata kepada mereka: ”Apakah hukum Taurat kita menghukum seseorang, sebelum ia didengar dan sebelum orang mengetahui apa yang telah dibuat-Nya?” Jawab mereka: ”Apakah engkau juga orang Galilea? Selidikilah Kitab Suci dan engkau akan tahu bahwa tidak ada nabi yang datang dari Galilea.” Lalu mereka pulang, masing-masing ke rumahnya.

Renungan

Baik dan buruk selalu berjalan bersamaan. Siapakah yang akan menjadi pembela kebenaran? Nabi Yeremia mengakui diri-Nya sebagai anak domba yang akan disembelih atau seperti pohon besar dan kuat, yang akan dipotong. Apakah maksudnya? Yeremia adalah orang saleh, simbol kebenaran. Dengan kepemimpinannya, umat Israel dituntun menuju kebenaran dan kesetiaan kepada Allah. Namun, dia harus berhadapan dengan para musuhnya. Ia harus menjadi hamba Allah yang menderita. Walaupun demikian, Allah Israel selalu berada di sisinya.

Demikian halnya dengan Yesus. Yesus memang seorang pribadi yang mengagumkan. Bagi sebagian orang, Ia diyakini sebagai seorang Nabi, bahkan Almasih. Para hamba imam agung pun menyegani dan menghormati Dia. Namun demikian, seteru-seteru Yesus masih saja berkeliaran. Orang-orang Farisi selalu memata-matai Yesus dan berusaha mencari kesalahan Yesus. Bahkan pertentangan di antara mereka semakin hari semakin seru. Nikodemus rupanya menjadi salah satu orang yang membela Yesus. Ia berani menyarankan agar Yesus diberi kesempatan untuk membela perkara-Nya. Namun, tentu saja Allah Bapa-lah yang menjadi pembela utama-Nya.

Pasti akan ada pembela jika kita berjuang demi kebenaran. Dan satu hal yang pasti bahwa Tuhan berada di pihak yang benar. Sebagai pengikut jalan Tuhan, sudah sepantasnya kita senantiasa hidup di jalan yang benar, jalan keselamatan, yang telah Tuhan tunjukkan kepada kita. Mungkin saat ini kita sedang di luar jalur keselamatan itu, maka mari kita berbenah diri dan segera kembali ke jalan yang benar agar beroleh keselamatan, di dunia dan di akhirat.

Ya Allah, jadikanlah aku mampu mengikuti Hamba-Mu yang menderita agar aku ditebus dengan Darah-Nya yang mulia dan dihidupi dengan Tubuh-Nya yang suci. Amin.

Tinggalkan Pesan