PenaKatolik.Com | Pontianak – Ngabang | Dalam suasana Bulan Maria yang penuh rahmat dan pengharapan, para mahasiswa dan mahasiswi penerima Beasiswa Dominikan Indonesia yang menempuh pendidikan di Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo menjalani berbagai proses pembinaan hidup yang sederhana namun sangat bermakna: belajar menjaga kehidupan, membangun kemandirian, dan merawat harapan bersama.
Di Ngabang, para mahasiswa yang tinggal di Asrama St. Rosa de Lima didampingi oleh para Suster Dominikan dalam kehidupan harian mereka.
Kehidupan asrama didampingi oleh Sr. Teresa, OP sementara pendampingan mahasiswa penerima beasiswa secara khusus didampingi oleh Sr. Roshelle, OP.

Dalam beberapa waktu terakhir, para mahasiswa mulai mengembangkan program ketahanan pangan sederhana di lingkungan asrama. Bersama-sama mereka membersihkan lahan, mengolah tanah, menyiapkan pupuk alami dari kandang ayam, serta mulai menanam berbagai tanaman kebutuhan sehari-hari.
Hasil sederhana mulai dinikmati bersama: panen lele dari kolam kecil, panen telur ayam setiap hari untuk kecukupan gizi anak Asrama, panen pepaya dan kencur ,jahe kunyit serta serai dan laos yang mulai dibagikan maupun dijual secara sederhana.
Kangkung, bayam hijau, bayam brasil, daun jeruk, daun salam dan berbagai tanaman lainnya juga terus ditanam dan dipanen hampir setiap hari untuk kebutuhan bersama di asrama.

Di balik semua kegiatan itu, para mahasiswa belajar sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar bercocok tanam: bahwa kehidupan membutuhkan kesabaran, kerja sama, dan kesetiaan merawat hal-hal kecil.
Sementara itu di Pontianak, mahasiswa penerima Beasiswa Dominikan yang tinggal di Asrama Beata Imelda juga menjalani pembinaan keterampilan hidup yang kreatif dan membangun kemandirian. Dengan pendampingan Sr. Cleuza, OP, para mahasiswi belajar membuat sabun sebagai bagian dari pembinaan keterampilan praktis dan pemberdayaan diri.
Kegiatan sederhana ini menjadi ruang belajar yang sangat berarti. Para mahasiswa tidak hanya diajak untuk berkembang secara akademik, tetapi juga dibentuk untuk memiliki keterampilan hidup, kreativitas, dan semangat kewirausahaan yang membumi.
Dalam terang Bulan Maria, seluruh proses ini terasa sangat dekat dengan kehidupan Bunda Maria sendiri seorang ibu yang hidup sederhana, setia merawat kehidupan, dan membesarkan harapan dalam keseharian Nazaret.

Pendampingan yang dilakukan para Suster Dominikan, baik di Ngabang maupun Pontianak, menunjukkan bahwa pendidikan sejati bukan hanya soal gelar dan prestasi, tentang membentuk manusia yang utuh: mampu berpikir, bekerja, berbagi, dan hasilkan kehidupan bersama.
Di tengah dunia yang sering mengejar kecepatan dan hasil instan, para mahasiswa ini justru belajar sesuatu yang perlahan mulai hilang: bekerja dengan tangan sendiri, mencintai proses, hidup sederhana, dan bertumbuh bersama komunitas.
Mungkin hasil panennya sederhana.
Mungkin sabun yang dibuat masih tahap belajar.
Namun seperti benih kecil dalam Injil, harapan selalu bertumbuh perlahan.
Baik di Pontianak dan di Ngabang, pada Bulan Maria ini, harapan itu sedang ditanam melalui tanah yang diolah, tangan yang bekerja, doa yang setia, dan hati muda yang terus dibentuk untuk menjadi berkat bagi banyak orang.*akurtrsaop.





