Mgr-Johannes-Maria-Trilaksyanto-Pujasumarta_01

Bagi Uskup Agung Semarang Mgr Johannes Pujasumarta, Tahun Hidup Bakti menjadi kesempatan untuk bersyukur atas panggilan Tuhan “yang boleh saya dengar, saya tanggapi, saya laksanakan, saya syukuri sampai sekarang.” Di saat yang sama, prelatus itu mengajak para imamnya untuk bersyukur atas anugerah imamat yang boleh tumbuh, boleh menjadi semakin kuat dalam diri mereka.

“Beberapa waktu terakhir ini saya merenungkan peristiwa-peristiwa yang telah saya alami berkaitan dengan sejarah kehidupan panggilan saya. Itu yang meneguhkan saya tetap setia,” ungkap Mgr Pujasumarta seraya menceritakan sejarah panggilan imamatnya dalam sebuah homili Misa di Gereja Katedral Santa Perawan Maria Ratu Rosario Semarang baru-baru ini.

Menurut uskup agung itu, panggilan itu didengar lewat keluarganya yang menghidupi keluarga sebagai Gereja, karena orangtuanya menjadi pembina iman bagi anak-anaknya melalui peristiwa-peristiwa hidup sehari-hari. “Saya masih ingat, di masa kanak-kanak kami dibiasakan berdoa bersama setiap petang datang,” Mgr Pujasumarta memulai ceritanya.

Doa diawali doa rosario yang dipimpin oleh anggota keluarga secara bergiliran. Lalu dilanjutkan dengan doa malam. “Waktu doa malam, ibu biasanya menyiapkan doa permohonan, agar kalau Tuhan mendengar, berkenanlah memanggil dua anak laki-laki yang ada di rumah itu untuk menjadi imam.”

Namun sebagai kanak-kanak waktu itu, Mgr Pujasumarta dan beberapa saudara-saudarinya mulai mengantuk. “Dan ibu sengaja memperkeras suaranya agar doanya didengar oleh Tuhan, tapi juga terutama didengar oleh anak-anak yang duduk berdoa itu. Tuhan pasti mendengar doa yang dipanjatkan dengan tulus. Kita bisa bersyukur, betapa indah panggilan-Mu, Tuhan,” kata prelatus itu.

Waktu liburan, ada anak-anak Seminari Menengah Mertoyudan mengikuti Misa harian di gereja parokinya, Gereja Santo Petrus Purwosari Kleca Surakarta yang direksa oleh para imam Tarekat Keluarga Kudus (MSF). Melihat hal itu, muncullah keinginannya untuk menjadi seperti mereka, bersekolah di Seminari Menengah Mertoyudan.

Panggilan itu semakin bergema ketika pastor-pastor paroki kerap berkunjung ke keluarganya untuk menyapa. “Kedekatan para romo dengan keluarga kami menjadi peristiwa yang meneguhkan saya untuk masuk seminari,” kata Mgr Pujasumarta.

Tahun 1962, saat duduk di kelas 6 SD, seorang bapak guru agama bertanya, “Adakah di antara anak-anak yang ingin menjadi imam?” Waktu itu, Mgr Pujasumarta kecil dan beberapa temannya mengacungkan tangan, tanda ingin menjadi imam.

Benar, setelah lulus, Mgr Pujasumarta mendaftar di Seminari Mertoyudan dan menjadi seminaris. Bila libur, Mgr Pujasumarta pulang ke rumah orangtuanya di Kleca Surakarta dengan naik kereta api. Namun, selesai liburan terasa berat untuk kembali ke seminari. “Saat berpisah dan berpamitan dengan orangtua terasa berat, tidak sanggup saya menahan linangan air mata.”

Sekitar 280 imam, sejumlah biarawan-biarawati, serta umat, termasuk anak-anak dan remaja, mendengar kisah perjalanan panggilan Mgr Pujasumarta dalam Misa Krisma tanggal 31 Maret 2015 itu.

Cerita itu dilanjutkan. Ketika berada di Seminari Tinggi Santo Paulus, semakin kuat keinginannya sebagai frater untuk menanggapi panggilan Tuhan, menjadi imam diosesan Keuskupan Agung Semarang. Maka, pada saatnya, 25 Januari 1977, Mgr Pujasumarta ditahbiskan imam.

Untuk mengisi kekosongan imam di Keuskupan Bandung, Paus Benediktus XVI mengangkat Pastor Johannes Pujasumarta Pr menjadi Uskup Bandung, 16 Juli 2008. Pada perayaan tahbisan, ibundanya maju membawa cincin dan menyerahkannya kepada uskup penahbis Julius Kardinal Darmaatmadja SJ untuk dikenakan pada jari manis kanan Mgr Pujasumarta. Namun peristiwa itu dikaitkannya dengan peristiwa ibu dan bapaknya saat saling menerimakan sakramen perkawinan, saat berjanji untuk saling mengasihi dan setia, dalam suka dan duka, untung dan malang, dan dalam keadaan sehat dan sakit.

Itulah yang dihidupi Mgr Pujasumarta dalam menapaki panggilan imamatnya. “Aku setia kepada-Mu dalam suka duka kehidupan, dalam untung dan malang, dalam keadaan sehat maupun sakit. Betapa indah panggilan-Mu, Tuhan,” kata uskup agung itu.

Menjadi imam memang sangat indah, tegas uskup yang sekarang berkarya juga sebagai sekretaris jenderal KWI itu. “Maka, saya tawarkan pengalaman indah ini kepada anak-anak, agar membuka hati, mendengarkan panggilan Tuhan, dan menyediakan diri untuk menjadi imam, betapa indah panggilan-Mu, Tuhan.” (Lukas Awi Tristanto)

 

Tinggalkan Pesan