JAKARTA, Pena Katolik — Pembaruan sinodal dalam Gereja Katolik tidak dimulai dari perubahan struktur organisasi atau program pastoral, melainkan dari transformasi cara para pemimpin Gereja memandang orang lain. Hal tersebut ditegaskan oleh Kardinal Luis Antonio G. Tagle dalam sesi rekoleksi sehari yang menjadi bagian dari rangkaian Pleno ke-12 Federasi Konferensi Uskup Asia (Federation of Asian Bishops’ Conferences / FABC) di Jakarta pada 22 Juli lalu.
Dalam konferensi bertajuk “You Will See Greater Things… A Call to Synodal Conversion of Pastoral Leaders”, Kardinal Tagle menyampaikan bahwa perjalanan sinodal Gereja tidak akan membuahkan hasil jika para pemimpin pastoral masih memandang orang lain melalui prasangka, stereotip, atau penilaian manusiawi semata.
“Pembaruan sinodal yang sejati dimulai dengan belajar memandang orang lain sebagaimana Yesus memandang mereka,” tegas Kardinal Tagle.
Kardinal Tagle menyoroti pertanyaan skeptis Natanael saat mendengar bahwa Sang Mesias berasal dari Nazaret: “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?” Menurutnya, asumsi budaya dan pengalaman pribadi kerap membentuk persepsi seseorang terhadap sesamanya.
Natanael memiliki standar sendiri tentang siapa yang unggul dan siapa yang inferior. Namun, cara pandang terbatas itu terpatahkan ketika Yesus melihat kebaikan yang jauh lebih besar dalam diri Natanael, seraya berkata, “Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!”
“Yesus melihat keagungan di tempat di mana kita sering kali hanya melihat hal-hal biasa—atau bahkan masalah. Ia membantu kita menemukan kebaikan yang bahkan tidak kita sadari sebelumnya,” lanjutnya.
Tanpa transformasi cara pandang ini, kepemimpinan Gereja berisiko menjadi dangkal dan eksklusif. Kardinal Tagle membagikan refleksi pribadinya saat menatap cermin dan berpikir bahwa jika ia menjadi Yesus, ia tidak akan memilih dirinya untuk menjadi seorang kardinal. Keraguan serupa pernah ia rasakan menjelang tahbisan imam, hingga ia belajar untuk berserah pada penilaian Tuhan.
Kardinal Tagle mengajak seluruh peserta Pleno FABC untuk mengevaluasi diri: apakah asumsi budaya, kebiasaan, atau prasangka pribadi masih memengaruhi gaya kepemimpinan pastoral mereka selama ini? Ia menegaskan kembali bahwa konversi sinodal hanya dapat terwujud ketika para pemimpin Gereja membuka hati untuk dimurnikan oleh Injil, sehingga mampu memandang setiap jiwa melalui mata Kristus.



