PenaKatolik.Com | Apa yang menyatukan para frater, biarawati, suster, dan kaum awam yang memiliki bentuk kehidupan serta pelayanan berbeda-beda? Bagi Keluarga Dominikan, jawabannya terletak pada satu warisan spiritual yang sama yakni mengikuti semangat Santo Dominikus dalam doa, studi, kehidupan persaudaraan, dan pewartaan Sabda Allah.
Kesadaran akan ikatan tersebut menjadi salah satu alasan penting dirayakannya Hari Keluarga Dominikan setiap 7 November. Tanggal ini sekaligus bertepatan dengan Pesta Semua Orang Kudus Ordo Pengkhotbah (Dominikan), sebuah perayaan untuk mengenang seluruh anggota Ordo yang telah memberikan kesaksian iman melalui kehidupan mereka, baik yang telah diakui secara resmi sebagai orang kudus maupun mereka yang namanya tidak dikenal.
Dalam pesan yang diterbitkan Kuria Generalat Ordo Pengkhotbah di Roma pada 2 November 2012, Magister Ordo saat itu, Fr. Bruno Cadoré, OP, menjelaskan bahwa perayaan Hari Keluarga Dominikan bukan sekadar penetapan satu hari khusus dalam kalender. Perayaan tersebut diperlukan karena manusia sering kali membutuhkan pengingat tentang hal-hal yang sungguh penting dalam kehidupannya.
“Kita tetap merayakan hari-hari khusus seperti ini karena sering kali kita perlu diingatkan kembali akan pentingnya hal-hal yang kita pedulikan,” tulis Fr. Bruno Cadoré.
Salah satu hal yang menjadi perhatian utama tersebut adalah keberadaan Keluarga Dominikan sebagai sebuah persekutuan yang melampaui batas-batas bentuk panggilan. Keluarga ini terdiri atas para frater, biarawati kontemplatif, suster apostolik, persaudaraan awam, persaudaraan imam, institut sekular, gerakan kaum muda, serta berbagai asosiasi dan kelompok yang mengambil bagian dalam spiritualitas Santo Dominikus.
Keberagaman itu tampak dalam berbagai karya bersama yang dilaksanakan di berbagai negara. Menurut Fr. Bruno Cadoré, hubungan di antara anggota keluarga Dominikan tidak hanya terbangun melalui kegiatan dan proyek bersama, tetapi juga melalui persahabatan, kerja sama, serta solidaritas ketika menghadapi masa-masa sulit.
Dia menilai bahwa ikatan persaudaraan tersebut menopang kehidupan, sukacita, dan kreativitas setiap anggota dalam menjalankan karya kerasulan, intelektual, maupun seni. Dengan demikian, persaudaraan bukan sekadar identitas kelembagaan, melainkan kekuatan yang memungkinkan setiap anggota bertumbuh dan menjalankan misinya.
Mengenang para saksi kekudusan
Peringatan 7 November juga mengarahkan perhatian kepada begitu banyak anggota Ordo Pengkhotbah yang sepanjang sejarah telah menjalani kehidupan kudus. Mereka bukan hanya para tokoh yang dikenal melalui kanonisasi, melainkan juga orang-orang sederhana yang setia menjalankan panggilan hingga akhir hidupnya.
Dalam tulisan yang diterbitkan pada 7 November 2024, Br. Simon Ferrer Vettikunnel, seorang saat itu adalah seorang novis Dominikan, menjelaskan bahwa Pesta Semua Orang Kudus Ordo Pengkhotbah memiliki cakupan yang lebih khusus dibandingkan Hari Raya Semua Orang Kudus yang dirayakan Gereja Katolik pada 1 November.
“This feast is similar to All Saints’ Day (November 1) in the broader Catholic Church, but it specifically focuses on members of the Dominican Order,” tulis Br. Simon.
Dalam terjemahannya, dia menjelaskan bahwa pesta tersebut memiliki kemiripan dengan Hari Raya Semua Orang Kudus dalam Gereja Katolik, tetapi secara khusus berfokus pada para anggota Ordo Dominikan.
Di antara tokoh-tokoh yang dikenang terdapat Santo Dominikus sebagai pendiri Ordo, Santo Thomas Aquinas yang dikenal sebagai teolog besar, dan Santa Katarina dari Siena yang dikenal dalam tradisi mistik Gereja. Selain itu, terdapat banyak anggota Ordo lainnya yang berkontribusi dalam perjalanan misi Dominikan, termasuk mereka yang kurang dikenal atau hanya diperingati dalam kalender liturgi setempat.
Br. Simon menyebutkan bahwa berdasarkan keterangan Magister Ordo saat itu, Fr. Gerard Timoner III, terdapat 389 orang kudus dan beato dalam Ordo Pengkhotbah. Jumlah tersebut memperlihatkan kekayaan warisan spiritual yang berkembang selama perjalanan panjang Ordo.
Namun, perayaan ini tidak berhenti pada mereka yang telah memperoleh pengakuan resmi Gereja. Para martir, pengaku iman, frater, biarawati, serta laki-laki dan perempuan dari Ordo Ketiga Dominikan juga mendapat tempat dalam peringatan tersebut.
Mereka telah menjalani keutamaan Injil melalui berbagai bentuk pengabdian. Ada yang melayani kaum miskin, mendidik mereka yang kurang memperoleh kesempatan belajar, menjalani kehidupan kontemplatif dalam keheningan biara, dan ada pula yang wafat karena mempertahankan iman ketika penganiayaan terjadi.
Br. Simon mengingatkan bahwa banyak dari mereka diyakini telah menikmati kebahagiaan surgawi dan terus mendoakan Gereja. Karena itu, perayaan 7 November menjadi kesempatan untuk mengenang kesaksian hidup mereka sekaligus memohon doa perantaraan bagi Gereja yang masih berziarah di dunia.

Pewartaan sebagai jalan kekudusan
Apa makna kekudusan bagi anggota Keluarga Dominikan masa kini? Pertanyaan ini menemukan jawabannya dalam misi utama Ordo Pengkhotbah, yakni mewartakan Injil.
Dalam arsipnya pada 2 November 2012, Fr. Bruno Cadoré menghubungkan perayaan Hari Keluarga Dominikan dengan momentum Gereja setelah berakhirnya Sinode tentang Evangelisasi Baru untuk Penerusan Iman dan dimulainya Tahun Iman.
Dia menegaskan bahwa keberagaman anggota Keluarga Dominikan tidak mengubah kesatuan misi yang harus dijalankan bersama.
“Misi bersama kita dalam Keluarga Dominikan, dengan segala keberagamannya, adalah mewartakan Injil. Misi kita adalah memaklumkan Injil sebagai sukacita bagi dunia!” tegasnya.
Bagi Fr. Bruno Cadoré, membaktikan diri bagi pewartaan bukan hanya pilihan untuk menjalankan suatu bentuk pelayanan Gereja. Keputusan tersebut sekaligus merupakan jalan khas anggota Dominikan menuju kekudusan.
Pesan ini memperlihatkan hubungan erat antara spiritualitas dan karya pewartaan. Doa dan kontemplasi menjadi sumber kekuatan batin, studi membantu memperdalam pemahaman iman, kehidupan komunitas membentuk persaudaraan, sedangkan pewartaan menghadirkan Injil dalam kehidupan masyarakat.
Dalam konteks ini, setiap anggota keluarga Dominikan memiliki tanggung jawab sesuai dengan panggilan dan kemampuannya. Kekudusan tidak hanya ditemukan dalam kehidupan di balik tembok biara, tetapi juga dalam pendidikan, pelayanan pastoral, pendampingan umat, karya sosial, dan berbagai bentuk keterlibatan di tengah masyarakat.
Br. Simon Ferrer Vettikunnel juga menegaskan bahwa pesta para kudus Dominikan menjadi pengingat bagi para frater, biarawati, suster, dan kaum awam untuk mengikuti teladan para pendahulu. Para kudus tersebut memperlihatkan bahwa panggilan menuju kekudusan dapat dihidupi melalui beragam jalan pengabdian.
Persaudaraan yang melampaui perbedaan
Salah satu gambaran menarik tentang kesatuan Keluarga Dominikan disampaikan Fr. Bruno Cadoré melalui lukisan atau gambar yang terdapat di sejumlah biara dan komunitas. Gambar tersebut memperlihatkan para saudara dan saudari Ordo berkumpul di bawah perlindungan Santa Perawan Maria.
Dia mengaitkan gambaran itu dengan Prouille, tempat bersejarah yang memiliki hubungan erat dengan awal perkembangan Ordo Pengkhotbah. Di sana, para saudara dan saudari digambarkan berkumpul dalam semangat pewartaan dan permenungan atas misteri Inkarnasi, yaitu Allah yang menjadi manusia dalam diri Yesus Kristus.
“Betapa indahnya gambaran tentang keluarga kita: begitu beragam, tetapi senantiasa berusaha membangun kesatuan hati dan kehendak,” tulis Fr. Bruno Cadoré.
Gambaran tersebut menjadi simbol bahwa kesatuan tidak mengharuskan semua anggota memiliki bentuk kehidupan, tugas, dan pelayanan yang sama. Sebaliknya, perbedaan menjadi kekayaan ketika setiap orang bersedia membangun persekutuan dan saling mendukung dalam menjalankan misi bersama.
Dalam tulisan 7 November 2024, Br. Simon juga menyebut bahwa komunitas-komunitas Dominikan biasanya merayakan pesta tersebut melalui Misa khusus dan doa-doa untuk menghormati seluruh laki-laki dan perempuan kudus dalam Ordo. Perayaan itu menjadi ungkapan syukur atas warisan iman para pendahulu sekaligus permohonan agar mereka terus mendoakan Gereja.
Sementara itu, pesan Fr. Bruno Cadoré pada 2012 ditutup dengan sebuah harapan agar seluruh anggota Keluarga Dominikan mampu memperbarui tekad untuk berjalan dalam karya evangelisasi Gereja melalui kesaksian hidup dalam persekutuan.
Hari Keluarga Dominikan, bukan hanya perayaan untuk mengenang sejarah dan para tokoh besar Ordo. Lebih dari itu, tanggal 7 November menjadi kesempatan untuk melihat kembali bagaimana warisan Santo Dominikus terus hidup dalam diri setiap anggota keluarga spiritualnya.
Di tengah keberagaman panggilan, pelayanan, dan bentuk kehidupan, mereka tetap dipersatukan oleh persaudaraan dan misi yang sama. Mengenang para kudus berarti belajar dari kesetiaan mereka yaitu merayakan keluarga berarti merawat persekutuan dan menghidupi spiritualitas Dominikan berarti terus menjadikan pewartaan Injil sebagai jalan menuju kekudusan. (Samuel)



