sarasehan adorasi

 

Adorasi Ekaristi pertama-tama merupakan pemenuhan kerinduan untuk bersatu dengan Yesus, yang menghendaki kita tinggal bersama-Nya, yang menghendaki semua orang yang letih lesu dan berbeban berat datang kepada-Nya.

 

Pastor Aloys Budi Purnomo Pr berbicara dalam sarasehan adorasi di Gedung Darmojoewono, Paroki Santa Maria Fatima Banyumanik, Semarang, tanggal 6 Juni 2013. “Kerinduan pada Yesus dipenuhi melalui Adorasi Ekaristi,” kata imam itu kepada sekitar 200 peserta sarasehan.

 

Menurut Pastor Budi, Adorasi Ekaristi sudah dimulai sejak Paus Urbanus IV atau 800 tahun lalu. “Adorasi diteruskan oleh para paus penerusnya termasuk mendiang Paus Yohanes Paulus II, Paus Benediktus XVI dan sekarang Paus Fransiskus,” kata imam itu seraya menjelaskan bahwa adorasi berasal dari bahasa Latin, adorare yang berarti menyembah atau bersembah sujud.

 

“Adorasi Ekaristi diartikan sebagai penyembahan manusia yang ditujukan secara khusus kepada Allah yang kudus yang hadir dalam diri Yesus Kristus, Putera-Nya yang tunggal, dalam rupa Sakramen Mahakudus dalam waktu tertentu … maka yang menjadi pusat adorasi adalah Yesus yang hadir dalam Sakramen Mahakudus,” kata Pastor Budi.

 

Adorasi singkat diselenggarakan setelah Misa Jumat Pertama, kurang lebih 25-30 menit, namun ada paroki yang melaksanakannya selama sehari dari pukul 6 pagi sampai pukul 6 sore, bahkan ada yang 24 jam dengan istilah Adorasi Ekaristi Sehari. Dalam perkembangannya, muncul Adorasi Ekaristi Abadi yang berlangsung terus-menerus, setiap hari selama 24 jam dalam 7 hari seminggu, dan berlaku terus menerus tanpa henti.

 

Selama adorasi diselenggarakan, jelas imam itu, harus selalu ada umat yang berdoa dan berjaga-jaga, dan berdasarkan Alkitab, perintah berdoa dan berjaga-jaga disampaikan Yesus kepada para murid ketika Ia berada dalam sakratul maut di taman Getsmani.

 

“Maka, istilah berdoa dan berjaga itu sangat Alkitabiah, bukan dalam arti berjaga seperti di kampung ronda, demi keamanan masyarakat, tetapi ini berjaga, berdoa bersama Kristus demi keselamatan, baik bagi sendiri maupun bagi orang lain,” kata Pastor Budi.

 

Adorasi Ekaristi diawali oleh Paus Yohanes Paulus II di Basilika Santo Petrus Vatikan tanggal 2 Desember 1981. Menurut Pastor Budi, Paus itu berharap supaya adorasi juga diadakan di setiap paroki dan komunitas-komunitas.

 

Pastor Budi sudah dua kali menginisiasi Gerakan Adorasi Ekaristi Abadi di Semarang dengan mendirikan kapel adorasi.

 

Dalam menyelenggarakan Adorasi Ekaristi Abadi, jelas imam itu, dibutuhkan komitmen tinggi. “Harus ada umat yang berdoa berjaga, … harus ada relawan yang disebut sebagai adorator baik tetap maupun tamu … dan kalau mau mengadakan Adorasi Abadi dibutuhkan minimal 168 orang atau adorator yang masing-masing beradorasi salama satu jam seminggu.”

 

Kepala Paroki Santa Maria Fatima Banyumanik Pastor Yosep Supriyanto Pr mengatakan bahwa Adorasi Ekaristi adalah sarana untuk menuju kualitas hidup rohani dan hidup iman yang baik. “Di sana kita mendapat kesempatan yang banyak untuk hening, tenang di hadapan Allah. Mencari sumber-sumber kekuatan rohani, dan diharapkan hidup ini menjadi lebih tenang, berkualitas,” kata imam itu.

 

Sedangkan ketua panitia sarasehan Agustina Teresia berharap, umat di Paroki Banyumanik terlibat dan tergerak untuk beradorasi. “Kita tidak menghitung-hitung waktu untuk bersembah sujud di hadapan Tuhan yang Mahakasih yang telah begitu mencintai kita,” katanya.***