Hanya Tuhan yang tahu itu. Saya tidak bisa memprediksi itu (Screenshot oleh PEN@ Katolik/pcp)
Hanya Tuhan yang tahu itu. Saya tidak bisa memprediksi itu (Screenshot oleh PEN@ Katolik/pcp)

Suster Mary Stephen Healey RDC adalah biarawati berusia 91 tahun yang sudah menjadi kepala Sekolah Bunda Maria dari Gunung Karmel di Elmsford, New York, selama 55 tahun, dan terus bersama para muridnya bahkan selama pandemi Covid-19. Dia tahu dia dibutuhkan, dan Tuhan telah memberinya rahmat untuk terus berkarya.

Suster Mary pernah berkata, “Saya rasa ada banyak momen saat saya benar-benar yakin bahwa saya berada di tempat yang tepat dan waktu yang tepat.” Para murid yang melihatnya setiap hari di ruang masuk sekolah kagum dengan keberanian suster itu, dan mereka berharap kesehatannya tidak terpengaruh.

Michael Deegan, pengawas sekolah-sekolah untuk Keuskupan Agung New York, gambarkan suster, yang sudah 71 tahun jadi anggota kongregasi Religius of the Divine Compassion (RDC) itu, dengan istilah ini, “Seorang wanita yang berbelas kasih dan berbakti yang terus terang mengutamakan kebutuhan anak-anak daripada kebutuhan orang lain, termasuk dirinya sendiri.”

Current News membagikan pada YouTube serangkaian kesaksian dari para siswa, guru, dan pejabat keuskupan tentang biarawati yang nonagenarian atau sudah berusia antara 90 sampai 99 tahun itu, yang, tidak mau mengatakan apa-apa tentang dirinya sendiri. Dia lebih suka memuji para guru dan terus memikirkan cara membantu para murid, terutama selama pandemi.

Dalam video itu dia mengatakan, “Begitu banyak orang mengatakan kepadamu, ‘Oh, anak-anak sangat tangguh.’ Ya, mereka ulet. Tapi saya bisa mengatakan kepadamu, dari kelas paling bawah ke kelas atas, anak-anak ini sangat dipengaruhi oleh apa yang terjadi.”

Dan anak-anak itu mengandalkan teladan Suster Mary untuk membuat mereka kuat dan penuh harapan. Faktanya, seorang murid mengatakan, dia masih mengharapkan suster itu dalam waktu lama. Dan Suster Mary juga berbicara tentang berapa lama dia masih akan bertanggung jawab atas sekolah itu, “Hanya Tuhan yang tahu itu. Saya tidak bisa memprediksi itu. Tapi saya kira saya akan tahu, dan saya kira Dia akan bantu saya.”

Dampak yang dia berikan pada para muridnya bukan hal baru. Pastor Anthony Andreassi SJ menerbitkan penghormatan bagi suster itu di bulan Maret ini, dalam artikel di situs majalah Amerika. “Pahlawan pujaanku Suster Stephen (dan saya tidak gunakan istilah itu secara sembarangan) dimulai beberapa dekade sebelum kesaksian saya tentang kepemimpinannya selama pandemi… Suster Stephen telah menjadi pahlawanku sejak saya bertemu dengannya 40 tahun lalu. Dan saya tahu saya sama sekali tidak sendirian,” tulis imam itu.

Dia menyoroti dedikasi suster itu selama pandemi dan selama beberapa dekade pengabdiannya sebelumnya. “Begitu banyak kesuksesan kami di Gunung Karmel adalah berkat pribadi Suster Stephen dan komitmennya yang kuat kepada para murid dalam kepeduliannya memberikan pendidikan Katolik yang membentuk pribadi seutuhnya.”

Sikap suster itu tetap sama meski demografi sekolah itu berubah selama bertahun-tahun, dari anak-anak imigran Eropa hingga kelompok yang jauh lebih beragam termasuk banyak orang Amerika keturunan Hispanik. “Seperti halnya Suster Stephen dengan murah hati menyambut saya lebih dari empat dekade lalu, dia terus menyambut generasi terbaru para murid,” tulis Pastor Andreassi.(PEN@ Katolik/paul c pati/Magnús Sannleikur/Aleteia)

Klik dan saksikan video Suster Mary dalam ruang kelas oleh Current News

Suster Mary 5Sr Mary 2Suster Mary 6

Tinggalkan Pesan