Pena Katolik, Pontianak | Rektor Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo (Unika San Agustin), RM. Dr. J. Robini M., S.Fil., MA., OP, yang akrab disapa Romo Robini, mengajak umat untuk memahami kisah sengsara Yesus Kristus melalui simbol “taman” sebagai kunci membaca sejarah keselamatan manusia. Refleksi tersebut disampaikan dalam renungan yang ditayangkan melalui kanal YouTube San Agustin TV pada Jumat (3/4/2026).
Dalam renungannya, Romo Robini menekankan bahwa bagian terpanjang dalam perayaan liturgi Gereja, khususnya pada masa Prapaskah dan Pekan Suci, adalah kisah sengsara Yesus yang diambil dari Injil Yohanes. Ia menjelaskan bahwa kisah tersebut memiliki struktur simbolis yang kuat, dimulai dan diakhiri di sebuah taman.
“Kalau saudara-saudari mengikuti kisah sengsara dalam Injil Yohanes, cerita itu dimulai di sebuah taman dan juga berakhir di taman, yaitu tempat Yesus dimakamkan,” ujar Romo Robini.
Menurutnya, penggunaan simbol taman bukanlah kebetulan, melainkan cara Santo Yohanes menampilkan hubungan antara kisah Yesus dan awal sejarah manusia dalam Taman Eden. Ia menjelaskan bahwa secara teologis, sejarah manusia dimulai dari taman, tempat manusia pertama hidup dalam keharmonisan dengan Allah.
Romo Robini menguraikan bahwa di Taman Eden manusia diciptakan dalam rahmat dan kelengkapan, tetapi kejatuhan terjadi ketika manusia tergoda oleh ular. Ia menilai godaan pertama bukanlah kebohongan terang-terangan, melainkan manipulasi kebenaran.
“Iblis mulai dengan godaan, bukan dengan mengatakan kebenaran. Manusia digoda untuk menjadi seperti Allah,” katanya.
Ia menambahkan, godaan tersebut membuat manusia ingin menentukan sendiri mana yang baik dan buruk, menggantikan hukum ilahi dengan hukum manusia. Menurutnya, keinginan “menjadi Tuhan” inilah yang menjadi akar kejatuhan manusia.
Dalam refleksi lebih lanjut, Romo Robini mengaitkan pola kejatuhan tersebut dengan peristiwa pengadilan Yesus. Ia menjelaskan bahwa dalam kisah sengsara terdapat dua kekuatan besar yang terlibat, yakni pemimpin agama Yahudi dan pemerintahan Romawi.
Ia menyebut bahwa pengadilan agama berkolusi dengan kekuasaan politik. Para pemimpin agama, kata dia, menjatuhkan hukuman atas nama Tuhan, sementara penguasa Romawi memiliki kuasa menentukan hidup dan mati.
Mengutip kisah Injil, Romo Robini mengatakan bahwa Pilatus sebenarnya menyadari persoalan yang terjadi, tetapi tetap menyerahkan Yesus untuk disalibkan. “Ironinya, ketika Yesus mengatakan bahwa Ia datang untuk memberi kesaksian tentang kebenaran, Pilatus justru bertanya, ‘Apa itu kebenaran?’ padahal kebenaran ada di depannya,” ujarnya.
Menurutnya, peristiwa tersebut menunjukkan ironi manusia yang memiliki kuasa namun kehilangan kemampuan melihat kebenaran. Keinginan manusia untuk “bermain sebagai Tuhan” pada akhirnya menghancurkan kebenaran itu sendiri.
Romo Robini kemudian menyoroti simbol pohon sebagai penghubung antara kisah Adam dan Yesus. Ia menjelaskan bahwa kematian dalam kisah Kejadian datang melalui buah dari pohon, sedangkan penebusan terjadi melalui salib yang juga berasal dari kayu pohon.
“Kematian datang melalui Adam pertama karena pohon, tetapi penebusan datang melalui Adam kedua, yaitu Kristus, juga melalui pohon, yakni salib,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa perbedaan mendasar terletak pada akhir kisah. Jika Adam pertama berakhir dalam kematian, maka Yesus mengalahkan kematian. Makam di taman tidak menjadi akhir cerita karena kebangkitan menjadikannya tanda harapan baru.
Secara tidak langsung, Romo Robini menafsirkan makam kosong sebagai perubahan total dalam sejarah keselamatan. Taman yang dahulu menjadi simbol kejatuhan kini berubah menjadi tempat lahirnya kehidupan baru.
Dalam pesan moralnya, ia mengajak umat untuk melihat pengalaman hidup pribadi melalui perspektif iman tersebut. Menurutnya, manusia sering kali ingin lari dari kegagalan atau penderitaan, padahal justru di sanalah kebangkitan dimulai.
“Tempat dan peristiwa di mana kita jatuh adalah tempat dan peristiwa di mana kita dibangkitkan,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa iman akan kebangkitan membuat makam bukan lagi simbol kegelapan, melainkan sumber cahaya dan harapan. Kebangkitan Kristus, katanya, menunjukkan bahwa penderitaan tidak pernah menjadi kata akhir dalam hidup manusia.
Menutup refleksinya, Romo Robini mengajak umat menghayati “misteri taman” sebagai gambaran perjalanan hidup manusia dari kejatuhan menuju pemulihan, dari kegelapan menuju terang kebangkitan.
“Tuhan menghancurkan kutukan taman, dan dari taman itu kembali memancar cahaya kehidupan,” pungkasnya. *S- Sumber: Youtube San Agustin TV.



