VATIKAN, Pena Katolik — Ada satu momen unik dalam sejarah Gereja Katolik ketika Paus Paulus VI menulis sebuah ensiklik pada tahun 1965 yang secara harfiah berjudul ‘Bulan Mei’, Mense Maio (Latin). Meski terdengar tidak biasa untuk sebuah dokumen resmi kepausan, ensiklik ini merangkum berbagai topik penting yang menegaskan kembali tradisi devosi populer yang hidup di tengah umat sepanjang bulan ini.
Pada bagian awal ensikliknya, Santo Paulus VI memuji ketulusan iman umat beriman yang mendedikasikan bulan Mei secara khusus untuk menghormati Bunda Maria:
“Bulan Mei akan segera tiba, sebuah bulan yang sejak lama telah didedikasikan oleh kesalehan umat beriman kepada Maria, Bunda Allah. Hati Kami bersukacita memikirkan penghormatan iman dan kasih yang menyentuh, yang akan segera dipersembahkan kepada Ratu Surga di setiap sudut bumi… Kami merasa gembira dan terhibur oleh tradisi saleh yang dikaitkan dengan bulan Mei ini, yang memberikan penghormatan kepada Perawan Maria sekaligus membawa manfaat yang begitu kaya bagi umat Kristiani.”
Ia juga menegaskan bahwa devosi kepada Maria pada hakikatnya adalah sarana untuk mendekatkan diri kepada Yesus Kristus. Menurutnya, Maria adalah jalan yang menuntun manusia kepada Putranya.
“Bagi mereka yang menjumpai Maria, tidak bisa tidak, ia juga akan menjumpai Kristus. Untuk alasan apa lagi kita terus-menerus berpaling kepada Maria, selain untuk mencari Kristus dalam pelukannya—mencari Juru Selamat kita di dalam dia, melalui dia, dan bersama dengan dia?” tulis Paus Paulus VI.
Doa untuk Perdamaian Dunia
Selain menekankan aspek devosi, sebagian besar isi ensiklik Mense Maio sebenarnya berfokus pada seruan global untuk mendoakan perdamaian dunia. Paus Paulus VI mengenang bagaimana para pendahulunya kerap memanfaatkan bulan Mei untuk membawa intensi-intensi mendesak dunia ke dalam doa melalui perantaraan Bunda Maria.
Sebagai catatan sejarah, ketika ensiklik ini ditulis pada tahun 1965, situasi geopolitik dunia sedang memanas seiring dengan berkecamuknya Perang Vietnam yang mendekati puncaknya, di samping berbagai konflik sipil yang melanda belahan bumi lain.
Paus Paulus VI melihat bulan Maria sebagai momentum spiritual yang kuat untuk menggerakkan doa bersama demi meredam krisis kemanusiaan tersebut.
Menariknya, garis sejarah seolah mempertegas kedekatan Paus Paulus VI dengan bulan yang ia maknai secara mendalam ini. Ketika ia dikanonisasi menjadi orang kudus (santo), Takhta Suci menetapkan hari peringatan opsional bagi Santo Paus Paulus VI dalam Kalender Romawi pada tanggal 29 Mei—yang bertepatan dengan ulang tahun penahbisan dirinya sebagai imam.
Melalui ketetapan tersebut, sang pontifex yang pernah mendedikasikan satu ensiklik utuh untuk menghormati bulan Mei, kini selalu dikenang dan dihormati oleh umat Katolik di seluruh dunia tepat pada akhir bulan yang sama setiap tahunnya.



