PenaKatolik.Com | Anak yang tangguh tidak terbentuk hanya melalui pendidikan di sekolah atau pola pengasuhan di rumah. Keduanya harus berjalan beriringan. Ketika orang tua dan guru saling menyalahkan, anak berisiko kehilangan arah. Sebaliknya, kerja sama yang dilandasi komunikasi dan tanggung jawab bersama dapat menjadi fondasi bagi anak untuk menghadapi tantangan kehidupan.
Gagasan tersebut menjadi salah satu penekanan Pater Pionius Hendi, OFMCap, dalam Seminar Parenting bertajuk “Membentuk Pribadi yang Memiliki Daya Juang” di Aula SD Plus Gembala Baik, Sabtu, 24 Oktober 2026, pukul 08.00–10.00 WIB.
Dalam materi yang dibawakannya, Pater Pio mengajak orang tua dan pendidik melihat pembentukan karakter sebagai tanggung jawab bersama. Anak tidak cukup hanya memperoleh perlindungan, fasilitas, dan nilai akademik yang baik. Mereka juga perlu belajar menghadapi kesulitan, mengakui kesalahan, menerima konsekuensi, serta berani memperbaiki keadaan.
Berbeda pendapat, satu tujuan
Orang tua dan guru pada dasarnya memiliki tujuan yang sama, yakni memberikan pendidikan terbaik bagi anak. Namun, perbedaan pandangan dapat muncul ketika anak mengalami masalah, baik dalam perilaku maupun pencapaian akademik.
Orang tua dapat merasa sekolah tidak memenuhi harapan mereka, sedangkan guru mungkin menilai orang tua terlalu mencampuri kewenangan pendidikan. Jika keadaan ini berujung pada saling menyalahkan, kepentingan anak justru terabaikan.
Dalam materi seminarnya, Pater Pio menegaskan, “Boleh beda pendapat, tetapi harus SATU tujuan yang sama!”
Penegasan tersebut mengingatkan bahwa perbedaan antara keluarga dan sekolah tidak harus berakhir dalam pertentangan. Orang tua dan guru dapat memiliki pendekatan yang berbeda, tetapi keduanya perlu mengarahkan keputusan pada perkembangan dan kepentingan terbaik anak.
Rumah merupakan sekolah pertama bagi anak, sementara sekolah menjadi rumah kedua tempat dia bertumbuh. Kedua lingkungan ini memiliki peran yang saling melengkapi dalam membentuk kebiasaan, karakter, kedisiplinan, dan tanggung jawab.
Pater Pio mengingatkan bahwa cara orang dewasa menyelesaikan konflik juga menjadi bagian dari pendidikan anak. Ketika orang tua langsung menyalahkan guru karena anak memperoleh nilai rendah, anak dapat belajar bahwa kegagalan selalu merupakan kesalahan orang lain.
Sebaliknya, ketika guru mempermalukan anak karena melakukan kesalahan, anak dapat merasa dirinya tidak berharga. Kedua pendekatan tersebut tidak membantu anak mengembangkan keberanian untuk menghadapi persoalan.
Anak justru perlu belajar mengakui kesalahan, menghadapi konsekuensi secara sehat, dan berusaha memperbaiki keadaan. Karena itu, orang tua dan guru perlu membangun budaya koreksi yang positif, tanpa mengabaikan martabat anak.

Pengasuhan yang membangun kemandirian
Tantangan pengasuhan saat ini tidak hanya berkaitan dengan prestasi akademik. Perkembangan teknologi, perubahan perilaku, dan pengaruh lingkungan sosial turut membentuk pengalaman anak.
Dalam materi seminar, Pater Pio menyoroti penggunaan gawai dan permainan digital yang berlebihan, paparan konten kekerasan dan pornografi, serta kemungkinan gangguan tidur dan kesulitan berkonsentrasi. Orang tua juga menghadapi persoalan ketika anak mudah bosan saat belajar, kehilangan motivasi, atau merasa cemas menghadapi ujian.
Pada saat yang sama, anak mulai mengembangkan keinginan untuk mandiri. Emosi yang belum stabil dapat membuat mereka mempertanyakan aturan atau menunjukkan sikap membangkang. Di lingkungan pergaulan, mereka juga berisiko mengalami perundungan (bullying) maupun tekanan untuk meniru perilaku teman sebaya.
Situasi tersebut membutuhkan pendampingan yang sabar sekaligus tegas. Orang tua perlu memberikan perlindungan dan batasan yang jelas, tetapi tidak selalu mengambil alih seluruh persoalan anak.
Salah satu gagasan penting yang disampaikan dalam materi Pater Pio ialah perubahan pola pengasuhan dari manja menuju berdaya. Anak perlu diberi kesempatan untuk berpikir, mencari jawaban, dan menemukan solusi melalui kemampuannya sendiri.
Orang tua tidak harus selalu memberikan jawaban ketika anak menghadapi masalah. Mereka dapat mengajukan pertanyaan yang membantu anak mempertimbangkan pilihan dan memahami konsekuensi dari keputusan yang diambil.
Demikian pula, tidak setiap kesulitan harus segera dihilangkan. Ada persoalan yang dapat menjadi kesempatan bagi anak untuk belajar bertahan, berusaha, dan mengembangkan mental pejuang, selama tantangan tersebut aman dan sesuai dengan tahap perkembangannya.
Penghargaan juga tidak semestinya hanya diberikan ketika anak memperoleh kemenangan atau nilai tinggi. Usaha, proses, keberanian mencoba, dan kesediaan bangkit setelah gagal merupakan bagian penting yang patut dihargai.
Ketangguhan tidak lahir dari kesempurnaan
Untuk menjelaskan proses pembentukan daya juang, materi seminar mengangkat perumpamaan tentang baja yang harus dilebur dengan api agar menjadi kuat.
“Baja harus dilebur dengan api agar menjadi kuat, manusia harus diuji dengan tantangan agar menjadi tangguh. Daya banting hanya bisa dinilai ketika dihadapkan dengan situasi yang paling sulit,” demikian kata Pater Pio.
Pesan tersebut menempatkan tantangan sebagai bagian dari proses pembentukan diri. Ketangguhan tidak dapat dinilai hanya ketika seseorang berada dalam situasi yang nyaman. Kemampuan menghadapi tekanan, belajar dari kegagalan, dan memperbaiki keadaan justru terlihat ketika persoalan datang.
Dalam materi yang sama, Pater Pio menyampaikan refleksi tentang masa-masa sulit.
“Masa-masa yang berat tidak dicipta untuk menetap, melainkan untuk membentuk. Mereka yang berani menjalaninya akan keluar bukan hanya sebagai pemenang, melainkan menjadi pribadi yang lebih matang, tangguh dan bijaksana.”
Anak perlu memahami bahwa kegagalan bukan akhir dari perjalanan. Ketika mengalami kesulitan, mereka membutuhkan pendampingan untuk mengenali apa yang terjadi, mengevaluasi tindakan, dan mencoba kembali dengan cara yang lebih baik.
Pembelajaran tersebut dapat dimulai dari kehidupan sehari-hari, seperti menyelesaikan tugas, menjalankan tanggung jawab, menepati janji, dan berani meminta maaf. Kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten dapat membentuk karakter yang kuat dalam jangka panjang.
Keberanian Daud menghadapi Goliat
Materi seminar juga mengangkat kisah Daud ketika menghadapi Goliat sebagaimana tertulis dalam 1 Samuel 17:48–49. Daud berani menghadapi lawan yang jauh lebih besar dengan mengandalkan keyakinannya kepada Tuhan dan menggunakan sarana yang dimilikinya.
Kitab Suci menggambarkan bagaimana Daud berlari menyongsong orang Filistin, mengambil sebuah batu dari kantungnya, lalu mengumbannya hingga mengenai dahi Goliat.
Kisah tersebut menghadirkan gambaran tentang keberanian untuk bertindak di tengah tantangan. Daud tidak membiarkan besarnya lawan membuatnya menyerah sebelum berjuang.
Dalam konteks pendidikan anak, keberanian semacam ini dapat ditumbuhkan dengan membantu anak mengenali kemampuan dirinya, berani mencoba, dan tidak langsung mundur ketika menghadapi persoalan yang sulit.
Materi Pater Pio juga menekankan bahwa keadaan awal seseorang tidak sepenuhnya menentukan identitas dan masa depannya.
“Investasi awal kita adalah warisan dari orang tua, namun identitas terakhir kita ditentukan oleh keputusan-keputusan yang kita ambil sendiri dengan berani,” demikian pesan yang tercantum dalam materi seminar.
Orang tua memberikan warisan berupa nilai, pendidikan, dan teladan. Namun, anak tetap perlu belajar mengambil keputusan sendiri seiring pertambahan usia, sekaligus memahami tanggung jawab yang menyertai setiap pilihan.
Karena itu, mempersiapkan masa depan anak tidak cukup dilakukan dengan menyediakan segala sesuatu bagi mereka. Orang tua juga perlu membekali anak dengan kemampuan untuk memperjuangkan masa depannya sendiri.
Komunikasi sebagai jalan keluar
Untuk membangun sinergi antara keluarga dan sekolah, materi Pater Pio menawarkan sejumlah langkah yang dapat diterapkan bersama.
Pertama, mengubah kebiasaan saling menyalahkan menjadi tanggung jawab bersama. Orang tua dan guru perlu memahami bahwa keduanya memiliki kewenangan berbeda, tetapi bekerja menuju tujuan pendidikan yang sama.
Kedua, mendengarkan sebelum menghakimi. Ketika persoalan muncul, setiap pihak perlu mengevaluasi fakta dan memahami situasi secara menyeluruh, bukan hanya mengandalkan laporan sepihak.
Ketiga, membangun komunikasi rutin. Pembicaraan antara orang tua dan guru sebaiknya tidak hanya berlangsung ketika anak mengalami masalah. Komunikasi perlu mencakup perkembangan anak, kesulitan yang dihadapi, serta langkah bersama yang dapat dilakukan.
Keempat, menyepakati pedoman pengasuhan dan pendidikan. Hal-hal seperti penggunaan gawai, komunikasi, perlindungan anak, kehadiran, pekerjaan rumah, dan penyelesaian konflik perlu dibicarakan agar anak mendapatkan arahan yang konsisten.
Kelima, membangun budaya koreksi yang positif. Menghormati guru bukan berarti guru tidak boleh dikritik, sebagaimana membela anak bukan berarti membenarkan seluruh perilakunya. Kritik dan koreksi tetap diperlukan, tetapi harus dilakukan dengan menghormati martabat setiap pihak.
Melalui komunikasi yang baik, keluarga dan sekolah dapat menjadi lingkungan yang saling menguatkan. Anak pun belajar bahwa persoalan dapat diselesaikan melalui dialog, kejujuran, dan tanggung jawab, bukan dengan menyalahkan orang lain.
Menanamkan nilai melalui teladan
Selain kerja sama antara rumah dan sekolah, Pater Pio mengajak orang tua membangun kebiasaan menghargai apa yang dimiliki dan tidak selalu menuntut terpenuhinya setiap keinginan.
“Orang yang bahagia bukanlah mereka yang selalu mendapatkan apa yang diharapkan, melainkan mereka mampu melihat rahmat dari apa yang diberikan. Sebab kedamaian lahir ketika penerimaan menjadi lebih kuat dari pada tuntutan.”
Pesan tersebut dapat diterapkan dalam pengasuhan melalui pembiasaan bersyukur, menghargai usaha orang lain, memahami perbedaan kebutuhan dan keinginan, serta belajar bersabar dalam mencapai sesuatu.
Anak juga perlu melihat keteladanan nyata dari orang dewasa. Nasihat mengenai kedisiplinan akan lebih bermakna ketika orang tua menjalankannya. Ajakan untuk bertanggung jawab akan lebih mudah dipahami ketika guru dan orang tua berani mengakui kesalahan mereka sendiri.
Pembentukan karakter dengan demikian tidak hanya berlangsung melalui perkataan, tetapi juga melalui tindakan yang disaksikan anak setiap hari.
Pater Pio turut menekankan pentingnya memperbaiki hal-hal kecil secara konsisten. Kebiasaan menyelesaikan tugas, menepati janji, mengakui kesalahan, dan menghormati orang lain dapat menjadi fondasi bagi pencapaian yang lebih besar.
Daya juang bukanlah sesuatu yang terbentuk dalam satu hari. Ia tumbuh melalui pengalaman, latihan, ketekunan, dan keberanian untuk kembali bangkit setelah menghadapi kegagalan.
Seminar parenting ini membawa pesan bahwa pendidikan anak merupakan perjalanan bersama. Orang tua memberikan kasih dan pendampingan, guru menyediakan lingkungan belajar, sedangkan anak perlu diberi kesempatan untuk bertumbuh menjadi pribadi yang mandiri.
Pada akhirnya, keberhasilan pendidikan tidak hanya terlihat dari nilai akademik atau banyaknya fasilitas yang diterima anak. Keberhasilan juga tercermin dalam kemampuan anak menghadapi kesulitan, bertanggung jawab atas pilihannya, menghargai orang lain, dan terus berusaha memperbaiki diri.
Anak yang berdaya bukanlah anak yang tidak pernah mengalami kegagalan, melainkan anak yang belajar menghadapi kegagalan dengan keberanian, dukungan, dan tanggung jawab. (Samuel)