28-Juli-KWI-R-702x336

PEKAN BIASA XVII (H)

Santo Nasarius dan Selsus;
Santo Viktor dan Innosensius

Bacaan I: Kel. 33:7-11; 34:5b-9.28

Mazmur: 103:6-13; R:8a

Bacaan Injil: Mat. 13:36-43

Pada  suatu hari Yesus meninggalkan orang banyak, lalu pulang. Murid-murid-Nya datang dan berkata kepada-Nya: ”Jelaskanlah kepada kami perumpamaan tentang lalang di ladang itu.” Ia menjawab, kata-Nya: ”Orang yang menaburkan benih baik ialah Anak Manusia; ladang ialah dunia. Benih yang baik itu anak-anak Kerajaan dan lalang anak-anak si jahat. Musuh yang menaburkan benih lalang ialah Iblis. Waktu menuai ialah akhir zaman dan para penuai itu malaikat. Maka seperti lalang itu dikumpulkan dan dibakar dalam api, demikian juga pada akhir zaman. Anak Manusia akan menyuruh malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan mengumpulkan segala sesuatu yang menyesatkan dan semua orang yang melakukan kejahatan dari dalam Kerajaan-Nya. Semuanya akan dicampakkan ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi. Pada waktu itulah orang-orang benar akan bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Bapa mereka. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!”

Renungan

Belas kasihan Tuhan sungguh luas dan dalam, indra manusiawi tak mampu untuk menyelaminya. Misteri ini nyata dalam pengalaman Musa bersama orang-orang Israel. Musa, di satu pihak sangat gusar dengan kelakuan orang-orang Israel yang beralih kiblat dari Yahweh kepada patung emas sebagai sembahannya. Tetapi di lain pihak, Musa tak mau saudara-saudara sebangsanya ini binasa karena tingkah lakunya seperti ini. Karena itu, Musa pergi menghadap Tuhan dan memohon agar saudara-saudaranya itu diampuni. Malah Musa mempertaruhkan dirinya sendiri; akan mundur dari tugas memimpin Israel dan meminta menghapus namanya dari kitab yang Tuhan telah tulis. Benar, Tuhan mengampuni mereka dan membiarkan Musa untuk melanjutkan tugas kepemimpinannya.

Sungguh, iblis telah masuk ke dalam dunia dan menaburkan benih kejahatan di dalam hati kita, agar hati kita ditarik jauh dari Allah kepada perbuatan dosa yang menawarkan nikmat sesaat namun mengandung laknat yang abadi. Sebagaimana Musa mempertaruhkan diri untuk memulihkan kembali kepercayaan Allah kepada umat-Nya dan menyadarkan umat Israel untuk kembali hanya menyembah kepada Allah, demikianpun Gereja, melalui para pegiat pastoral, selalu berusaha, di satu pihak menyadarkan umat akan dosa yang mereka lakukan, dan di lain pihak selalu memohon rahmat belas kasihan Tuhan untuk umat. Atas dasar itulah, mengapa Gereja selalu mengajak umat untuk menerima Sakramen Tobat sesering mungkin. Dalam Sakramen Tobat itu, imam hadir sebagai wakil Kristus yang memberikan pengampunan kepada mereka yang bertobat.

Tuhan, bantulah aku agar aku sanggup menjadi ragi dan garam bagi dunia serta percaya bahwa aku bisa mengubah dunia dengan pertama-tama mengubah diri saya sendiri. Amin.

 

Tinggalkan Pesan