Ketua Badan Pengurus Yayasan Santo Dominikus (YSD) Suster Albertine OP
Ketua Badan Pengurus Yayasan Santo Dominikus (YSD) Suster Albertine OP

Seluruh civitas Yayasan Santo Dominikus mendukung dan terinspirasi oleh keberanian, kegigihan dan passion kemanusiaan dari salah satu alumnusnya, dokter Theresia Monika Rahardjo yang tengah berjuang menemukan plasma sebagai penangkal Covid-19 sebagai tanda baktinya bagi negeri yang sedang berduka.

Ketua Badan Pengurus Yayasan Santo Dominikus (YSD) Suster Albertine OP berbicara dalam perayaan Hari Pendidikan Nasional tanpa upacara sesuai edaran Kemendikbud, tapi secara online dari kantor Yayasan Santo Dominikus (YSD) Pusat di Jalan Kembangraya 179, Maguwoharjo, Yogyakarta, 2 Mei 2020, menyapa para guru dan anggota civitas yang tersebar di beberapa kota di Indonesia.

Suster Albertine, didampingi Suster Karina OP sebagai sekretaris dan Suster Helena OP sebagai bendahara badan pengurus serta staf kantor, Miss Arta Murti dan Katarina Ninuk, mengajak seluruh civitas untuk “Belajar dari Covid-19.”

Kita, tegas Suster Albertine, “memang sedang berada dalam situasi gelap, namun saatnya kita belajar banyak aspek dari Covid-19. Kita percaya every cload has a silver lining (Setiap awan memiliki pendar garis perak).”

Menurut pengamatan PEN@ Katolik, Dokter Theresia Rahardjo pernah menjelaskan di Metro TV tentang Terapi Plasma Konvalesen (TPK) dan apa saja kriteria donor dan resipien serta waktu pemberian sehingga terapi itu bisa memberikan hasil semaksimal mungkin. Penjelasan pun diberikan tertulis di Media Indonesia dengan judul “Plasma Konvalesen Sembuhkan Covid-19.” Banyak media menulis tentang TPK, dan menurut informasi, dokter itu mengusulkan kepada pemerintah untuk melakukan TPK yang menurutnya mampu menyembuhkan pasien virus corona.

Pencapaian itu, menurut Suster Albertine, “juga menjadi inspirasi bagaimana belajar dari Covid-19.” Lebih dari itu, “ini semangat yang akan kita bangun untuk memaknai hari pendidikan ini, yakni mengajak seluruh civitas akademika sekolah di bawah YSD untuk mau merestorasi hidup dan semangat mewujudkan proses hominisasi, humanisasi dan divinisasi secara utuh.”

Hominisasi adalah usaha menjadikan manusia tahu dan mau bertindak sebagai manusia dalam konteks saat ini, humanisasi adalah usaha membentuk seluruh sikap dan tindakan seseorang untuk jadi semakin manusiawi dan bertindak atas dorongan kemanusiaannya untuk mengatasi keterbatasan diri, dan divinisasi adalah usaha menjadikan seseorang makin spiritual sehingga siap beradaptasi dan memaknai setiap kesulitan dengan semangat iman, jelas suster.

Ketika tiba-tiba gaya mengajar dan gaya belajar harus dilakukan secara berbeda karena Covid-19, kata Suster Albertine, “sesaat memang kita gamang dan ragu, namun lama-kelamaan kita dituntun makin percaya diri dalam penggunaan teknologi, dan berani membuka peluang kolaborasi dengan siswa dan orang tua untuk pembelajaran daring atau online secara merdeka.”

Dan, lanjut Suster Albertine, “itu selaras dengan tujuan utama pendidikan menurut Prof Driyarkara yakni ‘memanusiakan manusia muda’ yang melibatkan ketiga proses proses itu.

Suster mengakui, proses itu tidak mudah karena sarat nilai-nilai hidup. “Menurut buku Parenting dalam Family Discovery, belajar dari Covid-19 membutuhkan kesaksian hidup nyata dari pendidik utama maupun pendidik di sekolah Dominikan yang rela menerapkan 5T, yakni time, telling, teaching, training dan togetherness,” kata Suster Albertine.

Time adalah “Memberikan dan memaknai waktu saat ini secara berkualitas untuk mendampingi dan mendengarkan”, telling adalah “Sharing iman yang mampu meneguhkan yang berduka dan galau, membuat anak atau siswa berani mengungkapkan perasaan dan hati terdalam, dan teaching adalah “pengajaran dan preaching yang tak hanya memberikan knowledge tapi juga spirit yang membuat anak menemukan spirit untuk berani menatap wabah ini dengan semangat iman dan penuh harapan,” jelas suster.

Training adalah kesaksian hidup yang baik, sehat, dan utuh yang bisa dilihat dan dialami siswa. “Cara paling efektif dalam pendidikan adalah dengan prinsip “Students see, Students do,” lanjut suster. Yang dilihat dalam diri pendidik, menurut suster, harus selaras dengan yang dikatakan orangtua dan pendidik sendiri. “Nemo dat Quod non habet (orang tidak bisa memberikan apa yang tidak dimiliki). Maka dalam mengajarkan nilai-nilai, orangtua dan guru harus lebih dulu memiliki nilai-nilai kebaikan dan kebajikan. Dan saat pandemi inilah guru dan orangtua menampilkan hidup penuh harapan!” minta suster.

Wabah Covid-19 menjadi saat berkualitas untuk membangun kebersamaan dan kesatuan visi dalam pendidikan anak lewat ‘work from home’ dan ‘learning from home’, kata suster saat menjelaskan tentang togetherness. “Kebersamaan dan keterlibatan afeksi, spirit dalam kebersamaan ini sangat penting untuk bisa menumbuhkan ketahanan dan imun yang baik untuk bisa bertahan di tengah badai ini,” tegas suster.

Pada Hari Pendidikan Nasional ini, kata Suster Albertine, Yayaan Santo Dominikus secara khusus mengajak seluruh civitas untuk mawas diri dan berefleksi supaya perannya di tengah pandemi lahir dari kekayaan spiritualitas dan intelektualitas yang dalam. “Sebab masyarakat saat ini tidak banyak membutuhkan guru, kecuali jika kita menjadi saksi dalam menyikapi Covid-19 ini.”(PEN@ Katolik/paul c pati)

Monica

YSD 5YSD 2

Tinggalkan Pesan