EERSEL, BELANDA, Pena Katolik – Berawal dari kegelisahan akan masa depan Floor, sebuah keluarga di Belanda membangun Papito. Bukan sekadar tempat perawatan bagi penyandang disabilitas intelektual, melainkan sebuah rumah untuk tetap hidup, bertumbuh, dan merasa diterima.
Setiap orang tua mungkin pernah memikirkan masa depan anaknya. Sekolahnya, pekerjaannya, pasangan hidupnya, atau tempat ia kelak membangun keluarga.
Namun bagi Noor dan Jan Verhoeven, pertanyaan tentang masa depan putri mereka jauh lebih mendasar. Siapa yang akan menemani Floor ketika kami tidak lagi mampu melakukannya?
Floor membutuhkan pendampingan intensif dalam kehidupan sehari-hari. Ia tidak akan menjalani kemandirian seperti kebanyakan orang dewasa. Maka bagi keluarganya, memikirkan masa depan bukan terutama tentang seberapa jauh Floor akan pergi. Justru tentang di mana ia kelak dapat tetap merasa pulang. Dari pertanyaan itulah kisah Stichting Papito bermula.
Rumah yang Dicari Tidak Ditemukan
Keluarga Floor sebenarnya melakukan sesuatu yang sangat wajar: mencari tempat tinggal yang sesuai untuk masa depan putri mereka. Namun semakin mencari, mereka menyadari bahwa kebutuhan Floor tidak dapat diringkas menjadi kamar, jadwal makan, obat-obatan, dan pendampingan.
Mereka menginginkan lingkungan tempat Floor dapat menjalani keseharian sebagai seorang pribadi. Ia dapat mendengarkan musik yang disukainya, berkegiatan, berada di tengah orang-orang yang mengenalnya, menikmati taman, dan mempunyai ritme kehidupan sendiri. Singkatnya, mereka tidak hanya mencari tempat yang dapat merawat Floor. Mereka mencari tempat yang dapat menjadi rumah bagi Floor.
Ketika rumah yang mereka bayangkan itu sulit ditemukan, keluarga mengambil jalan lain: membangunnya. Noor kemudian berjalan bersama dua saudarinya, Heleen dan Maaike, serta Jan dan Roland. Pada 10 Desember 2019, mereka mendirikan Stichting Papito.
Mimpi sebuah keluarga perlahan berubah menjadi proyek bersama. Butuh waktu bertahun-tahun sebelum mimpi itu benar-benar dapat dihuni. Perencanaan, pendanaan, pembangunan dan berbagai proses harus dilewati.
Hingga akhirnya, pada awal 2026, pintu Papito terbuka. Floor dan penghuni lainnya mulai menempati rumah baru mereka di Eersel. Bagi orang lain, mungkin itu hari pembukaan sebuah fasilitas. Bagi sebuah keluarga, itu adalah jawaban atas kecemasan bertahun-tahun.
Di Sini, Hidup Tidak Diukur dengan Prestasi
Papito dibangun dalam skala kecil. Ada tempat tinggal bagi 12 penghuni, kegiatan harian, ruang bersama dan lingkungan yang memungkinkan mereka menjalani keseharian sesuai kemampuan masing-masing.
Ada memasak, musik, kegiatan kreatif, taman, tanaman dan hewan. Tidak terdengar istimewa. Justru di situlah keistimewaannya.
Sebab Papito tidak dibangun untuk menciptakan kehidupan yang luar biasa bagi penghuninya. Papito ingin memberi kesempatan kepada mereka untuk menikmati sesuatu yang sering kita anggap biasa: menjalani hidup. Salah satu prinsip yang tertulis dalam visi Papito berbunyi:
“Iedereen doet mee, naar eigen kunnen.”
Setiap orang ikut mengambil bagian, sesuai kemampuannya. Kalimat itu sederhana, tetapi terasa menantang di tengah masyarakat yang terbiasa mengukur seseorang dari apa yang mampu ia hasilkan.
Kita mengenal orang dari gelarnya. Pekerjaannya. Prestasinya. Produktivitasnya.
Lalu bagaimana dengan seseorang yang tidak dapat memenuhi ukuran-ukuran tersebut?
Papito menawarkan cara pandang berbeda. Bukan bertanya, “Seberapa banyak yang dapat ia lakukan?” Melainkan, “Bagaimana ia tetap dapat mengambil bagian?”
Bukan Sekadar Merawat
Ada pemikiran yang kuat dalam perjalanan Papito: manusia tidak hidup untuk menerima perawatan; ia menerima perawatan agar dapat hidup.
Perbedaannya hanya beberapa kata, tetapi maknanya besar. Sebab kebutuhan seseorang tidak selesai ketika tubuhnya sudah bersih, makanannya tersedia dan obatnya sudah diberikan. Ia tetap membutuhkan relasi: Kegembiraan, Pilihan, Kesibukan, dan Rasa memiliki. Dan terutama pengalaman bahwa kehadirannya mempunyai arti.
Dalam nilai-nilai Papito ada istilah Belanda yang sederhana: “gezien worden” — dilihat. Bukan sekadar terlihat, melainkan sungguh dikenali sebagai pribadi.
Barangkali kita semua memahami kebutuhan itu. Ada hari ketika yang kita perlukan bukan nasihat atau bantuan besar. Kita hanya ingin seseorang menyadari bahwa kita ada. Bagi seseorang yang sepanjang hidupnya bergantung pada orang lain, pengalaman “aku dilihat” dapat berarti: aku bukan sekadar seseorang yang harus diurus. Aku adalah bagian dari kehidupan ini.
Pertanyaan Lama yang Masih Menyakitkan
Kisah Floor juga membawa kita pada kenyataan lain. Sampai hari ini masih ada keluarga dengan anak berkebutuhan khusus yang harus mendengar pertanyaan:
Mengapa anaknya seperti itu? Bahkan terkadang penderitaan atau disabilitas dikaitkan dengan kesalahan dan dosa orang tua.
Pertanyaan semacam itu ternyata bukan hal baru. Dalam Injil Yohanes, ketika para murid melihat seorang yang buta sejak lahir, mereka bertanya kepada Yesus: “Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya?” (Yoh. 9:2).
Yesus menjawab: “Bukan dia dan bukan juga orang tuanya.”
Ada sesuatu yang menarik dalam perjumpaan itu. Para murid melihat sebuah keadaan lalu mencari kesalahan. Yesus melihat seseorang yang membutuhkan perjumpaan. Di situlah kisah Papito menemukan gema Kristianinya. Iman tidak mengajak kita pertama-tama mencari alasan mengapa seseorang tidak sama dengan kita.
Iman mengajak kita bertanya: Apakah di tengah kita masih tersedia tempat baginya?
Membuat Orang Tua Sedikit Lebih Tenang
Papito pada akhirnya bukan hanya cerita tentang disabilitas. Ia adalah cerita tentang cinta sebuah keluarga yang berani memandang jauh ke depan. Orang tua tidak dapat berjanji akan menemani anaknya selamanya.
Noor dan Jan pun tidak. Tetapi mereka dapat melakukan sesuatu hari ini agar masa depan Floor tidak dimulai dengan kesendirian. Mereka membangun sebuah rumah. Bukan untuk menggantikan kasih keluarga, tetapi supaya kasih itu mempunyai tempat untuk diteruskan.
Mungkin itulah sebabnya kisah Papito terasa dekat bahkan bagi mereka yang tidak mempunyai anak berkebutuhan khusus. Sebab pada suatu titik dalam kehidupan, kita semua akan berhadapan dengan kerapuhan.
Hari ini kita mungkin menjadi orang yang merawat. Besok, bisa jadi kitalah yang membutuhkan tangan orang lain. Dan pada saat itu, pertanyaan terpenting mungkin bukan lagi seberapa banyak yang masih dapat kita lakukan. Melainkan, apakah masih ada seseorang yang melihatku sebagai manusia yang berharga? Di Eersel, pertanyaan itu mempunyai sebuah jawaban sederhana.
Sebuah rumah bernama Papito.
Rumah yang lahir karena sepasang orang tua menyadari bahwa mereka tidak dapat menjaga anaknya selamanya. Namun kasih membuat mereka melakukan sesuatu yang mungkin jauh lebih berarti: mempersiapkan sebuah tempat agar ketika tangan mereka suatu hari harus melepaskan, Floor tetap mempunyai tangan untuk digenggam—dan sebuah rumah untuk pulang.



