PenaKatolik.Com, Landak | Jangan terlalu sibuk melihat kesalahan orang lain sebelum mampu melihat dan merefleksikan diri sendiri. Pesan tersebut disampaikan Romo Elson (Samuel Sonny Gunawan, OP) dalam permenungan misa rutin mingguan bersama mahasiswa di Kapel Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo, Kampus 1 Landak, Jumat (11/9/2026).
Dalam refleksinya, Romo Elson mengajak mahasiswa untuk tidak mudah membicarakan atau menggosipkan kesalahan orang lain. Menurut dia, kecenderungan untuk membicarakan kesalahan sesama sering kali membuat seseorang lupa untuk melihat kelemahan dalam dirinya sendiri.
“Jangan melihat orang lain, tapi lihat diri sendiri,” ungkapnya.
Dia mengajak mahasiswa bertanya kepada diri masing-masing, apakah diri sendiri sudah baik, sudah mampu, atau bahkan merasa lebih baik daripada orang lain.
“Pernahkah kita berefleksi dengan diri kita sendiri?” tanyanya kepada mahasiswa.
Menurut Romo Elson, mengoreksi orang lain bukan sesuatu yang sepenuhnya salah. Namun, koreksi harus dilakukan dengan tujuan membantu sesama menjadi lebih baik, bukan untuk menjatuhkan, mempermalukan, atau menjadikan kesalahan orang lain sebagai bahan pembicaraan.
Karena itu, sebelum mengoreksi orang lain, seseorang perlu terlebih dahulu melihat dirinya sendiri.
“Jangan melihat salahnya, tapi bagaimana kita membantu dia supaya dia lebih baik,” pesannya.
Kebenaran Tidak Selalu Nyaman
Romo Elson juga mengingatkan bahwa mengatakan sesuatu yang benar tidak selalu menjadi pilihan yang mudah. Ada kalanya kebenaran justru membuat seseorang berhadapan dengan penolakan atau memiliki banyak orang yang tidak menyukainya.
Namun, dia mengajak mahasiswa untuk tetap belajar memperjuangkan kebenaran.
Dalam kehidupan sekarang, mahasiswa berhadapan dengan begitu banyak hal yang menarik perhatian. Dunia digital, pergaulan, hiburan, dan berbagai aktivitas lainnya dapat membuat kehidupan kampus menjadi semakin dinamis. Di tengah situasi tersebut, mahasiswa diajak untuk tidak kehilangan kesempatan dalam membangun kehidupan yang bermakna.

“Gunakan kesempatan sebaik mungkin. Tidak semua orang punya kesempatan untuk berbincang dan bertemu dengan para biarawan-biarawati,” katanya.
Menurut dia, kehadiran para biarawan dan biarawati di lingkungan kampus merupakan kesempatan bagi mahasiswa untuk belajar. Mereka tidak hanya hadir sebagai bagian dari kehidupan akademik, tetapi juga sebagai pribadi yang menemani mahasiswa dalam perjalanan mencari harapan dan kebenaran.
“Mereka ada, mereka menemani, mereka mengajari kita tentang harapan dan kebenaran. Syukuri itu, belajar dari mereka,” ujarnya.
Belajar dari Setiap Perjumpaan
Pada kesempatan tersebut, Romo Elson juga memperkenalkan diri kepada mahasiswa. Dia menyampaikan bahwa dirinya baru sekitar empat bulan berpindah dari Filipina dan kini menjalankan pelayanan di Kampus 2 Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo, Pontianak.
Kehadiran para biarawan dan biarawati, demikian dia menekankan, menjadi bagian dari perjalanan bersama di lingkungan universitas. Karena itu, mahasiswa diajak untuk membangun relasi, berbincang, dan belajar dari setiap pribadi yang mereka jumpai.
Pesan tersebut terutama ditujukan kepada mahasiswa baru yang sedang memulai perjalanan akademiknya, tetapi juga kepada mahasiswa yang telah lebih dahulu menjalani kehidupan kampus.
Romo Elson mengajak seluruh mahasiswa untuk menjalani proses tersebut dengan semangat persaudaraan dan keterbukaan.

“Selamat berjuang, selamat berjalan bersama, selamat mengingatkan, selamat berproses,” pesannya.
Pada akhirnya, Romo Elson mengajak mahasiswa untuk tidak sekadar mengejar pengetahuan selama berada di bangku perguruan tinggi. Lebih dari itu, kampus menjadi ruang untuk menemukan kebenaran dan belajar memahami manusia melalui berbagai perjumpaan.
“Carilah kebenaran, carilah umat dalam setiap perjumpaan,” pungkasnya.
Permenungan tersebut ditutup dengan doa dan jawaban bersama, “Amin.” *Samuel_Sumber-Abxy.



