101_7311

Dosa telah mengubah posisi manusia sebagai pengelola harta kekayaan bumi, dan berlagak sebagai pemilik aslinya. Padahal segala kekayaan dunia itu hanyalah “titipan” dari Sang Pencipta. Tiada manusia yang datang ke dunia sudah membawa serta harta kekayaan. Setiap manusia dilahirkan ke dunia dengan telanjang bulat, tak memiliki apa-apa.

Uskup Agung Makassar Mgr John Liku-Ada’ mengingatkan hal ini dalam Surat Gembala Prapaskah 2015 Keuskupan Agung Makassar dengan tema “Pola Hidup Sehat dan Berkecukupan” yang merupakan bagian dari tema pokok “Mewujudkan Hidup Sejahtera.”

Dosa, lanjut uskup agung, menyebabkan ketidakseimbangan keutuhan manusia sebagai makhluk jasmaniah-rohani, yang hanya menekankan segi kebutuhan jasmani-materiil. “Daya tarik materi melahirkan sikap mendewakan materi (materialisme), yang berujung pada pendewaan uang (mamon). Kerakusan akan materi juga mengubah fitrah asli manusia sebagai makhluk sosial menjadi makhluk individualistis, yang mengeksploitasi sesamanya.”

Tidak itu saja. “Alam lingkungan tidak lagi diperlakukan sebagai taman (Eden) yang harus dipelihara, melainkan dipandang sebagai tambang yang boleh dikuras habis demi kepentingan ekonomistik. Maka berkembanglah ilmu pengetahuan dan teknologi yang buta etika. Eksploitasi alam tanpa etika semacam ini sungguh merupakan ancaman serius bagi keberadaan umat manusia itu sendiri!”

Oleh karena itu, Mgr Liku Ada’ mengajak umatnya untuk menjadikan Yesus sebagai satu-satunya dasar dan model dalam upaya mengkonkretkan fitrah asli manusia, karena Manusia baru itu telah memulihkan fitrah asli manusia dan mengangkatnya.

“Dialah Sang Sabda yang menjelma (lih. Yoh. 1:1-18), menjadi ‘sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa’ (Ibr. 4:15). Sebelum mulai hidup dan berkarya di depan umum, Yesus berpuasa 40 hari dan dicobai (Mat. 4:1-12; Luk, 4:1-13). Cobaan pertama berupa godaan materiil. Yesus yang lapar digoda mengubah batu jadi roti. Yesus menolak dengan mengutip Kitab Suci (Ul. 8:3): ‘Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah’. Dengan itu, tulis surat gembala itu, Yesus mengajarkan cara menghayati jati diri asli kita sebagai makhluk jasmani-rohani, segi rohani mengarahkan segi jasmani, bukan sebaliknya.

Menurut Gerakan APP Nasional 2015, pola hidup sehat berarti melakukan kegiatan olah rohani dan jasmani yang teratur, terus-menerus dan seimbang, dalam mencapai pemenuhan kebutuhan mendasar hidup manusia. Kesehatan dimengerti sebagai keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap manusia hidup produktif dan kreatif seturut dimensi sosial dan ekonomi. Situasi dan kondisi ini yang membuat manusia mempunyai daya hidup untuk memberdayakan segala sesuatu dengan maksimal, baik yang dimilikinya maupun lingkungan hidupnya, demi membangun dan mewujudkan kesejahteraan hidup bersama.

Sasaran dan tujuan pola hidup itu adalah menghargai dan menghormati tubuh sebagai kenyataan yang sangat pribadi sebagai tanda dan wahana untuk membangun hubungan-hubungan dengan sesama, dengan Allah dan alam semesta demi terwujudnya kesejahteraan bersama. Tujuan lain agar manusia berperilaku manusiawi yakni keadilan, kebenaran, kejujuran,  kasih dengan menjaga, memelihara dan membangun lingkungan hidup yang baik dan berkelanjutan, serta bertanggungjawab atas keutuhan biologis manusia yang diciptakan sebagai citra Allah dengan hidup saling berbagi satu sama lain.

Surat itu mengangkat beberapa inspirasi membangun gerakan pola hidup sehat dan berkecukupan yakni  Optimalisasi Lahan Pekarangan, Bersih dan Sehat Lingkungan, serta Bank Benih Petani. Jelasnya, umat didorong memperlakukan lahan pekarangan bagai ‘taman Eden’, melawan budaya menyampah dan membuang-buang makanan, serta memajukan budaya solidaritas dan perjumpaan, serta bertanggung jawab terhadap kaum miskin, generasi mendatang, dan seluruh umat manusia atau memiliki bela rasa dan keadilan antargenerasi.(pcp)

 

Tinggalkan Pesan