OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Dalam homili Misa Paskah setelah membaca Injil Yoh 20:1-9, Uskup Agung Jakarta Mgr Ignatius Suharyo mengatakan bahwa tokoh yang paling menjadi fokus dalam bacaan itu adalah Petrus, pribadi yang bukanlah sempurna di hadapan Yesus, melainkan figur yang pernah menyangkal Yesus.

Namun dalam perjalanan waktu, Petrus mengalami pertobatan bahkan menjadi pemimpin serta pembela Kristus. Menyadari kesalahan karena menyangkal Yesus, ia rela mati dengan cara digantung di salib dengan kepala di bawah.

“Dalam kisah kebangkitan Yesus, sesungguhnya Petrus mengalami transformasi kehidupan iman yang sangat radikal,” tegas Mgr Suharyo. Artinya, Petrus yang semula menjalani kehidupan tidak baik berubah menjadi lebih baik. Bahkan dalam Kisah Para Rasul diceritakan bahwa Petrus rela mengorbankan dirinya demi Kristus dan Gereja.

Petrus dikenal sebagai pemimpin yang terbuka, pemimpin yang memiliki keteladanan dan rela berkorban. Maka “sosok Petrus menjadi panutan atau tuntunan bagi para pemimpin lainnya,” kata Uskup Agung Jakarta itu dalam homili Misa Paskah di Katedral Jakarta, 20 April 2014.

Selanjutnya Mgr Suharyo mengatakan bahwa salah satu unsur penting dalam Paskah adalah lilin. “Setiap tahun, perayaan Paskah selalu menggunakan lilin baru dengan tulisan tahun saat perayaan Paska itu dilaksanakan.” 

Sehubungan dengan Tahun Politik 2014, jelas uskup, warga negara telah melakukan kegiatan politik yang amat penting yakni mengikuti pemilihan calon legislatif dari daerah sampai pusat, dan pemilihan calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) yang akan berlangsung Juli mendatang.

“Berkenaan dengan dua agenda penting itu, Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) telah mengeluarkan anjuran moral, bukan anjuran politik, agar umat menggunakan hak pilih dan bertanggungjawab memilih pemimpin yang memperhatikan kepentingan bersama, bukan kepentingan golongan,” jelas ketua KWI itu.

Dalam seruan moral itu, lanjut Mgr Suharyo, Gereja Katolik menghimbau agar umat memilih calon pemimpin yang memiliki komitmen, yang menjaga dan merawat serta mempertahankan Pancasila sebagai sebuah ideologi bangsa.

Dengan demikian, lanjut Uskup Agung Jakarta itu, pemimpin itu akan selalu bertanggungjawab dan peduli, sama seperti figur Petrus, sosok pemimpin yang tidak memiliki agenda tersembunyi dan tidak egois, serta tidak mencederai nilai-nilai kemanusiaan.

Maka, Mgr Suharyo mengharapkan umat Katolik untuk memilih calon pemimpin seperti sosok (Simon) Petrus yang pernah mengalami transformasi kehidupan. “Figur ini memiliki daya pembaharu, jujur, bertanggungjawab dan lebih peduli. Hidup yang mengalami transformasi kehidupan, itulah Paskah.”

Sekitar 3000 umat Katolik menghadiri Misa Paskah di Katedral Santa Perawan Maria Diangkat Ke Surga, Jakarta, 20 April 2014. Perayaan itu dipimpin oleh Mgr Ignatius Suharyo didampingi oleh Vikjen KAJ Pastor Yohanes Purbo Tamtomo Pr dan Pastor Vinsensius Adi Prasojo Pr.

Sesusai Misa, Mgr Suharyo menemui wartawan di pendopo Wisma Keuskupan. Di depan para wartawan, Uskup Agung Jakarta menegaskan kembali harapannya agar capres dan cawapres yang dipilih nanti adalah pemimpin yang meletakkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi atau kelompok.

Menanggapi pertanyaan reporter RRI tentang capres yang direkomendasi oleh Gereja Katolik, Mgr Suharyo mengatakan bahwa sebagai uskup ia tidak dapat menyebut nama melainkan sejumlah kriteria antara lain, hormat terhadap martabat kehidupan, memperhatikan kesejahteraan umum, menumbuhkan solidaritas dan memberikan perhatian terhadap kaum lemah atau terpinggirkan.

“Saya tidak bisa menyebut nama. Namun pemimpin yang akan datang sedapat mungkin memenuhi kriteria yang itu,” kata Mgr Suharyo. (Konradus R. Mangu)

Foto dari Berkatnews.com

Tinggalkan Pesan