MAKASSAR, Pena Katolik – Dalam keheningan yang sederhana namun sarat makna, Persaudaraan Awam Dominikan Komunitas Santa Katarina Siena Makassar, bagian dari Chapter St. Thomas Aquinas Surabaya, menghidupi sebuah perjalanan iman yang utuh—sebuah alur yang mengalir dari rekoleksi menuju profes, dari permenungan menuju perutusan.
Perjalanan ini dimulai pada Selasa, 28 April 2026, ketika umat Paroki Kristus Raja Andalas berkumpul dalam rekoleksi terbuka. Sejak pukul 18.00 WITA, umat mulai memenuhi gereja. Suasana hangat dan penuh keterbukaan terasa begitu nyata, seakan menjadi tanda bahwa yang terjadi malam itu bukan sekadar kegiatan, melainkan sebuah perjumpaan rohani.
Rekoleksi diawali dengan puji-pujian yang dibawakan oleh teman-teman KMK FEB UNHAS, serta lagu-lagu rohani yang dinyanyikan oleh penyanyi solis dari KMK Keperawatan. Alunan pujian dan nyanyian yang sederhana namun penuh penghayatan membantu membawa umat masuk dalam suasana doa dan permenungan yang mendalam.
Acara kemudian dilanjutkan dengan doa pembukaan dan sesi pembinaan yang dibawakan oleh Romo Andre. Dalam suasana yang hidup dan dialogis, umat diajak mengenal lebih dekat spiritualitas Dominikan. Pertanyaan-pertanyaan pun bermunculan—jujur, sederhana, namun menyentuh inti: apa bedanya Dominikan Awam dengan Legio Maria, apakah hanya berfokus pada doa, bagaimana bentuk pelayanannya, dan bagaimana seorang awam dapat menjadi pewarta di tengah dunia.
Pertanyaan-pertanyaan ini perlahan membuka pemahaman bahwa Dominikan Awam bukan sekadar kelompok devosi, melainkan sebuah cara hidup. Jika Legio Maria dikenal dengan spiritualitas devosi dan kunjungan pastoral, maka Dominikan Awam berakar pada empat pilar utama: doa, studi, komunitas, dan pewartaan. Seorang Dominikan Awam dipanggil bukan hanya untuk berdoa, tetapi juga untuk mendalami iman, hidup dalam persaudaraan, dan mewartakan kebenaran dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam pembinaan tersebut, Romo Andre merangkum inti spiritualitas Dominikan dalam tiga kata yang sederhana namun sangat mendalam: Laudare, Benedicere, Praedicare.
Laudare berarti memuliakan Tuhan dengan kerendahan hati. Seorang Dominikan diajak untuk menyadari bahwa segala sesuatu berasal dari Tuhan, sehingga hidup diarahkan bukan untuk mencari kemuliaan diri, melainkan untuk memuliakan Tuhan. Laudare juga berarti berbicara kepada Tuhan melalui doa, pujian, keheningan, dan hati yang berserah di hadapan-Nya. Dari doa yang mendalam itulah hati dibentuk menjadi lebih tenang, lebih rendah hati, dan lebih peka terhadap kehendak Tuhan.
Benedicere berarti berkata baik, menjadi berkat, dan berbicara tentang Tuhan. Seorang Dominikan dipanggil menghadirkan kata-kata yang membangun, meneguhkan, membawa damai, dan menguatkan sesama. Iman tidak hanya disimpan dalam hati, tetapi dibagikan melalui tutur kata, perhatian, dan sikap hidup yang mencerminkan kasih Tuhan. Lidah yang memuji Tuhan juga dipanggil untuk memberkati sesama, bukan melukai atau menjatuhkan.
Sedangkan Praedicare berarti mewartakan Tuhan melalui hidup sehari-hari. Pewartaan tidak hanya dilakukan lewat khotbah atau kata-kata, tetapi juga melalui tindakan, pelayanan, kesetiaan, dan kesaksian hidup. Apa yang didoakan dalam Laudare dan dihidupi dalam Benedicere akhirnya diwujudkan dalam Praedicare—membawa terang dan kasih Tuhan ke tengah keluarga, komunitas, pekerjaan, dan dunia.
Rekoleksi ditutup dalam keheningan doa yang mendalam. Banyak yang pulang dengan hati yang tersentuh, membawa benih panggilan yang mulai bertumbuh perlahan di dalam diri.
Keesokan harinya, Rabu, 29 April 2026, suasana berubah menjadi lebih hening. Fajar belum sepenuhnya menyingsing ketika umat dan anggota komunitas kembali berkumpul di Kapel Paroki Kristus Raja Andalas. Ibadat Pagi (Brevir) pada pukul 05.40 WITA menjadi awal dari sebuah perayaan yang lebih dalam: Misa Pembaharuan Profesi.
Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Romo Andre dan turut dihadiri oleh Pastor Paroki, Pastor Agustinus Kale’pe’, sebagai tanda dukungan Gereja setempat. Dalam kapel yang sederhana, setiap doa dan nyanyian terasa lebih dalam, mengalir dalam keheningan yang mengantar pada momen puncak pengucapan profes.
Satu per satu anggota maju dengan tenang, mengucapkan janji mereka dengan penuh kesadaran. Sebanyak enam anggota mengucapkan profes tingkat ketiga, dua anggota profes tingkat kedua, dan dua anggota profes tingkat pertama. Ibu Grace Pontoh, OP, selaku koordinator komunitas Makassar, mengucapkan profes ketiga sebagai tanda kesetiaan yang semakin matang dalam panggilan.
Hadir pula Victor, OP, Wakil Ketua PDAI Chapter St. Thomas Aquinas Surabaya, bersama Verna, OP, sebagai saksi penerimaan profes. Kehadiran mereka meneguhkan bahwa komunitas ini berjalan dalam kesatuan keluarga besar Dominikan.
Komunitas Makassar memilih Santa Katarina Siena sebagai pelindung mereka. Pembaruan profes yang bertepatan dengan pesta liturginya memberi makna yang semakin dalam. Santa Katarina Siena menjadi teladan awam Dominikan yang hidup dalam doa yang mendalam, berani dalam kebenaran, dan setia dalam membangun Gereja. Dari hidupnya, tampak jelas bahwa pewartaan sejati lahir dari kedalaman: dari keheningan, ia berbicara; dari doa, ia bertindak; dan dari kesetiaan, ia mengubah dunia.
Semangat itulah yang kini dihidupi oleh komunitas Dominikan Awam Makassar—sebuah semangat yang tidak mencari kemegahan, tetapi kesetiaan.
Perayaan kemudian ditutup dengan foto bersama dan sarapan sederhana di pastoran, yang semakin meneguhkan kehangatan persaudaraan. Namun lebih dari sekadar kebersamaan, rangkaian ini menunjukkan sebuah proses yang utuh: dari mendengar, merenung, hingga berkomitmen; dari pengenalan menuju pengutusan.
Komunitas Dominikan Awam Makassar tampil sebagai komunitas yang kompak dan penuh pengharapan. Mereka tidak hanya berkumpul, tetapi bertumbuh bersama dalam satu arah yang jelas. Ke depan, mereka rindu untuk semakin aktif dalam pewartaan, terutama melalui doa dan pelayanan yang mengarah pada keselamatan jiwa-jiwa, menghadirkan kasih Tuhan dalam kehidupan nyata.
Dari kapel yang sederhana, dari fajar yang hening, sebuah perutusan dimulai. Janji yang diperbarui bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi untuk dunia—agar semakin banyak jiwa disentuh oleh kebenaran dan kasih Tuhan.
Ketika fajar menyentuh kapel, janji itu diperbarui—dan dari sana, pewartaan pun sungguh dimulai (akurgrcop)





