orthodoks

“Semoga kita melanjutkan dan mengintensifkan komitmen untuk ekumenisme, perjumpaan dan dialog menuju persekutuan sepenuhnya.” Dengan pesan itu Paus Fransiskus menyambut Yang Mulia Moran Mar Baselios Marthoma Paulose II, Katolikos Timur dan Metropolitan dari Gereja Oktodoks Suriah Malankara, India.

Dalam sambutannya kepada pada katolikos itu, di Vatikan, 5 September 2013, Paus Fransiskus mengingat upaya pendahulunya Yohanes Paulus II dan mantan Katolikos Moran Mar Baselios Marthoma Mathews I yang di tahun 1990 menciptakan komisi berkelanjutan yang merancang kesepakatan di antara mereka.

Tiga puluh tahun lalu, di bulan Juni 1983, Katolikos Moran Mar Baselios Marthoma Mathews I mengunjungi Paus Yohanes Paulus II dan Gereja Roma. Bersama-sama, mereka mengakui iman bersama akan Kristus. Setelah itu, mereka bertemu lagi di Kottayam, di Katedral Mar Elias, bulan Februari 1986, saat kunjungan pastoral Paus Yohanes Paulus II ke India.

Pada kesempatan itu, Paus Yohanes Paulus II mengatakan, “Bersama Anda, saya ingin agar Gereja-Gereja segera menemukan cara-cara efektif untuk menyelesaikan masalah pastoral mendesak yang kita hadapi, dan agar kita dapat maju bersama dalam kasih persaudaraan dan dalam dialog teologis, karena dengan cara inilah rekonsiliasi antara umat Kristen dan rekonsiliasi di dunia bisa terjadi. Saya dapat meyakinkan Anda bahwa Gereja Katolik, dengan komitmen yang dibuatnya pada Konsili Vatikan II, siap untuk berpartisipasi sepenuhnya dalam usaha ini.”

Dari perjumpaan-perjumpaan itu dimulailah langkah dialog yang konkret bahkan hingga lahirnya perjanjian tahun 1990, di hari Pentakosta.

Mereka sepakat untuk “penggunaan bersama gedung-gedung ibadah dan pemakaman, pengakuan bersama sumber-sumber spiritual dan liturgis dalam situasi-situasi pastoral tertentu, dan kebutuhan untuk mengidentifikasi bentuk-bentuk baru kerjasama” dalam menghadapi tantangan-tantangan sosial dan keagamaan yang sedang bermunculan.”

Melihat bahwa hubungan masa lalu antara kedua Gereja mereka telah dirusak oleh “perpecahan dan persaingan,” kata Paus Fransiskus mengatakan harapannya agar kedua belah pihak bisa mengupayakan rekonsiliasi dengan menumbuhkan “budaya perjumpaan” dengan “mengatasi prasangka dan sikap tertutup yang merupakan bagian dari jenis ‘budaya bentrokan’ dan sumber perpecahan.”

Paus menyerukan “doa dan komitmen” agar persahabatan dan kerjasama bisa tumbuh di antara para klerus, umat beriman,  dan “di antara berbagai gereja yang lahir dari kesaksian yang diberikan oleh Santo Thomas.”

Gereja Ortodoks Malankara dibagi menjadi dua komunitas yaitu Gereja Ortodoks Suriah Malankara dalam persekutuan penuh dengan Patriark Antiokhia Ortodoks Suriah, dan Gereja Ortodoks Suriah Malankara yang dipimpin oleh Yang Mulia Moran Baselios Marthoma Paulose II (Gereja Ortodoks otonomi). Gereja Ortodoks Suriah saat ini memiliki lebih dari 2,5 juta anggota di tiga puluh keuskupan, dengan lebih dari 33 uskup dan 1.700 imam.***