DSC09652

Diiringi tabuhan tifa dan lagu Tanimbar, delapan perempuan menekuk kaki dan melebarkan tangan seperti sayap cendrawasih. Perempuan dengan aksesoris tenun ikat asal Tanimbar serta baju dan kain berbagai motif warna-warni membawa persembahan ke depan altar Gelanggang Olahraga (GOR) Hiad Sai Merauke.

Hari itu, 15 Februari 2014, seluruh orang Tanimbar yang tergabung dalam Himpunan Keluarga Tanimbar (HKT) Merauke berkumpul dalam ibadah serta kurban syukur dan Pengukuhan Pengurus Himpunan Keluarga Tanimbar Periode 2014-2019 untuk menyatukan karya mereka dalam kasih persaudaraan di bawah tuntunan kasih Allah.

Dalam kotbah di depan sekitar 4000 orang, Pastor Aloysius Batmnyanik MSC meminta kepada semua orang dalam organisasi itu untuk melanjutkan karya pendahulu saat mereka tiba di tanah Marind, Merauke. “Lembaga HKT harus menjadi alat pemersatu,” kata Misionaris Hati Kudus Yesus itu

Sesuai dengan cerita Salomo yang dibacakan dalam Misa malam itu, imam itu mengajak anggota HKT untuk tidak perlu bermegah. “Salomo tidak mencari kekayaan berlimpah tetapi kebijaksanaan. Dengan rahmat seperti inilah kebersamaan orang Tanimbar tetap kuat,” kata imam asal Kepulauan Tanimbar itu.

Para perintis kelompok itu, lanjut imam itu, harus dihargai karena sudah bekerja dengan semangat cinta kasih Allah. Imam itu meminta orang Tanimbar yang dikukuhkan malam itu untuk bangga karena mereka menjadi garam yang akan berpengaruh para orang lain.

Menurut Ketua HKT, Soleman Jampormias, orang Tanimbar datang ke Merauke tanpa membawa uang dan kekayaan, tetapi mereka mau mengabdi di tanah Animha Merauke untuk mencerdaskan orang setempat. “Selain menjadi pendidik, sebagian menjadi pendeta dan pastor untuk daerah ini,” katanya seraya menambahkan bahwa orang Tanimbar dulu datang ke Merauke untuk mengajar dan membangun Merauke.

Dulu, ceritanya, orang Tanimbar teguh memegang adat gotong-royong. Maka, dia juga meminta agar saat ini anggota HKT meneruskan hal positif itu di tanah rantau Merauke, “misalnya meneruskan budaya membuka hutan dan menanam.”

Selain itu, orang Merauke di tanah rantau, katanya, “harus sesuai adat Tanimbar yaitu saling meminta maaf bila bersalah.” Dengan demikian, jelasnya, akan melahirkan persaudaraan dan kekerabatan sejati yang saling tolong-menolong.

Sesepuh HKT, Ananias Somar, mengatakan bahwa terbentuknya lembaga itu tidak lepas dari peran orang Tanimbar yang tergabung dalam Perkumpulan Suku Tanimbar di Merauke yang dibentuk tanggal 1 Mei 1963. “Karena perkembangan jaman, pada tahun 2000-an nama Perkumpulan Suku Tanimbar itu berubah menjadi Himpunan Keluarga Tanimbar di Merauke,” katanya.

Dharma Oratmangun dan Ongen Umasugi menghibur peserta yang hadir dengan berbagai lagu khas adat Tanimbar. Panggelaran budaya dan tarian ‘badendang’ ala Tanimbar juga mengisi acara itu.(Agapitus Batbual)***

DSC09636

 

2 KOMENTAR

Tinggalkan Pesan