Home DOMINIKAN Everything Comes Down to Gratitude,” kata Father Bien

Everything Comes Down to Gratitude,” kata Father Bien

0

PenaKatolik.Com | Bagi Fr. Bienvenido S. Trinilla Jr., OP, yang kerap disapa Father Bien dalam refleksi setengah abad hidup religius bukan terutama tentang lamanya waktu yang telah dilewati, melainkan tentang kesetiaan mempersembahkan hidup kepada Tuhan. Di tengah perubahan zaman, dia menemukan bahwa panggilan tetap bermakna ketika dijalani dengan iman, keterbukaan, dan rasa syukur.

Naskah ini merupakan naskah lanjutan wawancara untuk pertanyaan ke sembilan dan sepuluh yang berkaitan dengan kesaksian dan teladan hidup selama hidup membiara. Ada pertanyaan yang mendasar ketika seseorang mengenang perjalanan panjang hidup religius yakni setelah puluhan tahun menjalani panggilan, kepada siapa seluruh hidup itu dipersembahkan?

Bagi Father (Fr) Bien yang merayakan 50 tahun profesi religius, jawabannya tidak berubah. Seluruh hidupnya dipersembahkan kepada Tuhan. Jawaban tersebut bukan sekadar ungkapan iman, melainkan kesadaran yang terus membentuk cara dia menjalani kehidupan, menerima perutusan, dan membangun kebersamaan dengan komunitas.

Masih momen wawancara pada 6 Oktober 2026, Fr. Bien mengungkapkan bahwa makna panggilan religius tidak ditentukan oleh panjangnya perjalanan semata. Yang lebih penting adalah kesetiaan untuk terus menghidupi panggilan yang telah diterima dari Tuhan.

“Certainly no other, no other person, object or thing, but to God,” ujarnya ketika ditanya kepada siapa hidupnya telah dipersembahkan setelah 50 tahun menjalani kehidupan religius.

Jawaban itu membawa kita kembali pada awal perjalanan panggilannya, ketika dia memutuskan untuk mengikatkan hidupnya kepada Tuhan melalui profesi religius.

Kaul yang Dihidupi Sampai Akhir Hayat

Fr. Bien mengenang bahwa setelah menjalani tiga tahun profesi sementara, dia mengajukan diri untuk mengikrarkan profesi kekal. Dalam ikrar tersebut, dia menyatakan komitmen untuk hidup dalam panggilan religius sampai akhir hayat.

“I profess my vows, not only temporarily for one year, two years, three years, but until death,” tuturnya.

Bagi dia, profesi kekal bukan sekadar penanda tahapan dalam kehidupan membiara. Kaul tersebut menyatakan arah hidup yang telah dipilih dan dipersembahkan kepada Tuhan. Komitmen itu tidak berhenti pada hari pengikraran, tetapi terus menemukan wujudnya dalam keputusan-keputusan sehari-hari.

Kesadaran bahwa hidupnya adalah milik Tuhan juga menjadi sumber kekuatan ketika menghadapi berbagai tantangan. Fr. Bien mengatakan bahwa keyakinannya terhadap penyelenggaraan ilahi membuatnya tidak perlu dikuasai oleh ketakutan.

“And when you have that aim, that goal that your life is for God, then nothing to be worried, nothing to be afraid of,” katanya.

Dia melanjutkan, “I believe in God’s providence. God will provide.”

Keyakinan tersebut tidak berarti bahwa kehidupan religius selalu berjalan tanpa kesulitan. Sebaliknya, kepercayaan kepada Tuhan memberikan dasar untuk menjalani setiap keadaan dengan keteguhan hati. Bagi Fr. Bien, hidup yang telah dipersembahkan kepada Tuhan perlu dijalani dengan kesetiaan, sembari percaya bahwa Tuhan menyertai perjalanan tersebut.

Dominican Apostolic School, Jaro, Iloilo City, Philippines (1971-1972). Father Bien di urutan ketiga dari kanan ke bawah (Dokumentasi Pribadi)

Panggilan yang Tidak Berubah di Tengah Dunia yang Berubah

Lima puluh tahun bukanlah waktu yang singkat. Dalam rentang itu, dunia mengalami perubahan besar, termasuk dalam cara manusia berkomunikasi, bekerja, belajar, dan membangun relasi. Modernisasi dan kecerdasan buatan kini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Namun, Fr. Bien tidak melihat perubahan tersebut sebagai alasan untuk mengubah hakikat panggilan religiusnya.

“We cannot change the vocation that God has given us,” tegasnya.

Menurut dia, panggilan yang berasal dari Tuhan perlu dijalani dengan kesetiaan. Perubahan zaman tidak menghapus tanggung jawab seorang religius untuk tetap hidup sesuai dengan panggilan yang telah diterimanya.

Ini berarti kesetiaan tidak berarti menutup diri dari perkembangan bagi Fr. Bien justru melihat kemajuan teknologi dan perubahan sosial sebagai kesempatan untuk belajar lebih banyak dan memperdalam penghayatan panggilan.

“The present time, the challenge of the world, the modernization, technology, the AI world do not change my religious vocation, but rather enhance it,” ungkapnya.

Dengan bantuan Tuhan, dia merasa mampu mempelajari hal-hal baru dan menyesuaikan cara menjalani panggilannya dengan keadaan zaman. Perubahan, dalam pandangannya, dapat memperkaya kehidupan religius selama tidak menggeser dasar panggilan itu sendiri.

“It makes my vocation more alive and meaningful,” tambahnya.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa kehidupan religius tidak harus dipertentangkan dengan perkembangan dunia modern. Seorang religius tetap dapat belajar, bertumbuh, dan menanggapi kebutuhan zaman tanpa kehilangan kesetiaan terhadap Tuhan.

Fr. Bien mengingatkan bahwa Tuhanlah yang mengambil inisiatif dalam panggilan tersebut.

“Remember that God calls us, that God calls me. I do not call God, but God had appointed me,” katanya.

Karena Tuhanlah yang memanggil, tugas seorang religius adalah menjalani panggilan itu secara bermakna dan setia. Bagi Fr. Bien, kesetiaan semacam inilah yang membuat kehidupan religius terus bertumbuh dan menjadi semakin kuat.

First profession as Dominican. Dokumentasi Pribadi Father Bien.

Menemukan Keluarga dalam Komunitas

Makna penyerahan diri kepada Tuhan juga tampak dalam keputusan Fr. Bien merayakan 50 tahun profesi religius di Indonesia, bukan di Filipina, negara asalnya.

Dia menjelaskan bahwa kehadirannya di Indonesia merupakan bagian dari perutusan. Dia percaya Tuhan mengutusnya ke tempat ini, dan penugasan tersebut juga diberikan melalui pemimpin provinsinya.

“I believe God sent me here. God sent me here, assigned me here,” ujarnya.

Dalam tradisi kehidupan Dominikan, perayaan 50 tahun profesi religius menjadi kesempatan untuk bersyukur bersama komunitas. Karena itu, Biara Santo Dominikus, tempat dia menjalani kehidupan bersama para saudara, menjadi tempat yang bermakna untuk merayakan perjalanan panggilannya.

Bagi Fr. Bien, komunitas bukan sekadar tempat tinggal atau kelompok orang yang menjalani aturan hidup yang sama. Komunitas adalah keluarga yang hadir dalam perjalanan panggilan, berbagi kehidupan, dan menjadi teman seperjalanan dalam menjalankan perutusan.

Dia memilih merayakan momen bersejarah tersebut di Indonesia meskipun tidak ada anggota keluarga atau kerabatnya dari Filipina yang hadir.

“I am with my family here in Indonesia,” katanya.

Ungkapan itu memperlihatkan kedalaman makna persaudaraan dalam kehidupan religius. Ikatan keluarga tidak hanya dipahami melalui hubungan darah, tetapi juga melalui kesediaan untuk hidup bersama, saling menopang, dan setia pada perutusan yang sama.

Di dalam komunitas, Fr. Bien menemukan pengalaman konkret tentang belas kasih Tuhan. Dia mengenang sebuah ungkapan yang pernah disampaikannya ketika ditanya mengenai apa yang dimintanya, “God’s mercy and yours.”

Yang dimaksud dengan yours adalah komunitas yang hidup bersamanya. Baginya, belas kasih Tuhan tidak hanya dialami dalam doa atau refleksi pribadi, tetapi juga melalui kehadiran orang-orang yang mendampingi perjalanan hidupnya.

“My community is a concrete manifestation of God’s mercy,” tuturnya.

Komunitas menjadi tanda bahwa seseorang tidak menjalani panggilannya sendirian. Ada saudara-saudara yang hadir, berbagi tanggung jawab, dan ikut membentuk pengalaman hidupnya. Dalam kebersamaan itulah, Fr. Bien melihat bagaimana belas kasih Tuhan menjadi nyata.

Karena itu, perayaan 50 tahun profesi religius bukan hanya kesempatan untuk mengenang perjalanan pribadi. Perayaan tersebut juga menjadi kesempatan untuk mengucap syukur atas kehadiran komunitas yang telah menjadi bagian dari perjalanan itu.

Father Bien boleh berikan Satu Kata untuk Lima Puluh Tahun

Ketika diminta merangkum seluruh perjalanan 50 tahun hidup religiusnya dalam satu kata, Fr. Bien memilih kata gratitude, yang berarti rasa syukur.

“Sam, everything, all the questions, all the answers could be summarized into one word, and that is gratitude,” ungkapnya.

Pilihan kata itu merangkum seluruh refleksinya tentang panggilan, kesetiaan, perutusan, dan komunitas. Dia meyakini bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam hidupnya berkaitan dengan Tuhan dan kehendak-Nya. Karena itu, dia memandang perjalanan panjang tersebut dengan rasa terima kasih kepada Tuhan.

Baginya, seorang religius merupakan anugerah Tuhan bagi Gereja. Kehidupan religius bukan hanya tentang bagaimana seseorang menyerahkan hidupnya kepada Tuhan, tetapi juga bagaimana hidup itu menjadi sarana untuk menghadirkan Tuhan bagi orang lain.

“God sent me as His gift to the Church,” katanya.

Fr. Bien bersyukur karena melalui panggilan yang diterimanya, dia dapat menjadi sarana untuk menghadirkan kehadiran Tuhan bagi umat. Dia memahami bahwa kehadiran seorang religius seharusnya tidak berhenti pada status atau identitasnya, tetapi tampak melalui cara hidup dan pelayanan yang dijalankannya.

“I manifest His presence through my presence,” ungkapnya.

Dalam pemahaman ini, rasa syukur bukan hanya perasaan yang diungkapkan melalui kata-kata. Syukur perlu diwujudkan dalam tindakan, terutama melalui kesediaan menghadirkan kasih Tuhan dalam relasi dengan sesama.

“That is why I think putting gratitude into practice is bringing the presence of God to His people,” jelasnya.

Dengan demikian, perjalanan 50 tahun hidup religius menemukan maknanya dalam kehidupan yang terus diberikan bagi Tuhan dan sesama. Kesetiaan menjadi dasar, keterbukaan terhadap perubahan menjadi bagian dari pertumbuhan, dan komunitas menjadi ruang konkret untuk mengalami belas kasih Tuhan.

Di penghujung wawancara, Fr. Bien kembali menyampaikan rasa syukurnya atas panggilan yang telah dijalani.

“I am very grateful to God for making me an instrument of His presence,” tuturnya.

Lima puluh tahun hidup religius pada akhirnya menjadi kisah tentang satu persembahan yang terus diperbarui. Bukan semata-mata tentang waktu yang telah berlalu, melainkan tentang hidup yang tetap diarahkan kepada Tuhan dan menjadi sarana kehadiran-Nya bagi orang lain.

Bagi Fr. Bien OP, itulah makna kesetiaan adalah terus berjalan dalam panggilan, tetap terbuka terhadap perubahan, hidup bersama komunitas, dan mengembalikan semuanya kepada Tuhan dalam rasa syukur. (Samuel)

Exit mobile version

polestoto

lahirtoto

warung403

warung403 login

situs warung403

lahirtoto

LAHIRTOTO

LAHIRTOTO LOGIN

lahirtoto

imgstock

Hosting Gambar

Mengapa Kasino Online Semakin Sering Muncul dalam Percakapan di Media Sosial?

Kasino Digital dan Perubahan Cara Masyarakat Memahami Risiko Permainan

Menelusuri Pengaruh Konten Video Pendek terhadap Popularitas Kasino Online

Di Balik Tampilan Kasino Online, Ada Strategi Desain yang Memengaruhi Pengguna

Kasino Berbasis Internet dan Tantangan Membedakan Informasi dari Promosi

Bagaimana Kasino Digital Memanfaatkan Teknologi untuk Menjaga Aktivitas Pengguna?

Fenomena Kasino Online Memunculkan Perdebatan tentang Batas Hiburan Digital

Mengenali Pengaruh Notifikasi terhadap Kebiasaan Pengguna Kasino Online

Kasino Online dan Perubahan Persepsi Masyarakat terhadap Peluang Kemenangan

Ketika Kasino Digital Menjadi Topik Perbincangan dalam Literasi Media

Mengapa Informasi tentang Kasino Online Perlu Dilihat dari Berbagai Perspektif?

Perkembangan Kasino Berbasis Internet dan Tantangan Pengawasan Konten Digital

Kasino Online dalam Sorotan Psikologi Pengambilan Keputusan Pengguna

Memahami Bagaimana Promosi Kasino Digital Membentuk Harapan Pengguna Baru

Di Tengah Arus Informasi Digital, Kasino Online Menghadirkan Tantangan Baru

Menelusuri Hubungan Kasino Online dengan Perubahan Pola Konsumsi Konten

Kasino Digital dan Pentingnya Memahami Perbedaan Hiburan dengan Risiko Keuangan

Bagaimana Pengalaman Pengguna Membentuk Pandangan terhadap Kasino Berbasis Internet?

Fenomena Kasino Online Mengingatkan Pentingnya Sikap Kritis terhadap Konten Viral

Kasino Digital dalam Perbincangan tentang Tanggung Jawab Platform Internet

Kasino Online dan Fenomena Normalisasi Taruhan dalam Kehidupan Digital

Mengapa Transparansi Biaya Penting dalam Layanan Kasino Berbasis Internet?

Menelusuri Pengaruh Komunitas Virtual terhadap Pandangan tentang Kasino Online

Ketika Kasino Digital Menggunakan Sistem Hadiah, Bagaimana Pengaruhnya pada Pengguna?

Kasino Online dan Tantangan Memahami Informasi di Tengah Banjir Konten Digital

Bagaimana Kebiasaan Bermain pada Malam Hari Berkaitan dengan Risiko Kasino Online?

Kasino Digital dalam Sorotan Perlindungan Pengguna dari Praktik Manipulatif

Mengenali Perbedaan antara Keberuntungan Sesaat dan Peluang dalam Kasino Online

Kasino Online dan Peran Edukasi Keluarga dalam Membangun Kesadaran Risiko

Mengapa Kemudahan Registrasi Kasino Digital Perlu Diimbangi Perlindungan Identitas?