Tebat (1)

Hampir semua mukjizat Tuhan dimulai dengan doa syukur. Sebelum membuat mukjizat 5 roti dan 2 ikan, Tuhan Yesus mengawalinya dengan doa syukur. Itu pun dilakukan ketika akan membangkitkan Lazarus. “Doa-Nya adalah doa syukur. Maka semakin banyak umat yang bersyukur menurut saya semakin baik.”

Pastor Rochadi Widagdo Pr berbicara dalam Temu Kebatinan (Tebat) Katolik XXVII di Gua Maria Kerep Ambarawa, 14-15 Maret 2015. Pastor yang kini menjalani tugas perutusan di Keuskupan Agung Jakarta itu lalu mengajak peserta untuk selalu bersyukur karena “syukur adalah doa yang luar biasa.”

Acara yang digelar oleh Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang (Komisi HAK KAS) itu juga menghadirkan Ketua Komisi HAK KAS Pastor Aloys Budi Purnomo Pr dan Ustaz Yusuf Daud yang pernah mendapat beasiswa dari Vatikan untuk belajar Comparative Religions di tiga universitas di Roma, Italia, termasuk Universitas Gregoriana.

Biasanya, menurut Pastor Rochadi dalam tebat bertema “Mensyukuri Indahnya Keberagaman, Merefleksi Batin dan Evaluasi Diri” itu, orang baru bersyukur saat kerinduannya tercapai. “Kalau kerinduan atau angan-angan tercapai baru kita bersyukur,” kata imam itu seraya meminta peserta untuk bersyukur pertama-tama karena diberi hidup oleh Tuhan.

Kehadiran Tuhan dalam hidup adalah yang terpenting. Tuhan itu, bisa hadir dalam tiga cara, yakni dalam kebaikan, dalam kebenaran dan dalam keindahan. “Semua yang diciptakan oleh Tuhan itu indah. Tidak ada yang diciptakan Tuhan tidak indah,” kata imam itu.

Alasan bersyukur disampaikan juga oleh Pastor Aloys Budi Purnomo Pr. Menurut imam itu, penyertaan dan kasih Allah adalah alasan untuk bersyukur, meskipun tidak mudah mengucap syukur dalam segala hal, terlebih ketika sedang berduka, putus asa dan menderita.

“Namun, tidaklah mustahil untuk bersyukur senantiasa justru karena kita boleh mengandalkan kasih setia-Nya yang senantiasa dilimpahkan kepada kita. Bahkan, kasih setia-Nya dinyatakan kepada kita kian berlimpah di saat kita lemah,” kata imam itu.

Sementara itu, Ustaz Yusuf Daud mengajak peserta untuk mensyukuri keberagaman. “Kemajemukan agama merupakan realitas  konkret, suka atau tidak. Meski semua penganut agama yang beragam itu meyakini bahwa Tuhan adalah Maha Esa, namun kenyataannya di muka bumi ini terdapat macam- macam agama,” kata ustaz yang mendalami tasawuf itu.

Dalam konteks Indonesia yang majemuk, kata ustaz, pandangan-pandangan keagamaan yang toleran dan inklusif perlu terus diupayakan dan disosialisasikan betapa pun kerasnya benturan dan hambatan yang seringkali datang meradang dari kelompok-kelompok yang berpandangan sempit dan merasa benar sendiri serta tidak menyetujuinya.(Lukas Awi Tristanto)

Tebat (2)

Tinggalkan Pesan