Paus Benediktus XVI, Kunjungan yang Dibatalkan dan Persidangan Galileo

ROMA, Pena Katolik – Paus Benediktus XVI diundang oleh rektor Universitas La Sapienza di Roma pada saat itu, Renato Guarini. Sebenarnya, Benediktus XVI dijadwalkan mengunjungi universitas bergengsi di Roma pada 17 Januari 2008. Ia akan menyampaikan pidato pada pembukaan tahun akademik.

Selama karier kademisnya, Paus asal Jerman ini dikenal sebagai cendekiawan yang teliti, jauh dari citra “sebagai pengawas doktrin” yang sering dikaitkan dengannya. Namun, segera setelah undangan itu diumumkan, protes meletus di antara beberapa dosen dan mahasiswa. Saat itu, 67 dosen, sebagian besar dari departemen fisika, mengirim surat kepada rektor menuntut pembatalan acara tersebut.

Salah Interpretasi

Protes ini bermuara pada kuliah tahun 1990 yang diberikan oleh Kardinal Joseph Ratzinger di universitas yang sama. Di dalamnya, ia mengutip filsuf ilmu pengetahuan Paul Feyerabend mengenai “persidangan Galileo”. Para penentang menuduh calon paus itu mendukung gagasan bahwa “kecaman Gereja terhadap Galileo” adalah “rasional dan adil.”

Interpretasi ini dengan cepat menyebar melalui media Italia, mengubah kunjungan tersebut menjadi kontroversi nasional. Peristiwa ini terjadi dua tahun setelah pidatonya di Regensburg tahun 2006. Saat itu, salah satu bagian dari pidaro Benediktus XVI pada bagian tentang seorang kaisar Bizantium, telah dikutip di luar konteks. Kata-kata Benediktus XVI ini lalu dijadikan “senjata dan diputarbalikkan”.

Kembali ke kejadian 1990, konteks kutipannya sebenarnya jauh lebih kompleks. Kardinal Ratzinger tidak membela inkuisisi, ia membahas krisis kepercayaan modern terhadap sains, dan mengutip Feyerabend sebagai gejala pergeseran kritis dalam filsafat sains kontemporer.

Namun, dalam iklim tegang saat itu, mahasiswa menduduki kantor rektor di La Sapienza dan mengumumkan protes atas kunjungan Benediktus. Menghadapi risiko bentrokan, Vatikan akhirnya memutuskan untuk membatalkan perjalanan tersebut.

Kejutan yang Menyehatkan

Pembatalan tersebut memicu keheranan di seluruh Italia. Sebagian besar kalangan politik, termasuk kaum kiri sekuler, mengutuk apa yang mereka anggap sebagai “intoleransi intelektual”. Presiden Italia, Giorgio Napolitano, mantan anggota Partai Komunis, secara terbuka menyatakan solidaritasnya dengan Paus. Sementara itu, penulis dan dramawan Dario Fo, yang terkenal dengan satir anti-Katoliknya, juga membela hak Benediktus XVI untuk berbicara di universitas.

Peristiwa ini mengungkapkan paradoks yang mencolok. Pihak kampus yang memprotes kehadiran Benediktus XVI ke La Sapienza, yang menuduh Gereja secara historis menyensor sains dalam kasus Galileo, kini mereka justru melakukan tindakan yang persis sama, seperti yang mereka kritik, yakni “menutup debat intelektual”.

Dalam pidato yang telah ia persiapkan—yang akhirnya ia sampaikan secara tertulis—Benediktus XVI menekankan perlunya dialog antar disiplin ilmu. Ia menekankan panggilan universitas sebagai tempat untuk mengejar kebenaran bersama. Paus berpendapat, bahwa penalaran ilmiah berisiko memiskinkan dirinya sendiri, ketika bertentangan dengan penyelidikan etis atau metafisik.

Dialog yang tak terduga

Namun, insiden ini juga membuka pintu bagi dialog. Beberapa intelektual ateis dan agnostik terlibat dalam pertukaran pendapat sangat kaya dengan Benediktus XVI. Di antara mereka adalah matematikawan Piergiorgio Odifreddi. Saat itu, Odifreddi bisa dibilang sebagai tokoh populerisasi sains dan aktivis rasionalis kontemporer paling terkenal di Italia. Selama bertahun-tahun, hubungan intelektual yang tak terduga berkembang antara kedua pria tersebut.

Pada tahun 2011, Odifreddi menerbitkan kritik panjang yang ditujukan kepada Benediktus XVI. Sontak, banyak pihak mengharapkan perdebatan dan konfrontasi yang brutal antar keduanya. Namun, Paus Benediktus XVI menjawab secara pribadi dalam surat yang kini terkenal. Ia memuji kecerdasan dan kejujuran intelektual lawannya. Namun, ia juga mendebat beberapa analisisnya poin demi poin. Akhirnya, dialog yang sangat sopan ini mengejutkan publik Italia.

Odifreddi seiring waktu mengakui telah menemukan dalam diri Ratzinger, seorang lawan bicara dengan budaya filosofis yang luar biasa. Odifreddi tidak melihat karikatur Benediktus XVI sebagai seorang dogmatis yang memusuhi akal sehat.

Setelah kematian Benediktus XVI, matematikawan itu bahkan menerbitkan tulisan penghormatan “yang sangat hormat dan emosional”, menggambarkan hubungan yang telah tumbuh,  meskipun ada perbedaan mendasar di antara mereka.

Peristiwa La Sapienza meninggalkan warisan paradoks dan beragam. Awalnya, kunjungan yang dibatalkan tersebut memberikan kesan adanya “perceraian” yang tak dapat didamaikan antara sains dan iman. Namun, tahun-tahun berikutnya mengungkapkan sesuatu yang sama sekali berbeda. Terbuka kemungkinan adanya “ruang beradab” di mana kepastian dapat diperdebatkan tanpa saling mengecualikan.

Dalam hal ini, kerendahan hati Benediktus XVI bersinar sebagai elemen penting untuk memungkinkan dialog berkembang dan maju.

Komentar

Tinggalkan Pesan

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terhubung ke Media Sosial Kami

45,030FansSuka
0PengikutMengikuti
75PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Terkini