10482590_1136696239677837_5374861979096122110_n

Sekitar 600 OMK dari paroki-paroki di Keuskupan Purwokerto “diambil, diberkati, dipecah dan dibagikan” selama empat hari tiga malam, 25-28 Juni 2015,  dalam serangkaian kegiatan Purwokerto Diocese Youth Day yang dikenal dengan PDYD 2015.

Menurut Koordinator Organizing Committee PDYD 2015 Adventin Puput Putu Aryani, tujuan PDYD 2015 adalah memupuk rasa kebersamaan dan saling memiliki serta mempersatukan OMK Keuskupan Purwokerto, dan memperkuat spiritualitas OMK serta mendongkrak kebanggaan OMK.

PDYD 2015, lanjut anggota Komisi Kepemudaan Keuskupan Purwokerto itu, juga digelar untuk mengajak OMK agar memahami sejarah Keuskupan Purwokerto dan menyadari identitas mereka sebagai orang Katolik dengan kapasitas yang dimiliki, “sehingga OMK siap diutus mewartakan Kerajaan Allah sesuai visi Keuskupan Purwokerto dengan dibekali keterampilan-keterampilan dasar sesuai potensi mereka.”

PDYD 2015 yang dilaksanakan di Paroki Katedral Kristus Raja dengan melibatkan Paroki Santo Yosef Purwokerto Timur dan sekolah-sekolah Katolik di Purwokerto, tegas Puput, juga “menanamkan nilai-nilai persaudaraan, kebersamaan, magis (tahan uji dan bersemangat maju), dan iman Katolik yang dikemas dalam gaya OMK.”

Di hari pertama, jelas Puput, peserta ‘diambil’. “Saat itu, peserta dari 25 paroki sekeuskupan disadarkan bahwa mereka adalah orang-orang yang dipilih Allah.” Dalam acara “History and Responsibility,” Pastor Stefanus Heriyanto Pr berupaya membentuk OMK menjadi bertanggungjawab pada sejarah. Acara itu diselingi pemutaran film-film singkat terbaik hasil lomba film sejarah paroki.

Di hari kedua, OMK disadarkan bahwa mereka adalah orang-orang ‘terberkati’.“Kesadaran mereka didongkrak untuk bangga dengan iman Katolik, dan bangga sebagai OMK Keuskupan Purwokerto,” kata Puput seraya menceritakan acara “Spirit of Catholic Youth” yang disampaikan oleh Pastor Dwi Harsanto Pr. “Teman-teman diajak untuk selalu semangat mengikuti Kristus dan mewartakan kabar sukacita ke tengah dunia,” katanya.

Penjelasan tentang jati diri OMK yang rentan godaan, namun tetap memiliki energi yang membuat mereka aktif dan dinamis adalah program hari ketiga yang dinamakan ‘dipecah.’ Maka, tahap itu diawali dengan kembali ke Bapa yang baik hati lewat adorasi, yang berpuncak pada pengakuan dosa.

Sebelum ‘dibagi’, peserta dibekali dengan empat workshop yakni jurnalistik, social-entrepreneurship, teater dan liturgi yang hidup. “Pewartaan dengan menggunakan media tulis-menulis sering dirasa asing, sulit, dan menyeramkan, padahal tulisan adalah media yang masih digunakan secara masif untuk menyampaikan ide atau gagasan,” kata Puput. Dia berharap pelatihan menulis membuat OMK tidak takut lagi untuk menuliskan gagasan dan mewartakannya.

“Tidak dapat dipungkiri, kebutuhan lapangan pekerjaan menjadi tujuan bagi kebanyakan OMK yang lulus SMA atau sederajat, apalagi yang menyandang gelar sarjana,” kata Puput yang berharap agar workshop social-entrepreneurship memunculkan kreativitas OMK untuk memikirkan peluang kerja bahkan membuka lapangan kerja.

OMK kerap tidak memiliki kepercayaan dan keyakinan bahwa diri, tubuh, dan segala tindakan mereka adalah anugerah yang diberikan Allah sebagai media pewartaan yang efektif. Maka, kata Puput, workshop teater bukan hanya melatih berteater tapi “memberi dasar-dasar bagi kepercayaan diri untuk tampil penuh keberanian, bersyukur atas anugerah yang Tuhan beri atas fisik dan suara mereka untuk mewartakan Kristus ke tengah dunia dengan cara-cara kreatif dan menarik.”

Paus Fransiskus dalam Evangelii Gaudium menyinggung homili yang hidup, yang sungguh hidup dan menarik, karena dimulai dengan persiapan, tanpa meninggalkan Sabda dan pengalaman hidup harian. “OMK, di satu sisi, kerapkali menjadi manusia yang paling jujur ketika mengikuti ritus liturgi. Kalau liturgi ‘tak menarik’, mereka spontan tak memperhatikan, ribut, bahkan sibuk sendiri. Permasalahan inilah yang coba diatasi dengan pelatihan ‘Liturgi yang Hidup’ yang disertai sharing kisah OMK yang mengalami perubahan pandangan dan kehidupan karena liturgi yang hidup.

Pelatihan itu diakhiri dengan penyusunan teks perayaan Ekaristi, membuat bagian-bagian yang tidak pokok dan bisa diubah sesuai dengan pengalaman OMK agar lebih hidup dan menyentuh.

Di hari keempat yang disebut ‘dibagi’, peserta disadarkan bahwa mereka siap membagikan anugerah yang didapat dari Tuhan. “Setelah dibekali dengan empat tema workshop, OMK diutus kembali ke tengah dunia yang terluka, berjuang mewartakan kabar sukacita sesuai potensi dan ketrampilan mereka.”

Setelah setiap paroki menampilkan pentas seni dan rencana tindak lanjut, PDYD 2015 diakhiri dengan Misa. Kini peserta kembali ke paroki masing-masing, namun mereka siap berbagi. Fidelis dari Stasi Bumiayu, Katedral, menyadari bahwa hidup cuma sekali, maka “buatlah berarti dengan berbagi. Kamu gak akan rugi. It’s not about me, it’s not about you. Ini tentang Tuhan yang kita kasihi.”(kristiana widianti)

11666302_1136680409679420_5916264172615859534_n

11259940_1136696293011165_7044742260521390409_n

 

 

Bagikan
Artikel sebelumSelasa, 7 Juli 2015
Artikel berikutRabu, 8 Juli 2015

Tinggalkan Pesan