PenaKatolik.Com | Peringatan tiga tahun berpulangnya Bpk. Yohanes Tupanman, OFS, menjadi kesempatan bagi keluarga dan umat untuk mengenang warisan iman, pelayanan, serta pesan sederhana yang terus hidup dalam keluarga.
Apa yang tersisa dari seseorang setelah tiga tahun kepergiannya? Bagi keluarga Bpk. Yohanes Tupanman, OFS (Ordo Fransiskan Sekular), kenangan itu tidak hanya tersimpan dalam foto dan cerita masa lalu. Ada nilai-nilai kehidupan yang terus dihidupi, terutama dua pesan sederhana yang pernah disampaikan almarhum kepada anak-anaknya yakni “Jadilah seperti saya” dan “Jangan jadi seperti saya.”
Kedua pesan tersebut kembali dikenang dalam Misa Peringatan Tiga Tahun Berpulangnya Yohanes Tupanman, Kamis (5/11/2026), pukul 18.30 WIB. Perayaan Ekaristi berlangsung di kediaman keluarga, Jalan Putri Daranante Gang Sukajaya No. 30, dan dipimpin oleh Rm. Yohanes Thomas Maria Puji Nurcahyo, CM.
Keluarga, para imam, Suster-Suster SMFA, kerabat, dan umat hadir untuk mendoakan sekaligus mengenang perjalanan hidup almarhum. Perayaan ini menjadi ruang perjumpaan antara kenangan keluarga dan permenungan iman tentang kehidupan manusia yang senantiasa dipanggil untuk bersatu dengan Allah.
Dalam homilinya, Rm. Yohanes Thomas Maria Puji Nurcahyo, CM, mengajak umat melihat kembali kerinduan terdalam Allah terhadap manusia. Menurutnya, Tuhan menghendaki agar setiap manusia tetap bersatu dengan-Nya dan tidak terpisah dari kasih-Nya.
“Yang paling diinginkan Tuhan ialah agar manusia bersatu dengan-Nya dan tidak terpisahkan dari-Nya. Itulah yang dikehendaki Tuhan,” ungkapnya.
Mengacu pada perumpamaan tentang domba yang hilang, Romo Puji menjelaskan bahwa Allah tidak pernah berhenti mencari manusia yang menjauh dari-Nya. Tuhan tidak merelakan satu pun manusia hilang. Dia mencari sampai menemukan dan membawa kembali orang yang tersesat.
Namun, pencarian Allah itu sekaligus berhadapan dengan kenyataan bahwa manusia memiliki kehendak bebas. Allah tidak memaksakan kehendak-Nya, tetapi menghormati keputusan manusia untuk menerima atau menjauh dari-Nya.
“Allah menghormati kehendak bebas manusia. Allah tidak pernah mengkhianati atau mengingkari manusia, bahkan tidak pernah memaksakan diri dan kehendak-Nya kepada manusia. Allah menyerahkan keputusan itu kepada manusia sendiri,” jelasnya.

Menjangkau Allah dengan Kehendak Bebas
Untuk memperjelas hubungan antara Allah dan manusia, Romo Puji mengangkat lukisan The Creation of Adam atau Penciptaan Adam karya Michelangelo yang menghiasi langit-langit Kapel Sistina di Vatikan.
Dalam lukisan tersebut, kedua jari Allah dan Adam hampir bersentuhan. Jari Allah digambarkan terentang, sementara jari Adam sedikit tertekuk. Bagi Romo Puji, gambaran ini menjadi ilustrasi menarik tentang kebebasan manusia dalam membangun hubungan dengan Penciptanya.
Dia menjelaskan bahwa Allah telah menjangkau manusia, tetapi manusia juga perlu memberikan tanggapan. Hubungan itu tidak dapat dibangun hanya dengan menunggu, tanpa adanya kemauan untuk mendekat.
“Jika Adam mau sedikit saja meluruskan tangannya, jari Allah dan jari manusia itu akan bertemu. Namun, Adam digambarkan santai, dengan jarinya yang seolah-olah belum sungguh-sungguh berusaha menjangkau Allah,” tuturnya.
Refleksi tersebut kemudian dikaitkan dengan pengalaman pertobatan Rasul Paulus. Sebelum mengenal Kristus, Paulus sangat mengandalkan ketaatan terhadap aturan agama Yahudi. Dia berasal dari suku Benyamin, belajar dari Gamaliel, dan termasuk kelompok Farisi. Bahkan, dia pernah menganiaya jemaat karena menganggap tindakannya sebagai bagian dari kesetiaan terhadap keyakinan yang dianutnya.
Setelah mengenal Yesus Kristus, seluruh pandangan hidup Paulus berubah. Hal-hal yang sebelumnya dianggap sebagai keuntungan tidak lagi memiliki nilai yang sama dibandingkan dengan pengenalan akan Kristus. Paulus kemudian berjuang untuk terus hidup dalam persatuan dengan Yesus.
Romo Puji mengibaratkan perjuangan iman Paulus seperti seorang pelari yang berusaha mencapai garis akhir. Kehidupan iman membutuhkan kesungguhan, ketekunan, dan kemauan untuk terus bergerak maju.
“Paulus berusaha sekuat tenaga untuk selalu bersatu dengan Yesus,” katanya.

Iman Membutuhkan Kemampuan Berefleksi
Salah satu bagian menarik dari homili tersebut adalah penekanan mengenai pentingnya refleksi dalam kehidupan orang beriman. Romo Puji mengisahkan pengalamannya ketika mengikuti kegiatan Orang Muda Katolik (OMK). Dalam kesempatan itu, dia mengajukan pertanyaan tentang kemampuan apa lagi yang perlu dimiliki seorang beriman selain rajin berdoa, membaca Kitab Suci, beribadah, melakukan pelayanan, dan berbagi kepada sesama.
Semua praktik keagamaan tersebut merupakan hal yang baik. Namun, menurutnya, masih ada satu kemampuan penting yang tidak boleh diabaikan, yakni kemampuan berefleksi.
“Refleksi berarti kita diajak untuk selalu bertanya kepada diri sendiri: Apa yang dikehendaki Tuhan dari saya?” ungkapnya.
Pertanyaan tersebut menjadi penting karena seseorang dapat saja sangat tekun menjalankan kewajiban agama, tetapi belum tentu sungguh-sungguh memahami kehendak Tuhan. Tanpa refleksi, ketaatan bahkan dapat membuat seseorang merasa paling benar, paling suci, dan paling baik dibandingkan orang lain.
Romo Puji mengingatkan bahwa pengalaman orang-orang Farisi dan ahli Taurat dapat menjadi pelajaran. Mereka menguasai Kitab Suci, tekun menjalankan kewajiban keagamaan, dan mempersembahkan kurban. Namun, pengetahuan serta praktik keagamaan itu tidak dengan sendirinya membuat mereka mampu mengenali dan menerima kehadiran Tuhan.
Karena itu, setiap orang perlu mengevaluasi sikap dan tindakannya. Apakah yang dilakukan sudah benar? Apakah keputusan yang diambil sungguh sesuai dengan kehendak Allah? Pertanyaan-pertanyaan tersebut perlu terus dihadirkan dalam perjalanan iman.
Menurut Romo Puji, kebahagiaan karena bersatu dengan Allah bukan hanya sesuatu yang menunggu manusia setelah kematian. Persatuan dengan Tuhan juga dapat dialami dalam kehidupan sehari-hari ketika seseorang berusaha mencari dan menjalankan kehendak-Nya.
“Kebahagiaan itu bukan hanya nanti, ketika kita sudah dipanggil Tuhan. Kebahagiaan itu dapat kita alami sekarang juga,” tegasnya.
Pada akhir homili, dia mengajak seluruh umat mendoakan almarhum Yohanes Tupanman dan memohon agar mereka yang masih menjalani kehidupan di dunia senantiasa memiliki kemauan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.
“Tuhanlah yang pertama-tama datang menjumpai kita. Namun, pertanyaannya adalah: apakah kita sungguh-sungguh berusaha mendekatkan diri kepada Tuhan? Itulah yang harus selalu kita tanyakan kepada diri sendiri,” pesannya.

Warisan Ayah yang Dihidupi Anak-anak
Jika homili mengajak umat merenungkan hubungan manusia dengan Allah, sambutan Simon Hendrawan, anak ketiga sekaligus anak bungsu almarhum, menghadirkan sisi lain dari peringatan tersebut yakni bagaimana nilai-nilai kehidupan seorang ayah tetap berlanjut melalui keluarganya.
Di hadapan para undangan, Simon mengungkapkan bahwa ada dua pesan sang ayah yang terus mereka ingat. Keduanya terdengar sederhana, bahkan seolah bertentangan, tetapi justru menyimpan pelajaran yang mendalam.
Pesan pertama, “Jadilah seperti saya.” Menurut Simon, pesan ini berkaitan dengan harapan ayahnya agar seluruh anggota keluarga bersedia menyerahkan diri untuk melayani Gereja.
Harapan tersebut kini mulai diwujudkan dalam kehidupan keluarga. Ibu aktif dalam pelayanan kedukaan. Kakaknya juga terlibat dalam tim pelayanan kedukaan, sementara Simon bersama saudaranya yang lain mengambil bagian dalam pelayanan paduan suara di Gereja.
“Puji syukur, keinginan Bapak itu perlahan-lahan dapat kami jalankan. Sekarang puji Tuhan semuanya aktif dalam kegiatan pelayanan Gereja,” ungkapnya.
Bagi Simon, keterlibatan keluarga dalam pelayanan Gereja merupakan salah satu bentuk meneruskan apa yang telah ditanamkan almarhum semasa hidupnya. Dia bersyukur karena pesan ayahnya tidak berhenti sebagai nasihat, tetapi mulai diwujudkan melalui tindakan nyata.
“Kami merasa bangga karena masih bisa menjalankan apa yang menjadi harapan Bapak bagi keluarga kami,” katanya.
Sementara itu, pesan kedua, “Jangan jadi seperti saya,” memiliki makna yang berbeda. Simon memahami pesan tersebut sebagai nasihat agar anak-anaknya tidak mengulangi kebiasaan hidup kurang sehat yang pernah dijalani sang ayah.
Dia menceritakan bahwa almarhum memiliki beberapa penyakit metabolik. Salah satu hal yang menjadi perhatian keluarga adalah pola makan yang dahulu kurang teratur.
Kegemaran memasak menjadi bagian dari keseharian almarhum. Namun, kesenangan menikmati makanan yang diolahnya sendiri terkadang membuat pola makan kurang terkontrol.
“Bapak memang pandai memasak. Jadi, kalau sudah memasak, tentu ingin menikmati makanan yang enak. Akibatnya, pola makan terkadang kurang terkontrol,” tutur Simon.
Pesan tersebut kini menjadi pengingat bagi keluarga untuk lebih memperhatikan kesehatan. Jika pesan pertama mengajak mereka meneladani semangat pelayanan sang ayah, pesan kedua mengingatkan mereka agar belajar dari pengalaman hidupnya.
Keduanya menjadi warisan yang terus mereka bawa untuk meneruskan hal-hal baik dan tidak mengulangi kebiasaan yang dapat merugikan kehidupan.

Kenangan yang Dihidupi dalam Kebersamaan
Selain menyampaikan pesan-pesan sang ayah, Simon juga mengungkapkan rasa syukur atas kehadiran para imam, Suster-Suster SMFA, keluarga besar, kerabat, dan umat yang mengikuti misa peringatan tersebut.
Dia mengaku tidak menyangka begitu banyak orang hadir, termasuk mereka yang datang dari Batu Layang, Desa Kapur, dan Kenapang. Beberapa di antaranya harus menempuh perjalanan cukup jauh, bahkan menyeberang, untuk dapat berkumpul bersama keluarga.
“Sejujurnya, kami tidak menyangka bahwa kehadiran Bapak, Ibu, Suster, dan saudara-saudari sekalian akan begitu ramai. Ada yang datang dari tempat yang cukup jauh dan harus menempuh perjalanan, bahkan menyeberang untuk bisa hadir bersama kami,” ungkapnya.
Bagi keluarga, kehadiran tersebut menjadi ungkapan perhatian dan kasih yang sangat berarti. Mereka bersyukur karena setelah tiga tahun berpulang, almarhum masih dikenang oleh banyak orang.
Peringatan tiga tahun ini akhirnya menghadirkan dua bentuk permenungan yang saling melengkapi. Homili mengingatkan bahwa Allah senantiasa mencari manusia dan menghendaki persatuan dengannya. Sementara kesaksian keluarga memperlihatkan bahwa kehidupan seseorang dapat terus memberikan pengaruh melalui nilai-nilai yang diwariskan.
Alm Yohanes Tupanman seorang Fransiskan Awam, keluarga mengenang semangat pelayanan kepada Gereja sekaligus nasihat untuk menjaga kehidupan. Dua pesan yang pernah disampaikan sang ayah kini menjadi bagian dari perjalanan anak-anaknya.
Sebab, mengenang seseorang yang telah berpulang bukan hanya berarti mengingat masa lalu, melainkan juga melanjutkan nilai-nilai baik yang pernah dia tanamkan. Di tengah perjalanan hidup, setiap orang tetap diajak untuk berefleksi, mencari kehendak Tuhan, dan belajar mendekatkan diri kepada-Nya. (Samuel, OFS)



