MANILA, Pena Katolik – Persaudaraan Imam Santo Dominikus di Filipina menggelar Konvensi Nasional Pertama mereka di Ecclesiastical Faculties and Central Seminary, Universitas Santo Tomas (UST), Manila, pada Kamis, 5 November 2026. Pertemuan ini menjadi pertemuan nasional pertama bagi Persaudaraan Imam Dominikan Filipina sejak pandemi COVID-19.
Konvensi ini dihadiri 70 imam diosesan dari seluruh penjuru negeri serta satu anggota dari Malaysia. Acara ini juga dihadiri oleh Prior Provinsial dari Provinsi Dominikan Filipina, Pater Filemon Dela Cruz, Jr., OP.
Sesi pagi dibuka dengan doa yang dipimpin oleh Pater Neil Pagalan dan pengumandangan Lagu Kebangsaan Filipina, dilanjutkan dengan sambutan hangat dari Mgr. Gary Formoso selaku Presiden Persaudaraan Imam di Filipina serta arahan dari Pater Roy Rodriguez, OP selaku Promotor Provinsi Persaudaraan.
Dalam ceramah utamanya, Pater Raúl Gómez Sánchez, OP, Promotor Jenderal Persaudaraan Imam Dominikan, mengajak para imam untuk menggali kembali akar panggilan mereka. Ia menyampaikan pesan agar para imam “rediscover the first love that brought them together in the Fraternities” (menemukan kembali cinta pertama yang menyatukan mereka dalam Persaudaraan), seraya menekankan pentingnya mengalami kasih Allah melalui sesama rekan imam untuk memperbarui komitmen panggilan dan misi mereka.
Puncak dari sesi pagi ditandai dengan Perayaan Ekaristi Kudus yang dipimpin langsung oleh Uskup Agung Manila, Jose F. Kardinal Advincula, yang juga merupakan anggota Persaudaraan Imam ini. Memasuki sesi siang, para peserta mendengarkan sesi pembekalan materi dari Pater Jayson Gonzales, OP dan Pater Gilles Berceville, OP. Dalam pemaparannya, Pater Jayson selaku Asisten Promotor Provinsi merefleksikan ensiklik Magnifica Humanitas dan menegaskan kembali pentingnya “reaffirming the dignity of the human person as imago Dei (image of God), particularly in light of the ethical challenges and potential threats posed by artificial intelligence” (menegaskan kembali martabat manusia sebagai citra Allah, khususnya di tengah tantangan etis dan potensi ancaman yang ditimbulkan oleh kecerdasan buatan).
Sementara itu, Pater Gilles Berceville, OP, Direktur Institut Sejarah Misi di Universitas Katolik Paris, mengangkat kisah perjuangan Uskup Agung Josef Beran dari Praha selama Perang Dunia II sebagai teladan “courageous Christian witness” (kesaksian Kristiani yang berani). Presentasi tersebut menunjukkan bagaimana kesetiaan hidup dan iman Uskup Agung Beran menjelmakan semangat Santo Dominikus dan Santo Tomas Aquinas.
Rangkaian acara siang ditutup dengan Doa Tengah Hari dan Upacara Busana (Rite of Vestition) bagi dua anggota baru, yaitu Pater Kolonel Pablo de Guzman, Jr., CHS (GSC) dari Ordinarita Militer Filipina dan Pater Edgardo Santayana dari Keuskupan Lucena. Saat para imam kembali ke keuskupan dan pelayanan masing-masing, umat diimbau untuk terus menopang mereka dalam doa agar senantiasa meresapi semangat Santo Dominikus, bertumbuh dalam kecintaan pada kebenaran (Veritas), serta setia melayani sesama yang membutuhkan demi Salus animarum — keselamatan jiwa-jiwa.



