2 Desember 2015

MASA ADVEN I (U) 

Santa Bibiana; Beata Maria Angela Astorch;

Santo Edmund Campion; Santo Robertus Southwell

Bacaan I: Yes. 25:6-10a

Mazmur: 23:1-6; R:6cd

Bacaan Injil: Mat. 15:29-37

Pada suatu ketika, Yesus menyusur pantai danau Galilea dan naik ke atas bukit lalu duduk di situ.Kemudian orang banyak berbondong-bondong datang kepada-Nya membawa orang lumpuh, orang timpang, orang buta, orang bisu dan banyak lagi yang lain, lalu meletakkan mereka pada kaki Yesus dan Ia menyembuhkan mereka semuanya. Maka takjublah orang banyak itu melihat orang bisu berkata-kata, orang timpang sembuh, orang lumpuh berjalan, orang buta melihat, dan mereka memuliakan Allah Israel. Lalu Yesus memanggil murid-murid-Nya dan berkata: ”Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak itu. Sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan. Aku tidak mau menyuruh mereka pulang dengan lapar, nanti mereka pingsan di jalan.” Kata murid-murid-Nya kepada-Nya: ”Bagaimana di tempat sunyi ini kita mendapat roti untuk mengenyangkan orang banyak yang begitu besar jumlahnya?” Kata Yesus kepada mereka: ”Berapa roti ada padamu?” ”Tujuh,” jawab mereka, ”dan ada lagi beberapa ikan kecil.” Lalu Yesus menyuruh orang banyak itu duduk di tanah. Sesudah itu Ia mengambil ketujuh roti dan ikan-ikan itu, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya memberikannya pula kepada orang banyak. Dan mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang sisa, tujuh bakul penuh.

Renungan

Hadir dalam pesta atau perjamuan merupakan kesempatan yang menyenangkan. Bukan makanan yang utama tapi suasana keakraban dan persaudaraan. Kita bisa bertemu dengan saudara-saudara dan teman-teman. Kita bisa berbagi cerita, melepas rindu dan mengenangkan memori indah. Suasana seperti itu tentu mendatangkan kegembiraan.

Nabi Yesaya dalam bacaan pertama menggambarkan akhir zaman sebagai perjamuan agung. Tuhan Allah menyediakan segalanya bagi kita. Kita dijamu-Nya dengan hidangan yang terbaik. Dia mencukupkan segala kebutuhan kita. Pada saat itu, derita dan maut tidak ada lagi. Semua manusia dipenuhi oleh sukacita dan kegembiraan.

Setiap kali kita merayakan Perayaan Ekaristi, kita dijamu oleh Tuhan sendiri. Tuhan menjadi tuan rumah yang ramah bagi kita semua. Ia menyegarkan kita dan memberikan kelegaan bagi kita. Setelah itu, giliran kita untuk menjadi tuan rumah yang ramah bagi sesama dan segala makhluk. Kita mesti berupaya menghadirkan suasana yang akrab dan penuh persaudaraan bagi segenap ciptaan. Kita mesti pula berusaha mendatangkan kebahagiaan bagi sesama. Bersediakah kita? Apa yang mesti saya buat agar dapat membahagiakan sesama? Apa yang dapat saya lakukan untuk menjadi tuan rumah yang ramah bagi segenap makhluk?

Ya Tuhan yang mahabaik, puji syukur atas kebaikan-Mu yang tiada henti-hentinya bagiku. Mampukan aku untuk menjadi tuan rumah yang ramah bagi segenap ciptaan-Mu agar kebaikan-Mu semakin nyata di muka bumi ini. Amin.

 

Tinggalkan Pesan