Yesus memilih 12 rasul

PEKAN BIASA II (H)
Santo Anastasius; Santo Vinsensius Palloti;
Beata Laura Vicuna

Bacaan I: 1Sam 24:3-21

Mazmur: 57:2.3-4.6.11; R:2a

Bacaan Injil: Mrk 3:13-19

Pada suatu hari Yesus naik ke atas bukit. Ia memanggil orang-orang yang dikehendaki-Nya dan mereka pun datang kepada-Nya. Ia menetapkan dua belas orang untuk menyertai Dia dan untuk diutus-Nya memberitakan Injil dan diberi-Nya kuasa untuk mengusir setan. Kedua belas orang yang ditetapkan-Nya itu ialah: Simon, yang diberi-Nya nama Petrus, Yakobus anak Zebedeus, dan Yohanes saudara Yakobus, yang keduanya diberi-Nya nama Boanerges, yang berarti anak-anak guruh, selanjutnya Andreas, Filipus, Bartolomeus, Matius, Tomas, Yakobus anak Alfeus, Tadeus, Simon orang Zelot, dan Yudas Iskariot, yang mengkhianati Dia

Renungan

Menjelang Pemilihan Presiden RI periode 2014–2019, para kandidat memilih orang-orang kepercayaan yang dapat menyertai perjalanan mereka selama kampanye, termasuk memberikan masukan kepada tim untuk mengalahkan kandidat lain. Ada berbagai strategi untuk memenangkan pemilihan sekaligus mematikan atau mengalahkan kandidat lawan. Mulai dari cara positif sampai negatif. Halal dan tidak halal semua dikerahkan untuk tampil sebagai pemenang. Pada akhirnya terpilihlah seorang Presiden RI dari sebuah proses demokrasi yang penuh intrik dan licik.

Hal ini tentu jauh berbeda dengan cara Yesus memilih kedua belas murid-Nya. Tugas mereka jelas. Pertama, menyertai Yesus dalam perjalanan dan pelayanan pastoral-Nya. Kedua, memberitakan Injil. Kepada mereka Yesus tidak pernah mengajarkan untuk menggunakan cara kekerasan dan cara-cara tidak halal dalam misi perutusan mereka. Yesus fokus kepada misi perutusan-Nya, yakni mengajak semakin banyak orang untuk bertobat dan memberitakan kabar gembira yang menuntun manusia pada kebahagiaan sejati dan keselamatan kekal.

Apakah kita sebagai pengikut Tuhan sungguh berusaha untuk menggunakan cara-cara yang baik, menarik, inspiratif dan benar dalam mewartakan kabar baik bagi sesama? Pernahkah kita tergoda untuk menggunakan cara kekerasan dan intimidasi dalam upaya mencapai tujuan kita atau dalam mewartakan kabar gembira? Semoga tidak demikian.

Ya Allah, terangilah budi dan hatiku agar aku tahu menggunakan cara-cara yang baik dan benar dalam usaha mencapai tujuan. Jauhkanlah aku dari cara-cara yang tidak halal. Terutama ajarlah aku cara yang benar dan berdaya guna dalam mewartakan Kabar Baik. Amin.

Tinggalkan Pesan