DSCN2715

Calon legislatif (caleg) beragama Katolik yang akan maju dalam Pemilu Legislatif 2014 di seluruh Indonesia hendaknya tidak hanya memiliki gagasan besar atau brilian, tetapi menyapa rakyat. Gagasan besar tidak cukup. Gagasan besar perlu disertai upaya mendekatkan diri dengan masyarakat kecil sambil mengupayakan kesejahteraan bersama.

Penegasan itu dikemukakan oleh Pastor Antonius Benny Susetyo Pr dalam talkshow tentang Pilihan Umat Katolik Pada Pemilu 2014 yang dilaksanakan oleh FMKI KAJ dan Komisi HAK KAJ di aula Paroki Katedral Jakarta, 18 Januari 2014.

Narasumber talkshow itu adalah Dosen Ilmu Sosial dan Politik UIN Syarif Hidayatullah Burhanuddin Muhtadi, pengamat politik Indonesia Yunarto Wijaya, dan koordinator bidang Gratifikasi di KPK Maruli Tua, yang menggantikan Abraham Samad yang berhalangan hadir.

Pastor Benny mengatakan kepada 30 calon anggota DPR beragama Katolik, baik untuk kabupaten atau kota serta provinsi dan pusat, serta 150 undangan yang merupakan utusan Komisi HAK seluruh paroki di Jakarta bahwa para caleg perlu meneladani apa yang telah dilakukan para politisi zaman dahulu seperti Pahlawan Nasional Ignatius Joseph Kasimo.

“Paradigma yang perlu dibangun oleh para calon legislatif Katolik adalah pelayanan terhadap masyarakat kecil bukan mencari kedudukan dalam berpolitik,” kata Pastor Benny seraya menyebut tokoh-tokoh populer zaman ini yang selalu mengedepankan sisi kemanusiaan dalam setiap pelayanan.

Paus Fransiskus, kata imam itu, berulang-ulang menyerukan kepada umat Katolik untuk selalu memperjuangkan kesejahteraan bersama (bonum commune). Gubernur DKI, Jokowi, yang semakin populer dalam pemerintahan di Indonesia juga disebut oleh imam itu. “Saat ini, memang Jokowi selalu dihina dan dicerca, namun pada saat yang sama namanya semakin populer,” kata imam itu.

Pastor Benny mengajak umat Katolik, sebagai bagian dari bangsa dan negara Indonesia, untuk jangan sekali-kali merasa diri minoritas. “Jadilah warga negara yang cerdas, sehingga boleh dilihat sebagai politisi yang berintegritas dan berkepribadian baik,” kata imam itu.

Yunarto Wijaya mengamati bahwa 15 partai politik peserta Pemilu 2014 rata-rata terjerat korupsi. Maka ia sependapat dengan Pastor Benny bahwa caleg Katolik bukan hanya memiliki gagasan besar tapi harus selalu dekat dengan rakyat kecil. Dia mengutip gagasan Kasimo yang mengemukakan bahwa ilmu yang tinggi atau banyak tidaklah cukup. Rakyat, katanya, bukan hanya dikenal tapi harus dipahami secara menyeluruh.

Menurut Burhanuddin Muhtadi, meskipun Pemilu belum mulai dan PDIP belum mengumumkan capresnya, seluruh rakyat lebih cenderung memilih sosok seperti Jokowi. “Sesungguhnya saat ini masyarakat lebih cenderung memilih figur daripada partai, maka jika PDIP resmi mengumumkan calonnya Jokowi, sudah bisa diprediksi bahwa Pemilu ada di tangan masyarakat.”

Sergius Kelang, calon anggota DPD Jakarta Barat mengungkapkan kekecewaan bukan hanya karena waktu tanya jawab terbatas tapi juga karena para caleg Katolik yang hadir hanya mendengarkan pujian untuk partai-partai tertentu saja, “padahal kehadiran pada kesempatan ini untuk mendengarkan pencerahan dan peneguhan.”(Konrad Mangu)***

Tinggalkan Pesan